psikologi kritik

cara menerima hinaan tanpa membiarkan emosi negatif menguasai otak

psikologi kritik
I

Pernahkah kita sedang menjalani hari yang tenang, lalu tiba-tiba sebuah kalimat tajam menghantam kita? Mungkin itu komentar pedas dari rekan kerja, balasan sinis di media sosial, atau sekadar celetukan keluarga yang menusuk tepat di ulu hati. Dalam sepersekian detik, napas kita memburu. Jantung berdetak lebih kencang. Dada terasa panas, dan tiba-tiba ada dorongan luar biasa kuat untuk membalas dendam atau justru mengurung diri di kamar.

Sebagai manusia modern, rasanya konyol membiarkan rentetan kata-kata merusak seluruh suasana hati kita. Kenyataannya, kata-kata itu tidak melukai kulit kita. Tidak ada tulang yang patah. Tapi mengapa rasanya sangat nyata? Mengapa sebuah hinaan seolah memiliki kekuatan fisik yang bisa meremukkan dada kita?

Mari kita bedah apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita saat dikritik. Di balik perasaan tidak nyaman itu, ada sebuah drama neurobiologis yang sangat cepat. Drama yang sebenarnya tidak didesain untuk menyakiti kita, melainkan—ironisnya—untuk menyelamatkan nyawa kita.

II

Untuk memahami mengapa kita sangat sensitif terhadap hinaan, kita harus melakukan perjalanan waktu. Bayangkan kita kembali ke 50.000 tahun yang lalu, di tengah padang sabana yang ganas. Pada masa itu, kita tidak bisa bertahan hidup sendirian. Kita butuh kelompok. Kita butuh suku.

Jika seseorang di suku kita mulai tidak menyukai kita, mengkritik kita, atau menghina kita, itu bukan sekadar drama sosial. Itu adalah ancaman kematian. Diusir dari kelompok berarti kita harus berhadapan dengan harimau gigi pedang sendirian. Otak nenek moyang kita belajar satu aturan mutlak: penolakan sosial sama berbahayanya dengan ancaman fisik.

Oleh karena itu, otak kita berevolusi untuk memproses rasa sakit emosional dan rasa sakit fisik di tempat yang sama. Ilmu saraf modern membuktikan hal ini. Ketika kita dipukul, bagian otak yang bernama anterior cingulate cortex menyala. Coba tebak apa yang terjadi ketika kita dihina atau dikucilkan? Ya, bagian otak yang sama persis ikut menyala terang benderang.

Otak kita, yang masih memakai sistem operasi zaman batu, tidak bisa membedakan antara ancaman dimakan singa peliharaan alam liar dengan ancaman dikomentari sinis oleh akun anonim di internet. Alarm di otak kita, yang bernama amygdala, langsung berteriak: "Bahaya! Bersiaplah bertarung atau lari!"

III

Masalahnya, kita tidak lagi hidup di sabana. Kita hidup di dunia modern di mana hinaan bisa datang dari mana saja, kapan saja, dan seringkali tidak berdampak apa-apa pada kelangsungan hidup kita. Namun, amygdala kita terlanjur membajak otak. Fenomena ini dalam psikologi dikenal sebagai amygdala hijack.

Saat bajakan ini terjadi, aliran darah ditarik dari prefrontal cortex—yaitu bagian otak depan kita yang rasional, bijak, dan logis. Otak rasional kita mati lampu sementara. Itulah mengapa, saat sedang emosi, kita seringkali merespons dengan kata-kata bodoh yang kita sesali kemudian, atau kita blank dan baru memikirkan balasan yang keren saat sedang mandi dua jam kemudian.

Lalu, pertanyaannya sekarang, apakah kita terjebak? Apakah kita ditakdirkan untuk selalu menjadi budak dari alarm purba ini setiap kali seseorang melemparkan kalimat negatif?

Sejarah mencatat orang-orang yang tampaknya kebal terhadap hal ini. Para filsuf Stoik di Romawi kuno, seperti Marcus Aurelius, menghadapi pengkhianatan dan hinaan setiap hari, namun tetap bisa mempertahankan ketenangan batin yang luar biasa. Mereka tidak tahu apa-apa tentang amygdala atau ilmu saraf. Namun, secara intuitif, mereka menemukan sebuah peretasan psikologis. Sebuah cara untuk memberikan jeda antara hinaan yang datang dan reaksi yang kita keluarkan.

IV

Inilah rahasia terbesarnya, dan sains modern menyebutnya sebagai cognitive reappraisal atau penilaian ulang kognitif.

Cara paling efektif untuk mematikan alarm amygdala dan menyalakan kembali otak rasional kita bukanlah dengan menyangkal rasa sakitnya. Bukan dengan berkata, "Ah, saya tidak peduli." (Otak kita tahu kalau kita berbohong). Cara terbaiknya adalah dengan mengubah sudut pandang kita terhadap sumber hinaan tersebut.

Mari kita lihat fakta psikologis yang brutal namun membebaskan ini: Hinaan seringkali sama sekali bukan tentang kita, melainkan tentang si penghina.

Orang yang hatinya tenang, hidupnya bahagia, dan pikirannya jernih jarang sekali menghabiskan energinya untuk merendahkan orang lain. Ketika seseorang melemparkan hinaan, mereka sebenarnya sedang mengaburkan rasa tidak aman (insecurity), kemarahan, atau kelelahan mental mereka sendiri, lalu melemparkannya ke arah kita. Kata-kata kasar mereka adalah proyektor yang sedang menampilkan film tentang kekacauan di dalam kepala mereka.

Jadi, ketika kita dikritik dengan kasar, alih-alih memasukkannya ke dalam hati, cobalah melihatnya sebagai data observasi. Geser peran kita dari seorang korban menjadi seorang ilmuwan.

Saat kalimat menyakitkan itu datang, beri jeda tiga detik. Tarik napas. Katakan dalam hati: "Wah, orang ini pasti sedang mengalami hari yang sangat buruk sampai harus berkata kasar seperti itu."

Ajaibnya, saat kita melakukan proses observasi ini, kita memaksa aliran darah kembali ke prefrontal cortex. Otak rasional kita menyala. Alarm amygdala mereda. Kita tidak lagi melihat hinaan itu sebagai ancaman harimau yang akan memakan kita, melainkan sekadar fenomena cuaca yang sedang lewat. Hujan memang turun, tapi kita punya payung.

V

Tentu saja, mempraktikkan hal ini butuh waktu. Kita ini manusia, bukan robot. Akan selalu ada hari di mana sebuah kata menembus pertahanan kita dan membuat kita sedih. Dan teman-teman, itu sangat wajar.

Kita tidak perlu menjadi manusia super yang kebal terhadap segala perasaan. Merasa sedih saat dihina adalah bukti bahwa empati dan sisi kemanusiaan kita masih bekerja dengan baik. Namun, yang terpenting adalah, kita kini tahu bahwa kita punya kendali. Kita tidak harus membiarkan emosi negatif itu mengambil alih kursi kemudi di kepala kita.

Lain kali, ketika ada seseorang yang mencoba menjatuhkan kita dengan kata-katanya, ingatlah bahwa otak purba kita hanya sedang berusaha melindungi kita. Ucapkan terima kasih pada otak kita atas alarmnya, lalu ambil alih kendali secara sadar. Pisahkan mana yang merupakan kritik membangun yang bisa kita jadikan bahan belajar, dan mana yang sekadar sampah emosional milik orang lain.

Kita tidak bisa mengontrol apa yang keluar dari mulut orang lain. Tapi, betapa melegakannya menyadari bahwa kita memiliki kekuatan penuh untuk menentukan apakah kata-kata itu layak mendapatkan tempat di pikiran kita, atau sekadar dibiarkan lewat menjadi angin lalu.