stoikisme dan perubahan hidup

cara tetap stabil saat pindah kota atau ganti pekerjaan

stoikisme dan perubahan hidup
I

Pernahkah kita berdiri di tengah kamar yang dipenuhi tumpukan kardus, bersiap pindah ke kota baru, lalu tiba-tiba dada terasa sesak? Atau mungkin saat malam sebelum hari pertama di pekerjaan baru, perut mulas tidak karuan sampai kita sulit tidur? Tenang saja, teman-teman. Kita tidak sendirian. Perasaan itu sangat wajar. Otak kita memang didesain secara biologis untuk membenci ketidakpastian. Di saat kita merasa hidup sedang jungkir balik, mari kita mundur sejenak ke sekitar dua ribu tahun yang lalu. Bayangkan seorang filsuf Romawi bernama Seneca. Ia bukan sekadar pindah kos atau berganti atasan di kantor. Ia diasingkan oleh kaisar ke sebuah pulau berbatu dan berdebu bernama Corsica. Semua hartanya disita. Status sosialnya hancur lebur dalam semalam. Namun, anehnya, ia tidak menjadi gila atau depresi parah. Ia justru menulis karya-karya pemikiran luar biasa yang masih kita baca sampai detik ini. Bagaimana ia bisa tetap stabil saat dunianya runtuh?

II

Sebelum kita membongkar rahasia Seneca, kita perlu paham dulu apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita saat menghadapi perubahan drastis. Secara neurobiologis, otak kita adalah mesin prediksi yang sangat cerewet. Ada sebuah konsep dalam sains psikologi yang disebut allostasis. Intinya, otak selalu mencoba menebak apa yang akan terjadi selanjutnya agar tubuh bisa menyiapkan energi yang pas. Saat kita berada di lingkungan lama, semuanya bisa ditebak. Rute jalan ke kantor, sifat bos lama, letak warung makan terdekat. Semuanya serba otomatis. Tapi begitu kita pindah kota atau berganti pekerjaan, mesin prediksi ini rusak. Amygdala, yakni bagian otak yang bertugas sebagai sistem alarm, mulai berteriak. Ia melihat wajah-wajah baru dan lingkungan asing sebagai potensi ancaman. Akibatnya, hormon stres seperti kortisol membanjiri tubuh. Kita jadi mudah lelah, gampang marah, dan merasa kewalahan. Jadi, wajar kalau kita merasa kehabisan energi di minggu-minggu pertama beradaptasi. Otak kita sedang bekerja lembur untuk memetakan dunia yang baru.

III

Di sinilah letak masalah utamanya. Saat stres akibat adaptasi ini memuncak, insting pertama kita biasanya adalah mencoba mengontrol keadaan. Kita ingin rekan kerja di kantor baru langsung menyukai kita. Kita ingin tetangga di kota yang baru langsung ramah dan membantu. Tapi, bukankah semakin keras kita mencoba mengendalikan hal-hal di luar diri kita, kita justru makin merasa cemas dan frustrasi? Nah, para filsuf kuno ternyata sudah menemukan peretasan neurologis untuk masalah ini, jauh sebelum mesin fMRI pemindai otak ditemukan. Mereka menyebutnya Stoikisme. Sayangnya, hari ini Stoikisme sering disalahartikan. Banyak yang mengira filsafat ini mengajarkan kita untuk jadi manusia robot yang tidak punya emosi. Tahan banting, pendam tangisan, telan penderitaan. Padahal, sama sekali tidak begitu. Stoikisme sebenarnya adalah alat bantu psikologis yang sangat presisi. Ada satu teknik khusus, yang jika dikombinasikan dengan cara kerja otak modern kita, bisa bertindak sebagai penawar instan untuk kecemasan saat beradaptasi. Pertanyaannya, teknik seperti apa yang bisa membuat pengasingan di pulau terpencil—atau hari pertama di kantor baru—terasa tidak lagi menakutkan?

IV

Jawabannya terletak pada cara berpikir yang sangat radikal. Para pembelajar Stoikisme menyebutnya dikotomi kendali. Secara sederhana, kita membelah realitas menjadi dua kotak secara tegas: apa yang bisa kita kontrol, dan apa yang sama sekali tidak bisa kita kontrol. Saat kita pindah ke pekerjaan baru, respons rekan kerja adalah di luar kendali kita. Kemacetan jalanan di kota baru adalah di luar kendali kita. Jika kita terus memikirkan hal-hal itu, bagian otak prefrontal cortex kita yang bertugas untuk berpikir logis akan kehabisan bahan bakar glukosa. Kita akan berujung pada burnout. Untuk mencegah ini, para penganut Stoik menggunakan teknik premeditatio malorum atau membayangkan skenario terburuk secara sengaja. Kedengarannya pesimis, bukan? Tapi sains modern justru mendukung ini sebagai bentuk cognitive reframing. Saat kita duduk santai dan membayangkan, "Oke, minggu pertama kerjaku mungkin aku akan melakukan kesalahan bodoh dan ditegur," kita sebenarnya sedang melatih otak. Kita sedang memberi tahu amygdala bahwa skenario terburuk itu ternyata tidak mengancam nyawa. Saat kita memusatkan seratus persen energi hanya pada apa yang ada di kotak kendali kita—seperti persiapan materi presentasi, niat baik kita untuk belajar, dan jam tidur kita—otak tiba-tiba menjadi rileks. Kita merebut kembali kemudi dari tangan rasa takut.

V

Pindah kota, ganti pekerjaan, atau memulai fase hidup apa pun yang baru memang menggentarkan. Saya pun sering merasa ragu tiap kali harus melangkah keluar dari zona nyaman yang sudah bertahun-tahun dibangun. Mengakui bahwa kita takut dan lelah adalah langkah pertama yang sangat manusiawi. Namun, teman-teman, sejarah evolusi kita dan kebijaksanaan kuno telah membuktikan satu hal penting. Kita diciptakan dengan kapasitas luar biasa untuk menjadi tangguh. Kita tidak perlu memaksa keadaan di luar sana untuk menjadi sempurna agar kita bisa merasa aman. Kestabilan yang sejati tidak ditemukan pada seberapa ramah kota baru menyambut kita, atau seberapa mulus hari pertama kita di meja kerja yang baru. Kestabilan itu selalu dibangun dari dalam kepala kita sendiri. Jadi, besok pagi, saat kita merapikan kemeja untuk bekerja atau menyeduh teh di dapur kontrakan yang masih terasa asing, tariklah napas dalam-dalam. Tersenyumlah. Fokuslah hanya pada apa yang ada di depan mata dan di dalam kendali kita. Selebihnya? Biarkan kehidupan melakukan tugasnya. Percayalah, kita pasti akan baik-baik saja.