stoikisme dan tantangan fisik

mengapa kedinginan atau kelaparan bisa melatih jiwa

stoikisme dan tantangan fisik
I

Bayangkan sebuah pagi yang hujan. Kasur terasa begitu hangat dan selimut memeluk kita terlalu erat. Mayoritas dari kita pasti memilih untuk menarik selimut lebih ke atas. Tapi, ada sekelompok orang aneh di luar sana yang justru bangun, lalu sengaja mandi air es. Atau mereka yang memilih untuk tidak makan seharian penuh, padahal isi kulkas sedang berlimpah. Pernahkah kita bertanya-tanya, untuk apa menyiksa diri seperti itu? Apakah mereka sekadar ikut-ikutan tren media sosial semata? Atau, jangan-jangan ada rahasia besar yang sedang mereka retas dari biologi tubuh kita sendiri? Mari kita bedah pelan-pelan.

II

Ternyata, praktik menyengsarakan diri secara sengaja ini bukanlah barang baru. Ribuan tahun lalu, jauh sebelum ada tren mandi es atau intermittent fasting, para filsuf kuno sudah melakukannya secara rutin. Teman-teman mungkin pernah mendengar tentang Stoikisme. Salah satu tokoh besarnya, Seneca, yang notabene adalah penasihat kaisar dan orang super kaya di Roma, memiliki kebiasaan yang unik. Sekali sebulan, ia memakai pakaian compang-camping dan hanya makan roti keras. Marcus Aurelius, sang kaisar penguasa separuh dunia, sering memilih tidur di lantai batu yang dingin. Dalam psikologi dan sejarah, praktik ini dikenal sebagai voluntary hardship atau penderitaan sukarela. Tujuannya sederhana: melatih jiwa agar tidak disandera oleh kenyamanan. Namun, rasanya tidak mungkin mereka melakukan ini hanya demi pamer kekuatan mental. Pasti ada sesuatu yang terjadi di dalam otak dan tubuh mereka saat rasa dingin atau lapar itu menyerang.

III

Masalah terbesar manusia modern saat ini adalah kita hidup terlalu nyaman. Suhu ruangan bisa diatur dengan remote. Makanan datang hanya dengan sentuhan jari di layar smartphone. Tapi anehnya, mengapa tingkat depresi dan kecemasan kita justru berada di titik tertinggi sepanjang sejarah? Di sinilah sains mulai menjawab pertanyaan tersebut. Tubuh kita berevolusi untuk bertahan hidup dalam kondisi ekstrem, bukan untuk duduk seharian di sofa yang empuk. Ketika kita kehilangan tantangan fisik, sistem saraf kita menjadi kebingungan. Hal-hal kecil tiba-tiba terasa seperti ancaman besar. Para ilmuwan meneliti fenomena ini dan menemukan sebuah konsep yang disebut hormesis. Konsep ini menyatakan bahwa stres fisik dalam dosis kecil justru membuat sebuah organisme menjadi lebih kuat. Tapi pertanyaannya, bagaimana tepatnya rasa dingin yang menusuk tulang atau perut yang keroncongan bisa mengubah ketahanan mental kita? Apa yang sebenarnya tumpah di dalam otak kita saat kita kedinginan?

IV

Inilah rahasia terbesarnya. Jawabannya ada pada molekul motivasi di otak kita: dopamin. Para ahli neurosains menemukan bahwa otak kita memproses rasa sakit dan rasa nikmat di tempat yang persis sama. Bayangkan seperti timbangan jungkat-jungkit. Saat kita terus-menerus mengonsumsi kenyamanan, timbangan berat ke arah nikmat. Namun perlahan, otak akan memunculkan rasa sakit seperti kecemasan, hampa, dan bosan untuk menyeimbangkannya kembali. Sebaliknya, saat kita secara sengaja memberikan rasa tidak nyaman yang terkontrol—seperti mandi air dingin atau berpuasa—kita menekan timbangan ke arah rasa sakit. Sebagai respons pertahanan, tubuh akan melepaskan gelombang dopamin dan noradrenalin dalam jumlah yang masif untuk menahan rasa sakit tersebut. Buktinya sangat jelas dalam hard science. Riset menunjukkan bahwa berendam di air dingin dapat meningkatkan kadar dopamin hingga 250 persen. Ini bukan dopamin murahan yang cepat hilang seperti saat kita scrolling media sosial. Ini adalah dopamin stabil yang membuat kita fokus, tangguh, dan merasa hidup selama berjam-jam setelahnya. Inilah alasan biologis mengapa kedinginan atau kelaparan sejenak bisa melatih jiwa. Para filsuf Stoik masa lalu mungkin tidak tahu menahu tentang anatomi saraf, tapi mereka berhasil menemukan teknologinya secara instingtif.

V

Tentu saja, saya tidak menyarankan kita semua untuk langsung membuang kasur dan mulai tidur di lantai malam ini. Hidup yang kita jalani setiap hari seringkali sudah cukup berat. Tapi, mari kita renungkan hal ini bersama. Ketakutan kita terhadap rasa tidak nyaman sering kali jauh lebih menyiksa daripada ketidaknyamanan itu sendiri. Sesekali mengambil jalan yang sedikit lebih sulit mungkin adalah bentuk cinta terbaik untuk diri kita sendiri. Kita bisa mulai dari hal yang sangat kecil. Cobalah akhiri sesi mandi pagi dengan air dingin selama tiga puluh detik. Atau, tahanlah rasa lapar satu atau dua jam lebih lama dari jam makan biasanya. Saat tubuh meronta ingin menyerah, amati saja rasa itu. Di titik ketidaknyamanan itulah, kita tidak hanya sedang meretas biologi otak agar lebih bahagia. Kita sedang mengambil kembali kendali atas pikiran kita sendiri. Karena pada akhirnya, jiwa yang tak pernah diuji oleh kesulitan, akan mudah goyah oleh angin masalah yang paling pelan sekalipun.