Awal yang Mengkilap dan Sedikit Memalukan
Di sebuah kota kecil yang dikenal dengan nama Cerapeka, terdapat sebuah pasar tradisional yang sangat terkenal dengan kacang gorengnya. Kacang ini digoreng dengan wajan raksasa yang, menurut legenda lokal, terbuat dari “logam ajaib yang tak pernah berkarat.” Wajan ini sudah digunakan selama tiga generasi oleh keluarga penggoreng kacang terkemuka, keluarga Darsono.
Namun, suatu hari yang cerah, seorang pria bernama Togar—yang baru saja menyelesaikan kursus online kimia dasar dan sangat bersemangat untuk memamerkan pengetahuannya—muncul di pasar dengan misi besar: membuktikan bahwa wajan raksasa itu tidak ajaib, hanya ilmiah.
Togar, dengan kacamata tebal dan buku catatan kecil di tangan, berlari ke stan kacang goreng sambil berteriak, “Saya tahu logam ini! Ini bukan ajaib, ini Aluminium!”
Orang-orang di pasar menatapnya seperti dia baru saja mengumumkan bahwa dia adalah sepupu jauh dari seekor ayam. Tetapi Togar, tanpa peduli, mulai memberi ceramah kepada semua orang yang mau mendengar (dan beberapa yang tidak mau).
Kuliah Kimia Gratis (atau Paksaan)
“Aluminium itu logam yang luar biasa,” kata Togar, sambil mengetuk-ngetuk wajan raksasa dengan tongkat kayu yang entah dari mana ia dapatkan. “Ini ringan, tidak mudah berkarat karena membentuk lapisan oksida pelindung, dan—oh, yang paling penting—mudah dibentuk menjadi wajan raksasa seperti ini!”
Ibu Darsono, pemilik stan kacang goreng, menatap Togar dengan tatapan datar. “Jadi, kamu mau beli kacang atau cuma mau ngoceh?”
Togar tidak terpengaruh. Dia melanjutkan, “Tahukah Anda, Bu, bahwa Aluminium itu unsur nomor 13 di tabel periodik? Simbolnya Al. Dan meskipun sangat melimpah di kerak bumi, ia tidak ditemukan dalam bentuk murni di alam karena terlalu reaktif?”
Ibu Darsono menghela napas panjang. “Mas, kacang ini juga reaktif. Reaktif dengan perut orang lapar. Jadi kalau nggak beli, minggir.”
Tapi Togar tetap bergeming. “Bu, ini penting! Aluminium juga sangat serbaguna. Bisa digunakan untuk pesawat terbang, kaleng minuman, bahkan—” dia melirik ke wajan, “sebagai alat masak yang luar biasa efisien.”
Seorang anak kecil di dekatnya bertanya, “Om, kalau udah tau wajan ini dari Aluminium, terus kenapa?”
Togar terhenti sejenak. “Hmm, itu pertanyaan bagus, Nak. Jawabannya adalah… saya tidak tahu. Saya hanya ingin semua orang tahu.”
Twist yang Tidak Terduga
Ketika Togar sibuk menjelaskan bagaimana Aluminium diekstraksi dari bauksit melalui proses Bayer, sesuatu yang aneh terjadi. Wajan raksasa itu tiba-tiba mulai bergetar. Awalnya pelan, lalu semakin kencang. Orang-orang di pasar mulai panik.
“Wajan ajaibnya marah!” teriak seorang pedagang sayur, menjatuhkan tomat-tomatnya ke tanah.
Togar, yang tentu saja tidak percaya pada hal-hal mistis, mendekati wajan sambil berkata, “Tenang, ini pasti ada penjelasan ilmiahnya. Mungkin resonansi frekuensi atau efek termal pada struktur Aluminium.”
Namun, sebelum dia sempat menyentuh wajan, sebuah suara berat dan menggema terdengar dari dalamnya. “SUDAH CUKUP! AKU BOSAN DIGUNAKAN UNTUK KACANG!”
Semua orang membeku. Bahkan Ibu Darsono, yang dikenal sebagai orang paling skeptis di kota, menjatuhkan spatulanya.
Togar, dengan ekspresi antara takut dan penasaran, berkata, “Wajan… bisa bicara?”
“YA,” jawab wajan itu dengan nada yang sedikit kesal. “AKU SUDAH TIGA GENERASI DIGUNAKAN UNTUK MENGGORENG KACANG. AKU PUNYA POTENSI LEBIH! AKU INGIN DIJADIKAN… PESAWAT TERBANG! ATAU SETIDAKNYA KALENG MINUMAN SODA!”
Togar, yang tiba-tiba merasa mendapatkan panggung yang lebih besar, berkata, “Ini luar biasa! Ini bisa jadi penemuan ilmiah terbesar abad ini! Sebuah wajan Aluminium dengan kemampuan berbicara! Tapi, tunggu, bagaimana ini mungkin? Aluminium bukan bahan yang dikenal memiliki sifat piezoelektrik atau resonansi suara…” Dia mulai mencatat sesuatu di buku catatannya.
Ibu Darsono, bagaimanapun, hanya ingin kacangnya matang. “Mas Togar, bisa nggak ini diselesaikan cepat? Kalau nggak ada kacang, nggak ada pelanggan.”
Solusi yang ‘Brilian’
Akhirnya, setelah negosiasi panjang yang melibatkan banyak dialog lucu dan absurditas, wajan itu setuju untuk melanjutkan tugasnya sebagai alat penggoreng kacang—dengan syarat ia akan diberi waktu libur seminggu setiap tahunnya untuk “mencari jati diri.” Togar, yang merasa telah membuat kontribusi besar bagi ilmu pengetahuan, diangkat menjadi penasihat teknis tidak resmi untuk keluarga Darsono.
Dan begitulah, pasar Cerapeka kembali damai, dengan wajan Aluminium yang bahagia, kacang goreng yang lezat, dan Togar yang terus memberikan ceramah kimia dadakan kepada siapa saja yang tidak cukup cepat melarikan diri.
Ilustration: “A talking giant frying pan made of aluminum arguing with a nerdy chemist wearing glasses, surrounded by confused market vendors and scattered peanuts.”

