stoikisme dan media sosial

cara menjaga kesehatan jiwa di tengah badai perbandingan sosial

stoikisme dan media sosial
I

Pernahkah kita berada di situasi ini? Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Kita sudah lelah setelah seharian bekerja keras, rebahan di kasur, lalu berniat bersantai sejenak dengan membuka ponsel. Jempol kita mulai menggulir layar. Lima menit pertama terasa menyenangkan. Namun, di menit kelima belas, kita melihat unggahan seorang kenalan yang sedang liburan mewah di Eropa, lalu foto teman lain yang baru saja dipromosikan, dan video seseorang yang tampaknya memiliki kehidupan cinta paling sempurna di dunia. Tiba-tiba, dada kita terasa sesak. Malam yang tadinya tenang berubah menjadi ajang penghakiman diri. Kita merasa tertinggal. Kita merasa tidak cukup.

Saya yakin kita semua pernah merasakannya. Fenomena ini sangat umum, tapi sayangnya, sering kali membuat kita merasa sangat kesepian. Kita seperti terjebak dalam badai perbandingan sosial yang tidak ada ujungnya. Di satu sisi, kita tahu bahwa apa yang ada di media sosial hanyalah cuplikan terbaik dari kehidupan seseorang, bukan kenyataan utuhnya. Namun di sisi lain, otak kita seolah menolak logika tersebut dan tetap memproduksi rasa cemas. Mengapa hal ini bisa terjadi pada kita? Dan yang lebih penting, adakah cara untuk keluar dari pusaran yang melelahkan ini tanpa harus membuang ponsel kita ke laut?

II

Untuk memahami badai ini, kita harus mundur sejenak dan melihat ke dalam tengkorak kita sendiri. Rasa cemas saat melihat pencapaian orang lain bukanlah tanda bahwa kita adalah manusia yang buruk atau penuh dengki. Secara evolusioner, itu adalah fitur keamanan bawaan. Ribuan tahun yang lalu, saat manusia purba hidup berkelompok di sabana, status sosial adalah urusan hidup dan mati. Jika kita berada di hierarki bawah, kita mendapat porsi makanan paling sedikit. Jika kita dikucilkan, kita akan dimakan predator. Otak kita berevolusi untuk selalu mengukur posisi kita dibandingkan orang lain di sekitar kita.

Namun, mari kita lihat masalah modern kita. Dulu, suku kita hanya berisi sekitar seratus orang. Sekarang, melalui layar berukuran enam inci, otak purba kita dipaksa untuk membandingkan diri dengan miliaran manusia dari seluruh dunia setiap hari. Algoritma media sosial dirancang khusus untuk mengeksploitasi sistem penghargaan atau reward system di otak kita. Setiap kali kita melihat sesuatu yang memicu emosi—baik itu kagum, iri, atau marah—otak melepaskan dopamine. Perusahaan teknologi tahu persis hal ini. Mereka merancang infinite scroll agar kita terus mengonsumsi informasi, membuat sistem saraf kita kebanjiran hormon stres seperti cortisol. Kita secara harfiah sedang meracuni kesehatan jiwa kita sendiri atas nama "tetap terhubung".

III

Namun, teman-teman, mari kita tarik napas sebentar. Sebenarnya, kegelisahan akibat membandingkan diri dengan orang lain ini bukanlah barang baru. Jangan pikir orang-orang di masa lalu terbebas dari masalah ini hanya karena mereka tidak punya internet. Mari kita melintasi waktu ke Roma kuno, sekitar dua ribu tahun yang lalu.

Di masa itu, para elit Romawi juga sangat suka pamer. Mereka tidak punya Instagram, tapi mereka memamerkan status melalui jumlah budak, kereta kuda berlapis emas, dan pesta-pesta mewah yang menghidangkan burung unta panggang. Tekanan sosial untuk tampil sukses sama mencekiknya dengan hari ini. Di tengah budaya pamer yang gila-gilaan tersebut, hiduplah sekelompok pemikir yang menolak ikut campur. Mereka mempraktikkan sebuah filosofi yang disebut Stoikisme. Salah satu praktisi paling terkenal adalah Marcus Aurelius, seorang Kaisar Romawi yang secara harfiah adalah orang paling berkuasa di dunia saat itu. Ia dikelilingi oleh harta dan sanjungan tak terbatas, namun ia memiliki rahasia besar untuk menjaga kewarasannya. Ia menemukan sebuah "peretasan otak" kuno yang luar biasa efektif. Pertanyaannya, rahasia apa yang diketahui kaisar ini ribuan tahun yang lalu, yang ternyata baru saja bisa dibuktikan oleh ilmu neurosains modern hari ini?

IV

Rahasia itu adalah konsep yang oleh kaum Stoik disebut sebagai Dikotomi Kendali. Secara sederhana, prinsip ini membagi dunia menjadi dua kotak mutlak: hal-hal yang bisa kita kendalikan, dan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Marcus Aurelius menyadari bahwa opini orang lain, kekayaan tetangga, dan status sosial adalah hal-hal yang berada di luar kendali kita. Berusaha mengatur atau memikirkan hal-hal tersebut hanya akan menguras energi jiwa. Sebaliknya, apa yang mutlak ada di bawah kendali kita hanyalah pikiran, respons, dan tindakan kita sendiri.

Di sinilah letak kejeniusan sains di balik Stoikisme. Ketika kita terus-menerus memikirkan pencapaian orang lain di media sosial (hal yang tidak bisa dikendalikan), kita mengaktifkan amygdala, bagian otak yang memproses rasa takut dan ancaman. Namun, ketika kita secara sadar mengalihkan fokus pada apa yang bisa kita kendalikan—misalnya, bagaimana kita akan menghabiskan waktu malam ini, atau bersyukur atas apa yang kita miliki—kita langsung mengaktifkan prefrontal cortex. Ini adalah bagian otak depan yang mengatur logika, perencanaan, dan ketenangan.

Para ahli saraf menyebut fenomena ini sebagai neuroplasticity. Otak kita seperti otot; apa yang sering kita latih, itulah yang akan menguat. Kaum Stoik melatih otak mereka untuk tidak reaktif terhadap validasi eksternal. Mereka membangun "benteng batin" yang tidak bisa ditembus oleh pameran kekayaan atau opini publik. Dengan menerapkan Dikotomi Kendali, kita secara harfiah sedang menyusun ulang jalur saraf di otak kita dari mode "panik dan membandingkan" menjadi mode "tenang dan berdaulat".

V

Jadi, teman-teman, mempraktikkan Stoikisme di era digital bukan berarti kita harus menghapus semua akun media sosial dan hidup di gua. Ini tentang mengambil kembali kendali atas pikiran kita sendiri.

Mulai hari ini, mari kita lakukan eksperimen kecil. Saat kita membuka ponsel dan mulai merasa cemas melihat unggahan seseorang, berhentilah sejenak. Sadari bahwa otak purba kita sedang tertipu oleh layar piksel. Terapkan Dikotomi Kendali. Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah hidup orang ini ada di bawah kendaliku?" Jawabannya pasti tidak. Lalu tanyakan lagi: "Apa yang bisa kukendalikan sekarang?" Jawabannya adalah jari kita. Kita memiliki kekuatan penuh untuk menekan tombol mute, unfollow, atau sekadar meletakkan ponsel dan pergi memeluk orang yang kita sayangi di dunia nyata.

Kesehatan jiwa kita terlalu berharga untuk diserahkan kepada algoritma atau pencapaian orang lain. Kesuksesan sejati, seperti yang diyakini oleh kaisar Romawi kuno dan didukung oleh sains modern, bukanlah tentang siapa yang terlihat paling bahagia di dunia maya. Kesuksesan sejati adalah memiliki pikiran yang tenang, di tengah badai apa pun yang terjadi di luar sana. Mari kita bangun benteng batin kita, satu tarikan napas dan satu guliran layar pada satu waktu.