Tempat yang Menguji Ide Gila (dan Kadang-Kadang Membuat Sandwich)

Tempat yang Menguji Ide Gila (dan Kadang-Kadang Membuat Sandwich)

Bab 1: Selamat Datang di Laboratorium Eksperimen Otak

Di sebuah bangunan besar yang terlihat seperti hasil kawin silang antara mesin kopi raksasa dan cangkang kerang, berdirilah Laboratorium Eksperimen Otak. Tempat ini adalah sebuah keajaiban arsitektur yang dirancang oleh seorang desainer yang mengaku mendapatkan inspirasi dari “penutup termos yang hilang”. Bangunan itu, dengan segala keanehannya, adalah tempat di mana ide-ide liar diuji, dihancurkan, dibangun ulang, lalu dihancurkan lagi—karena, menurut kepala laboratorium, “Kegagalan adalah seperti teh basi: Anda tidak menikmatinya, tetapi setidaknya itu membuat Anda sadar pentingnya teh segar.”

Seorang ilmuwan bernama Dr. Rukmini Blunderbuss, yang terkenal karena penemuannya yang tidak sengaja menciptakan pisau roti otomatis yang juga bisa memutar lagu ABBA, bertugas di sini. Bersama timnya yang terdiri dari orang-orang yang, tampaknya, semua memiliki gelar PhD dalam sesuatu yang tidak pernah terdengar sebelumnya (seperti “Teori Perilaku Molekul dalam Kehadiran Pizza”), mereka menjalankan eksperimen eksentrik yang sering kali lebih menyerupai pesta ulang tahun orang gila.

“Kita butuh ide baru!” seru Dr. Blunderbuss suatu pagi, sambil memegang secangkir kopi yang terlihat seperti sedang mempertimbangkan untuk kabur dari tangannya.

“Bagaimana kalau kita mencoba menciptakan alat yang bisa membaca pikiran?” jawab salah satu asistennya, Kiki, yang memiliki kebiasaan menjawab pertanyaan sepenting itu sambil memainkan rubik berbentuk segitiga.

“Alat membaca pikiran? Tidak cukup eksperimental! Bagaimana kalau kita menciptakan alat yang bisa membaca pikiran orang yang bahkan belum berpikir?” balas Dr. Blunderbuss, matanya memantul seperti lampu disko.

“Tapi itu mustahil,” kata Ted, seorang teknisi yang terkenal karena selalu membawa obeng ke mana-mana, bahkan saat tidur.

“Dan di situlah letak keindahannya, Ted! Jika itu mustahil, maka kita harus melakukannya! Kalau kita hanya melakukan hal-hal yang mungkin, kita akan berubah menjadi birokrasi!”

Ted tidak yakin bagaimana birokrasi terlibat, tetapi dia cukup bijak untuk tidak mempertanyakan logika Dr. Blunderbuss, yang sering kali lebih berliku daripada jalan pegunungan.

Bab 2: Eksperimen Dimulai (Dan Hampir Segera Gagal)

Laboratorium pun menjadi sarang aktivitas. Segala sesuatu dari kabel hingga marshmallow digunakan untuk membangun prototipe alat pembaca pikiran pra-pemikiran itu. Setelah tiga hari penuh kegaduhan yang melibatkan suara ledakan kecil (dan terkadang besar), mereka berhasil menciptakan sesuatu yang terlihat seperti toaster—tetapi dengan antena.

“Dan ini, teman-teman,” kata Dr. Blunderbuss dengan bangga, “adalah Prototipe-1! Alat ini tidak hanya akan membaca pikiran sebelum orang memikirkannya, tetapi juga akan membuat roti panggang yang sempurna!”

“Tapi kenapa harus membuat roti panggang?” tanya Kiki, yang mulai curiga bahwa Dr. Blunderbuss memiliki obsesi rahasia terhadap karbohidrat.

“Karena, Kiki, jika alat ini gagal membaca pikiran, setidaknya kita bisa sarapan!” jawab Dr. Blunderbuss dengan nada yang membuatnya terdengar seperti itu adalah kebenaran universal yang tak terbantahkan.

Mereka menguji Prototipe-1 pada seekor tikus laboratorium bernama Maurice, yang tampaknya lebih tertarik pada sepotong keju di sudut ruangan daripada pada sains revolusioner. Hasilnya? Maurice mendapatkan roti panggang yang sangat renyah, tetapi tidak ada tanda-tanda pembacaan pikiran.

“Baiklah,” kata Dr. Blunderbuss sambil mengusap dagunya, “mungkin Maurice tidak memiliki pikiran yang cukup menarik untuk dibaca. Kita butuh subjek yang lebih kompleks!”

“Saya rasa kita harus mencobanya pada manusia,” kata Ted, yang segera menyadari bahwa dia baru saja secara tidak sengaja mendaftarkan dirinya sebagai sukarelawan.

Bab 3: Ketika Pikiran Jadi Roti Panggang

Ted, dengan enggan, duduk di kursi eksperimen, sementara Prototipe-2 (sekarang dengan tambahan lampu warna-warni, karena Kiki bersikeras bahwa “ilmiah” harus juga “modis”) dipasang di kepalanya.

“Baiklah, Ted,” kata Dr. Blunderbuss, “pikirkan sesuatu yang belum pernah terpikirkan sebelumnya!”

“Itu tidak masuk akal!” protes Ted. Tapi sebelum dia bisa melanjutkan, mesin menyala dengan suara yang menyerupai blender yang sedang mencoba bernyanyi opera.

Tiba-tiba, sebuah cetakan roti panggang keluar dari mesin, dengan tulisan “Aku lupa membeli susu” terukir di permukaannya.

“Maksudmu… mesin ini tidak membaca pikiran sebelum dipikirkan, tapi malah mencetak pikiran yang tidak sengaja dia pikirkan?” tanya Kiki, dengan ekspresi yang berada di antara kagum dan lapar.

“Luar biasa!” seru Dr. Blunderbuss. “Kita telah menciptakan alat pengungkap pikiran bawah sadar berbasis roti panggang! Bayangkan implikasinya! Psikolog di seluruh dunia akan membayar mahal untuk ini!”

“Tapi ini tidak membantu inovasi seperti yang kita rencanakan,” protes Ted, sambil memakan roti panggang yang, harus diakui, cukup enak.

“Tidak, Ted. Tapi kita telah membuktikan satu hal: bahkan kegagalan adalah bentuk inovasi, selama ada roti panggang yang terlibat!”

Bab 4: Akhir yang Bahagia (Atau Setidaknya, Mengenyangkan)

Laboratorium Eksperimen Otak mungkin tidak menciptakan alat pembaca pikiran pra-pemikiran, tetapi mereka menciptakan sesuatu yang lebih penting: teknologi yang membuat sarapan lebih menarik. Dan jika ada pelajaran yang bisa kita ambil dari Dr. Blunderbuss dan timnya, itu adalah bahwa inovasi tidak selalu datang dalam bentuk yang Anda harapkan—kadang-kadang, ia datang dalam bentuk roti panggang dengan pesan tersembunyi.

Dan siapa yang tahu? Mungkin, di masa depan, roti panggang ini akan menjadi awal dari revolusi komunikasi baru. Atau mungkin hanya akan menjadi sarapan yang sangat cerdas. Bagaimanapun juga, di Laboratorium Eksperimen Otak, semuanya mungkin. Bahkan, mungkin ada eksperimen berikutnya yang melibatkan kue tart dan telepati.


Prompt DALL-E (English): A whimsical scientific laboratory filled with eccentric machines, a quirky scientist holding a toaster-like device with colorful antennas, and a group of people laughing as a piece of toast with “Forgot to buy milk” written on it pops out.