psikologi perbandingan diri
cara berhenti merasa tertinggal saat melihat kesuksesan orang lain
Mari kita bayangkan skenario ini. Ini malam minggu, kita sedang bersantai di sofa, menggeser layar ponsel tanpa tujuan yang jelas. Tiba-tiba, muncul unggahan dari seorang kenalan lama. Dia baru saja masuk daftar bergengsi Forbes 30 Under 30, atau mungkin baru saja memamerkan kunci rumah pertamanya. Seketika, rasa nyaman kita menguap begitu saja. Ada sensasi berat di dada, napas sedikit tertahan, dan tiba-tiba hidup yang tadinya baik-baik saja terasa... sangat tertinggal. Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa melihat kesuksesan orang lain sering kali terasa seolah-olah kita sedang dihukum? Padahal secara logika, pencapaian mereka sama sekali tidak mengambil apa pun dari dompet kita. Mengapa otak kita dengan begitu cepat menerjemahkan kemenangan orang lain sebagai kekalahan pribadi?
Sebelum kita merasa bersalah dan mulai melabeli diri sendiri sebagai pendengki, mari kita tarik napas sejenak. Perasaan tertinggal ini sama sekali bukanlah tanda bahwa kita adalah manusia yang buruk. Sebaliknya, ini adalah bukti bahwa otak kita berfungsi persis seperti yang didesain oleh evolusi. Ratusan ribu tahun yang lalu, nenek moyang kita hidup di padang sabana dalam kelompok kecil yang disebut hunter-gatherer. Pada masa yang keras itu, mengetahui posisi kita dalam hierarki sosial bukanlah soal ego. Itu murni soal hidup dan mati. Jika kita berada di posisi terbawah dalam kelompok, kita akan mendapat sisa makanan paling sedikit dan perlindungan paling minim saat ada bahaya. Otak kita berevolusi untuk terus memindai lingkungan, mengukur kehebatan diri kita dibandingkan dengan orang-orang di sekitar. Fitur ini dirancang khusus untuk memastikan kita tidak terbuang dari kawanan. Sayangnya, perangkat keras purba di kepala kita ini belum sempat diperbarui untuk menghadapi rumitnya kehidupan abad ke-21.
Masalahnya mulai membesar ketika kita melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam tengkorak kita. Para ahli saraf menemukan sesuatu yang cukup mengejutkan tentang cara kerja otak. Saat kita merasa kalah status atau tertinggal secara sosial, bagian otak yang langsung menyala terang adalah anterior cingulate cortex. Tahukah teman-teman, ini adalah area otak yang sama persis ketika kita merasakan rasa sakit secara fisik. Ya, bagi otak kita, rasa tertinggal itu sama nyatanya dan sama sakitnya dengan rasa jari kaki yang keras tersandung kaki meja. Namun, ada satu celah besar yang membuat rasa sakit sosial ini menjadi epidemi di zaman sekarang. Dulu, nenek moyang kita hanya membandingkan diri dengan sekitar 150 orang di sukunya yang kehidupannya tidak beda jauh. Sekarang? Melalui layar kecil di genggaman, kita secara tidak sadar membandingkan diri dengan miliaran orang dari seluruh dunia. Kita membandingkan hari terburuk kita saat bangun tidur dengan cuplikan highlight reel terbaik dari puncak kehidupan orang lain. Lalu, apa jadinya ketika otak purba kita dibombardir oleh ilusi kesuksesan yang tak terbatas setiap detiknya?
Inilah rahasia terbesarnya: kita sering kali depresi karena sedang memainkan permainan yang tidak mungkin bisa kita menangkan. Dalam psikologi, ada landasan yang disebut Social Comparison Theory yang digagas oleh Leon Festinger. Festinger menjelaskan bahwa kita memang punya dorongan bawaan untuk mengevaluasi diri dengan orang lain. Namun, jebakan terbesar yang diciptakan oleh dunia modern adalah ilusi bahwa kesuksesan itu ibarat kue tar yang potongannya terbatas (zero-sum game). Kita diam-diam ketakutan bahwa jika seseorang mengambil potongan yang besar, maka bagian kita akan mengecil. Padahal, secara realitas ilmiah dan sejarah, kesuksesan manusia itu tidak terbatas dan bisa terus diciptakan. Cara untuk meretas sistem otak purba ini bukanlah dengan memaksa diri untuk selalu berpikir positif secara berlebihan. Cara yang terbukti secara psikologis paling efektif adalah dengan memindahkan titik acuan. Kita harus dengan sengaja mengubah perbandingan horizontal (kita versus orang lain) menjadi perbandingan vertikal (kita hari ini versus kita di masa lalu). Otak kita sangat butuh metrik untuk mengukur progres agar merasa aman. Jadi, berikanlah otak kita metrik yang benar.
Pada akhirnya, kita semua sedang berjalan di lintasan waktu yang berbeda-beda. Merasa cemburu, cemas, atau tertinggal saat melihat orang lain melesat maju adalah respons yang sangat wajar dan sangat manusiawi. Mulai sekarang, mari kita ubah cara pandang kita terhadap rasa tidak nyaman tersebut. Alih-alih melihatnya sebagai sinyal bahwa kita gagal, anggaplah rasa cemburu itu sekadar kumpulan data. Ia adalah kompas internal yang jujur, menunjukkan kepada kita tentang apa yang sebenarnya kita pedulikan dan ke mana arah yang ingin kita tuju. Hari ini, besok, atau lusa, ketika kita merasakan lagi dada yang sesak karena melihat pencapaian orang lain di media sosial, mari kita tersenyum kecil. Sadarilah bahwa itu hanyalah alarm dari otak purba kita yang sedang kebingungan membaca situasi. Letakkan ponselnya sejenak, tarik napas yang panjang, dan kembalikan fokus pada satu-satunya orang yang masuk akal untuk kita kalahkan: diri kita yang kemarin.