psikologi penderitaan
mengapa rasa sakit itu objektif tapi penderitaan itu pilihan pikiran
Pernahkah kita, di tengah malam yang gelap gulita, berjalan ke dapur dan tanpa sengaja menendang ujung kaki meja dengan kelingking kaki kita? Rasanya luar biasa. Bintang-bintang bermunculan di kepala. Kita mungkin melompat-lompat sambil mengutuk keras gravitasi, arsitektur rumah, dan semua pembuat meja di dunia. Penderitaan yang kita rasakan detik itu terasa mutlak dan tidak bisa ditawar.
Namun, mari kita putar waktu sejenak ke sebuah jalanan di Saigon pada tahun 1963. Seorang biksu bernama Thich Quang Duc duduk bersila dengan tenang. Ia menyalakan api pada tubuhnya sendiri yang sudah disiram bensin. Api berkobar hebat, menghanguskan kulit dan dagingnya. Tapi anehnya, ia tidak bergerak sama sekali. Tidak ada jeritan. Tidak ada otot yang berkedut. Ia duduk setenang patung batu.
Melihat kontras dua peristiwa ini rasanya tidak masuk akal. Bagaimana mungkin kelingking kaki yang terbentur bisa membuat kita merasa dunia kiamat, sementara seorang manusia bisa terbakar hidup-hidup tanpa menunjukkan tanda-tanda penderitaan? Apakah anatomi saraf biksu tersebut berbeda dengan kita? Tentu saja tidak. Jawabannya jauh lebih kompleks dan bersembunyi di dalam seonggok daging seberat satu setengah kilogram di dalam tengkorak kita.
Untuk memahami keanehan ini, kita harus sepakat pada satu fakta biologis terlebih dahulu: rasa sakit fisik itu mutlak dan objektif.
Di seluruh tubuh kita, tersebar jutaan sensor canggih yang disebut nociceptor. Mereka adalah alarm kebakaran biologis kita. Saat kelingking kaki kita menghantam kayu keras, nociceptor langsung mengirimkan sinyal listrik berkecepatan tinggi ke saraf tulang belakang, lalu terus naik ke otak. Sinyal ini membawa satu pesan darurat yang sangat jelas: "Ada kerusakan sel di area ini, segera lakukan sesuatu!"
Rasa sakit adalah mekanisme evolusi yang brilian. Ia adalah teman paling setia yang menjaga kita tetap hidup. Tanpa rasa sakit, kita mungkin akan terus berjalan dengan tulang yang patah atau membiarkan tangan kita melepuh di atas kompor panas. Jadi, rasa sakit itu bukan musuh. Ia hanyalah sebuah data. Ia adalah informasi murni.
Tapi di sinilah masalahnya mulai muncul. Jika rasa sakit hanyalah sebuah transfer data biologis, mengapa respon kita terhadap luka yang sama bisa sangat berbeda-beda? Mengapa suntikan jarum dokter terasa sangat mengerikan saat kita tegang, tapi hampir tidak terasa saat kita sedang asyik mengobrol? Apa sebenarnya yang membedakan sensasi fisik dan siksaan mental?
Sebuah petunjuk besar untuk memecahkan misteri ini ditemukan di medan perang. Pada masa Perang Dunia II, seorang dokter militer Amerika bernama Dr. Henry Beecher mengamati sesuatu yang sangat aneh pada tentara yang terluka parah.
Banyak tentara yang dadanya tertembak atau kakinya hancur terkena ranjau, sama sekali tidak meminta obat pereda nyeri atau morfin. Mereka tetap tenang, sadar, dan bahkan bisa bercanda. Dr. Beecher sangat kebingungan. Sebelum perang, dalam praktik sipilnya di Boston, ia melihat pasien dengan luka bedah yang jauh lebih ringan selalu memohon-mohon untuk diberikan morfin.
Secara logika medis, luka yang lebih besar seharusnya menghasilkan rasa sakit yang lebih besar pula. Tapi realitas di lapangan membantah hal itu. Mengapa para tentara ini seolah kebal terhadap penderitaan yang luar biasa? Apakah adrenalin? Ternyata bukan hanya itu. Dr. Beecher menyimpulkan bahwa kunci dari rasa sakit tidak hanya terletak pada seberapa parah kerusakan jaringannya, melainkan pada makna dari luka tersebut.
Bagi pasien sipil di rumah sakit, luka operasi berarti gangguan hidup, hilangnya pendapatan, dan kecemasan akan masa depan. Bagi mereka, luka itu adalah tragedi. Sebaliknya, bagi para tentara di parit yang penuh lumpur dan darah, luka parah memiliki makna yang sama sekali berbeda. Luka itu adalah "tiket pulang". Luka itu berarti mereka selamat, mereka tidak perlu lagi bertempur, dan mereka akan segera melihat keluarga mereka.
Luka yang sama, sinyal nociceptor yang sama, tapi otak menerjemahkannya dengan cara yang bertolak belakang. Lalu, bagaimana tepatnya otak kita melakukan trik sulap ini?
Ternyata, neurosains modern membuktikan bahwa rasa sakit dan penderitaan diproses di dua area otak yang berbeda. Inilah penemuan terbesarnya.
Saat sinyal rasa sakit tiba di otak, ia pertama kali masuk ke area yang disebut somatosensory cortex. Area ini ibarat ahli peta. Ia bertugas mendeteksi lokasi luka, seberapa panas, atau seberapa tajam lukanya. Ini adalah rasa sakit murni. Sinyal objektif.
Namun sepersekian detik kemudian, sinyal itu bercabang ke area lain, salah satunya adalah anterior cingulate cortex dan amygdala. Area ini adalah pusat emosi dan memori. Di sinilah otak mulai menciptakan narasi, ketakutan, dan kepanikan. Di sinilah otak kita berteriak, "Kenapa ini terjadi padaku? Bagaimana kalau ini tidak bisa sembuh? Hidupku hancur!" Area inilah pabrik pembuat penderitaan.
Ribuan tahun yang lalu, filosofi Buddha sebenarnya sudah merumuskan hal ini lewat analogi Dua Panah (The Two Arrows). Menurut cerita kuno tersebut, kehidupan akan selalu menembakkan "panah pertama" kepada kita. Panah pertama ini adalah rasa sakit fisik, penyakit, kehilangan, atau kenyataan pahit. Ia objektif, tidak bisa dihindari, dan sudah menjadi kodrat manusia.
Namun, kita sering kali secara otomatis menembakkan "panah kedua" ke diri kita sendiri. Panah kedua ini adalah penolakan, kemarahan, kecemasan, dan narasi negatif tentang panah pertama tadi. Panah kedua inilah yang disebut sebagai penderitaan. Neurobiologi akhirnya membuktikan kebenaran filosofi ini. Panah pertama adalah somatosensory cortex. Panah kedua adalah anterior cingulate cortex.
Kita tidak punya kendali atas panah pertama. Tapi panah kedua? Itu sepenuhnya adalah produksi pikiran kita.
Memahami hal ini rasanya seperti mendapatkan kunci emas untuk melihat hidup dari sudut pandang yang baru. Tentu saja, ini bukan ajakan untuk mempraktikkan toxic positivity. Menangis saat berduka atau mengaduh saat sakit adalah respons yang sangat manusiawi. Kita tidak harus menjadi biksu yang duduk diam di tengah kobaran api.
Namun, sains dan sejarah mengingatkan kita pada satu pelajaran penting: penderitaan sering kali lahir bukan dari kenyataan itu sendiri, melainkan dari cara kita menolak kenyataan tersebut. Penderitaan adalah jarak antara apa yang sedang terjadi dengan apa yang kita harapkan terjadi.
Saat kita atau teman-teman sedang dihadapkan pada rasa sakit—baik itu penyakit fisik, patah hati, atau kegagalan—mari kita ambil napas sejenak. Sadari panah pertama yang sedang menancap. Rasakan perihnya. Terima kehadirannya sebagai bagian dari pengalaman menjadi manusia yang hidup.
Tapi setelah itu, berhentilah sejenak. Sadari tangan kita yang diam-diam sedang bersiap menarik busur untuk menembakkan panah kedua. Letakkan busur itu. Kita mungkin tidak bisa memilih rasa sakit, tapi kita selalu punya kekuatan untuk memilih apakah kita ingin menderita karena rasa sakit itu atau tidak.