Ide Luar Biasa yang Tidak Begitu Luar Biasa
Segala sesuatu dimulai pada suatu pagi yang biasa di ruang tamu Pak Bejo, seorang mantan teknisi radio yang sekarang menghabiskan waktunya dengan mencoba memperbaiki barang-barang yang tidak pernah benar-benar rusak. Kali ini, dia sedang mencoba “meningkatkan” fungsi blender miliknya sehingga bisa memutar lagu dangdut sambil membuat jus. Namun, entah bagaimana, eksperimennya menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada hanya smoothie berirama.
Saat Pak Bejo mencoba memutar kabel blender ke arah yang seharusnya tidak ada kabelnya sama sekali, suara aneh bergema. Itu bukan suara blender. Itu suara bayi—lebih tepatnya, tangisan cucunya yang baru lahir, Budi, yang berada di kamar sebelah. Tapi anehnya, suara tangisan itu terdengar seperti… kata-kata?
“PANAS! SUSU PANAS! APA KAU BERNIAT MEMBAKARKU, IBU?” suara itu menggema dari speaker kecil blender tersebut.
Pak Bejo, yang biasanya hanya takut pada tagihan listrik, kini benar-benar kebingungan. “Astaga, ini blender atau medium spiritual?” pikirnya.
Cucu perempuannya, Siti, yang baru masuk ruangan dengan membawa botol susu, tampak bingung. “Pak Bejo, kenapa blendernya ngomong kayak bayi marah-marah?”
Maka, dimulailah era baru dalam hidup Pak Bejo. Dengan sedikit penyesuaian teknis, blender itu kini mampu menerjemahkan bahasa bayi ke dalam bahasa manusia. Dan, tanpa direncanakan, lahirlah sebuah perusahaan baru: “Jasa Penerjemah Bahasa Bayi Bejo—Karena Dunia Dewasa Perlu Tahu Apa yang Dipikirkan Bayi.”
Manusia Dewasa yang Kurang Siap
Dua minggu setelah pembukaan jasa ini, antrean mulai mengular di halaman rumah Pak Bejo. Orang tua dari berbagai penjuru kota datang dengan bayi mereka, berharap mendapatkan wawasan tentang tangisan dan ocehan kecil yang sebelumnya hanya dianggap sebagai suara acak.
“Jadi, bayi saya ini kenapa ya, Pak Bejo?” tanya seorang ibu muda dengan wajah penuh harap, sambil menggendong bayinya yang berusia enam bulan.
Pak Bejo memasang alat penerjemahnya, yang sekarang berbentuk seperti headset Bluetooth, ke dekat bayi tersebut. Dalam beberapa detik, suara bayi yang biasanya hanya berbunyi “waaah!” kini berubah menjadi kalimat lengkap: “Ibu, kenapa kau selalu memberikan aku wortel? Aku benci wortel. Aku ingin steak medium well dengan kentang tumbuk!”
Ibu itu tertegun. “Tapi… tapi dia baru punya dua gigi!”
“Ya, Bu,” kata Pak Bejo sambil mengangkat bahu, “tampaknya lidah bayi lebih canggih daripada yang kita kira.”
Di sudut lain, seorang ayah muda mencoba menghibur bayinya yang menangis tanpa henti. Setelah alat penerjemah dipasang, bayi itu mulai berbicara dengan nada yang terdengar seperti pengacara frustrasi. “Ayah, kenapa kau memakaikan aku kaos dengan tulisan ‘Ayahku Hebat’? Padahal kau bahkan lupa mengganti popokku pagi ini. Ironi, bukan?”
Ayah itu meringis, sementara Pak Bejo mencatat dalam buku kecilnya: “Bayi cenderung lebih jujur daripada orang dewasa. Bisa jadi masalah besar.”
Efek Samping Sosial dan Ekonomi
Namun, tidak semua orang senang dengan inovasi ini. Sebuah asosiasi ibu-ibu arisan lokal menggelar protes di balai desa, menyatakan bahwa penerjemahan bahasa bayi adalah pelanggaran terhadap privasi keluarga. “Bayangkan jika bayimu mengatakan sesuatu yang memalukan tentangmu, lalu semua orang tahu!” kata Bu Ratmi, ketua asosiasi.
Di sisi lain, para bayi mulai tampak lebih percaya diri. Tidak lama setelah layanan ini diperkenalkan, seorang bayi bernama Tono mengajukan petisi melalui headset penerjemah, meminta agar popok kain kembali digunakan karena “lebih ramah lingkungan.” Ini memicu diskusi panjang di media sosial, dengan tagar seperti #HakBayi dan #PopokUntukPlanet menjadi trending.
Seorang bayi lain, Lala, bahkan mulai memberikan “ceramah” kepada keluarganya tentang pentingnya tidur siang yang konsisten. “Kalian pikir aku menangis tanpa alasan? Tidak! Aku hanya butuh jadwal yang teratur, itu saja!” katanya melalui alat penerjemah.
Kegagalan yang Manis
Namun, seperti semua inovasi besar, jasa penerjemah ini tidak berjalan mulus selamanya. Pada suatu hari yang panas, blender asli yang menjadi fondasi alat ini tiba-tiba meledak saat sedang menerjemahkan ocehan bayi kembar yang berbicara secara bersamaan. Hasilnya, alat penerjemah mulai mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidak masuk akal seperti, “Aku suka keju, tapi hanya jika warnanya biru,” dan, “Mengapa angsa tidak pernah belajar salsa?”
Pak Bejo mencoba memperbaikinya, tapi alat itu tampaknya terlalu rumit untuk direset. Akhirnya, dia mengumumkan bahwa layanan penerjemah bahasa bayi harus dihentikan sementara.
“Tapi bagaimana kami bisa memahami bayi kami lagi?” tanya seorang pelanggan setia.
Pak Bejo hanya tersenyum. “Kadang-kadang, mungkin kita tidak perlu memahami semuanya secara harfiah. Bayi itu seperti puisi; sebagian besar tidak masuk akal, tapi indah untuk didengarkan.”
Pelajaran dari Blender Ajaib
Hari-hari berlalu, dan dunia kembali ke cara tradisional memahami bayi: dengan tebak-tebakan, intuisi, dan sedikit keberuntungan. Tapi, bagi mereka yang sempat merasakan jasa Pak Bejo, pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam.
Seorang ibu berkata, “Mungkin aku tidak tahu pasti apa yang diinginkan bayi saya sekarang. Tapi setidaknya, saya belajar untuk mendengarkannya dengan lebih baik.”
Dan di sudut lain ruang tamu, Pak Bejo kembali dengan eksperimennya—kali ini mencoba membuat kipas angin yang juga bisa menggoreng tempe. Blender penerjemahnya mungkin sudah pensiun, tapi satu hal yang pasti: dunia tidak akan pernah melupakan hari ketika bayi akhirnya bisa bicara.
Illustration: “A quirky inventor in a cluttered living room surrounded by parents and crying babies, holding a blender-turned-baby-translator. The scene is whimsical, filled with colorful baby toys and absurd gadgetry.”

