Mitos Orpheus
psikologi duka dan ketidakmampuan manusia menahan rasa ingin tahu
Bayangkan kita diberi sebuah kotak dengan satu tombol merah di atasnya. Di sebelahnya ada tulisan besar: Jangan Ditekan. Apa yang terjadi di kepala kita? Pikiran kita perlahan akan terus tertuju pada tombol itu. Rasa penasaran yang awalnya kecil, lama-lama berubah menjadi siksaan mental. Ini bukan sekadar iseng, teman-teman. Ini adalah kelemahan bawaan biologi manusia. Ribuan tahun lalu, orang Yunani kuno sudah sangat memahami fenomena psikologis ini dan mengabadikannya dalam salah satu kisah paling tragis yang pernah diceritakan: mitos Orpheus dan Eurydice. Sang musisi legendaris berhasil menembus dunia bawah demi menyelamatkan istrinya yang mati. Sang dewa kematian, Hades, akhirnya membiarkan mereka pergi dengan satu syarat mutlak. Orpheus tidak boleh menoleh ke belakang untuk melihat istrinya, sampai mereka benar-benar keluar dari dunia bawah. Kedengarannya gampang, bukan? Tapi di detik-detik terakhir, tepat sebelum cahaya matahari menyentuh wajah mereka, Orpheus menoleh. Semuanya hancur. Istrinya ditarik kembali ke neraka selamanya. Pertanyaannya: kenapa dia melakukan hal sebodoh itu?
Untuk memahami keputusan fatal Orpheus, kita harus memahami bagaimana otak kita bekerja saat sedang hancur lebur. Bayangkan posisi Orpheus saat itu. Dia sedang berada di titik nadir penderitaan akibat duka yang sangat mendalam. Dalam kacamata psikologi modern, duka bukanlah sekadar perasaan sedih belaka. Duka adalah trauma neurologis. Saat kita kehilangan seseorang yang sangat berarti, otak kita mengalami semacam withdrawal symptom atau sakau, persis seperti orang yang kecanduan zat adiktif. Hormon penenang merosot tajam, digantikan oleh banjir hormon stres seperti kortisol. Dalam kondisi mabuk stres semacam ini, rasionalitas kita mati. Perjalanan Orpheus keluar dari dunia bawah yang gelap gulita sebenarnya adalah metafora yang luar biasa akurat untuk proses berduka itu sendiri. Langkah demi langkah, Orpheus hanya mendengar keheningan. Tidak ada suara langkah kaki istrinya di belakangnya. Apakah Hades menipunya? Apakah Eurydice benar-benar ada di sana? Perlahan tapi pasti, pertanyaan-pertanyaan ini mulai menggerogoti kewarasannya.
Mari kita bedah lebih dalam secara ilmiah. Ada dua hal mengerikan yang sedang bertarung di dalam kepala Orpheus pada momen itu. Pertama adalah apa yang dalam psikologi disebut sebagai psychological reactance. Ini adalah respons perlawanan dari otak saat kita merasa kebebasan kita dibatasi. Ketika Hades berkata "jangan menoleh", otak Orpheus justru menandai larangan tersebut sebagai ancaman terhadap kendali dirinya. Kedua, dan yang paling mematikan, adalah intolerance of uncertainty atau ketidaktahanan terhadap ketidakpastian. Otak manusia purba kita berevolusi untuk sangat membenci hal-hal yang tidak pasti. Di alam liar, ketidakpastian seringkali berarti bahaya fatal. Alhasil, otak kita seringkali lebih memilih kenyataan yang buruk daripada tidak tahu sama sekali. Selama perjalanan panjang itu, amygdala—pusat rasa takut di otak Orpheus—terus membunyikan alarm kepanikan. "Bagaimana kalau dia tidak ada di belakangmu?" jerit alarm itu. "Coba pastikan. Cukup satu lirikan kecil." Kita sering dengan mudahnya menghakimi Orpheus saat membaca cerita ini. Tapi jujur saja, mampukah kita berjalan dalam kegelapan berjam-jam tanpa kepastian sedikit pun?
Di sinilah letak ironi terbesar dan plot twist paling menyedihkan dari mitos ini. Orpheus menoleh ke belakang bukan karena dia bodoh, lemah, atau kurang mencintai istrinya. Justru sebaliknya. Dia menoleh karena sistem sarafnya tidak sanggup lagi menahan siksaan ketidakpastian. Penjelasan neurosains menunjukkan bahwa saat kita berada dalam puncak kecemasan (anxiety), prefrontal cortex kita—bagian otak yang bertugas berpikir logis, menahan diri, dan mengingat aturan—berhenti berfungsi sepenuhnya. Kita dibajak dan bergerak murni berdasarkan insting primitif untuk mencari rasa aman seketika. Bagi Orpheus, rasa aman itu adalah melihat wajah Eurydice secara langsung. Menoleh ke belakang adalah usaha putus asa dari sebuah otak yang sedang trauma parah untuk memvalidasi realitas. Dia butuh bukti fisik bahwa harapannya benar-benar nyata, bukan sekadar ilusi. Sayangnya, aturan dunia bawah tidak peduli pada sistem kerja biologi manusia. Begitu otak Orpheus berhasil memastikan istrinya ada, di detik itu pula istrinya lenyap selamanya. Ketidakmampuan menahan rasa penasaran itu nyatanya adalah insting bertahan hidup biologis yang muncul di waktu yang salah.
Mitos Orpheus bukanlah sekadar dongeng usang tentang dewa-dewi Yunani. Kisah ini adalah cermin dari kelemahan paling manusiawi yang terus kita ulangi hingga hari ini. Berapa kali teman-teman dan saya berada di posisi yang persis sama? Mungkin saat kita berulang kali mengecek media sosial mantan setelah putus, meski tahu persis itu hanya akan menyakiti kita. Atau saat kita terus mengorek dan mempertanyakan sebuah masalah yang sebenarnya sudah dimaafkan, hanya karena rasa penasaran dan kecemasan yang tidak terbendung, sampai akhirnya hubungan kita sungguhan hancur. Kita semua memiliki momen Orpheus kita masing-masing. Terkadang, kombinasi antara duka dan kebutuhan absolut akan kepastian membuat kita mensabotase diri kita sendiri. Namun, dari tragedi ini kita bisa belajar satu hal yang esensial. Untuk bisa keluar dari kegelapan masa lalu dan menyembuhkan luka, kita dituntut melakukan sesuatu yang sangat berlawanan dengan insting biologis kita. Kita butuh keyakinan yang radikal. Kita harus terus melangkah ke depan, menahan godaan mati-matian untuk terus menengok ke belakang, dan percaya bahwa cahaya terang pada akhirnya akan menyambut kita di ujung jalan sana.