Pertemuan Tak Terduga dengan Agen Rahasia Paling Ceroboh
Di sebuah apartemen kecil di kota yang tak pernah disebutkan namanya (karena, mari kita jujur, siapa yang peduli?), tinggallah seorang pria bernama Edwin Prawirakusuma, seorang introvert dengan IQ yang hampir memecahkan termometer kecerdasan. Edwin adalah definisi sempurna dari “cerdas tapi tidak punya kehidupan sosial.” Ia menghabiskan hari-harinya mengutak-atik algoritma AI, membaca buku filsafat yang bahkan penulisnya sendiri mungkin belum selesai, dan berbicara kepada tanaman hiasnya, Fernando, yang tampaknya lebih memahami logika daripada kebanyakan manusia.
Namun, semua berubah pada suatu hari yang, dalam retrospeksi, Edwin pasti berharap tidak pernah terjadi.
Pukul 10 pagi tepat, Edwin sedang memecahkan persamaan matematika yang, jika berhasil, bisa membuatnya memenangkan hadiah Nobel sekaligus dilarang masuk ke kasino mana pun di dunia. Tiba-tiba, pintu apartemennya dibuka dengan kasar, dan seorang pria berkemeja Hawaii dengan motif nanas—ya, motif nanas—menerobos masuk.
“Selamat pagi, Tuan Prawirakusuma! Saya dari Biro Rahasia Nasional. Sebelum Anda bertanya, ya, ini memang rahasia, jadi tolong jangan ceritakan siapa pun!” Pria itu, yang memperkenalkan dirinya sebagai Agen Guntur, berbicara seperti seorang salesman yang mencoba menjual blender yang bisa mengasah pensil.
Edwin hanya memandangnya dengan mata tanpa emosi, lalu bertanya, “Bagaimana Anda bisa masuk ke apartemen saya?”
“Oh, itu? Kunci Anda ada di bawah pot tanaman Anda. Saran saya, Anda harus menggantinya. Itu terlalu klise!” jawab Guntur sambil tersenyum lebar.
Edwin menghela napas panjang. “Lalu, apa yang Anda inginkan?”
“Begini, Tuan Prawirakusuma. Kami membutuhkan bantuan Anda!”
“Bantuan apa?”
“Bantuan yang sangat penting! Dunia bisa jadi dalam bahaya!”
Edwin menatap pria itu dengan ekspresi yang bisa membuat patung merasa tidak nyaman. “Jika dunia benar-benar dalam bahaya, mengapa Anda mendatangi saya, seorang pria yang bahkan tidak keluar rumah untuk membeli roti?”
Guntur terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Karena Anda adalah satu-satunya orang yang cukup cerdas untuk membantu kami menyelesaikan ini!”
Edwin tidak percaya. “Apa sebenarnya ‘ini’?”
Guntur membuka sebuah tablet dan menunjukkan foto sesuatu yang tampak seperti seekor kucing dengan ekspresi yang sangat marah. “Kucing ini telah mencuri dokumen rahasia negara. Kami butuh seseorang yang bisa melacaknya.”
Edwin menatap layar tersebut, lalu kembali menatap Guntur. “Anda bercanda, kan?”
“Tidak, Tuan Prawirakusuma. Ini serius. Kucing ini adalah agen ganda dari sebuah organisasi kriminal. Kami menyebutnya Operasi Meowth.”
Edwin Pencipta Alter Ego yang Tidak Sengaja
Setelah beberapa detik penuh keheningan yang canggung, Edwin akhirnya menyerah. “Baiklah. Tapi saya tidak akan keluar rumah. Saya hanya akan membantu dari sini.”
“Bagus! Tapi itu artinya Anda membutuhkan identitas baru,” kata Guntur penuh semangat.
“Apa maksud Anda?”
“Alter ego, Tuan Prawirakusuma! Anda tidak bisa hanya menjadi diri Anda sendiri. Itu terlalu membosankan! Anda butuh nama, pakaian keren, dan persona yang bisa membuat musuh takut setengah mati!”
Edwin mengangkat alisnya. “Kalau begitu, saya adalah… Dr. Logika.”
“Dr. Logika? Itu keren sekali! Anda bahkan sudah terdengar seperti supervillain!”
“Bukan supervillain.” Edwin mendesah. “Hanya seorang pria yang sangat bosan.”
Dengan bantuan Guntur, Edwin menciptakan identitas alter egonya. Dr. Logika adalah seorang jenius misterius yang mampu memecahkan teka-teki paling rumit hanya dengan mendengarkan desahan frustrasi orang lain. Edwin bahkan mengenakan jas lab putih dan kacamata hitam, meskipun ia harus mengakui bahwa kacamata hitam itu membuatnya sulit membaca layar komputer.
Operasi Meowth yang Absurd
Dengan alter egonya yang baru, Edwin mulai bekerja. Ia memanfaatkan jaringan internet apartemennya untuk mengakses satelit, mengintip database rahasia, dan bahkan melacak pergerakan kucing melalui pola makanannya.
“Menurut data ini,” Edwin berkata, “kucing itu terakhir terlihat di sebuah toko ikan di pinggir kota.”
“Tunggu, bagaimana Anda tahu itu?” tanya Guntur.
“Saya memeriksa transaksi pembelian ikan mentah dari toko tersebut dalam dua jam terakhir. Hanya ada satu pelanggan yang membeli ikan dalam jumlah besar, dan itu sesuai dengan deskripsi kucing Anda.”
Guntur ternganga. “Anda luar biasa, Dr. Logika!”
“Tidak, saya hanya punya terlalu banyak waktu luang.”
Namun, hal-hal menjadi semakin kacau ketika mereka akhirnya menangkap kucing tersebut. Ternyata, dokumen rahasia yang dimaksud hanyalah daftar pesanan pizza dari kantor Biro Rahasia Nasional.
“Jadi, ini semua hanya kesalahan administrasi?” Edwin bertanya dengan nada datar.
“Yah, begitulah,” jawab Guntur sambil tertawa canggung. “Tapi hei, setidaknya kita menangkap kucingnya!”
Edwin menatap Guntur dengan ekspresi yang sulit diartikan. “Anda tahu, saya rasa saya harus mengganti nama saya menjadi Dr. Kesabaran.”
Epilog
Setelah kejadian itu, Edwin berharap bisa kembali ke kehidupannya yang tenang dan terisolasi. Tapi sayangnya, Guntur terus muncul di pintunya setiap minggu dengan misi baru yang sama absurdnya.
Dan meskipun Edwin tidak mau mengakuinya, ia mulai menikmati perannya sebagai Dr. Logika. Lagipula, siapa yang tidak mau menjadi alter ego jenius yang bisa menyelesaikan masalah dunia dari kenyamanan sofa mereka?
Prompt untuk DALL-E: “A genius introvert man in a small apartment, wearing a white lab coat and sunglasses, surrounded by computers and a mischievous cat stealing documents, with a comical secret agent in a Hawaiian shirt holding a tablet.”

