psikologi keadilan
mengapa berbuat baik pada orang lain secara biologis memicu rasa bahagia
Pernahkah kita menyadari satu keanehan kecil saat memesan makanan lewat aplikasi ojek online? Saat hujan turun deras, sang driver tiba dengan jaket basah kuyup, menyodorkan pesanan kita sambil tersenyum canggung. Secara refleks, jemari kita menambahkan tip ekstra di layar ponsel. Uang kita berkurang. Secara logika finansial murni, kita rugi. Tapi anehnya, ada perasaan hangat yang menjalar di dada. Senyum kecil tiba-tiba terukir di wajah kita saat menutup pintu. Mengapa kehilangan sesuatu secara material justru membuat kita merasa utuh di dalam? Secara rasional, ini tampak tidak masuk akal. Namun, di sinilah letak salah satu misteri paling indah dalam otak manusia. Hari ini, mari kita membedah isi kepala kita sendiri. Kita akan melihat bagaimana alam semesta, melalui proses evolusi jutaan tahun, diam-diam "meretas" otak kita agar menjadi manusia yang peduli pada keadilan dan kebaikan.
Mari kita mundur sejenak ke masa lalu. Sangat jauh ke belakang, ke era di mana nenek moyang kita masih hidup nomaden di kerasnya padang sabana. Jika kita membaca buku biologi dasar, kita pasti sangat akrab dengan konsep survival of the fittest. Siapa yang kuat, dia yang bertahan hidup. Premis ini sering disalahartikan bahwa manusia purba pada dasarnya hidup egois, hanya peduli pada perut dan keselamatannya sendiri. Namun, catatan sejarah menunjukkan cerita yang berbeda. Para antropolog sering menemukan fosil kerangka manusia purba dengan tulang paha yang pernah patah namun sembuh total. Di alam liar, kaki patah adalah vonis mati. Seseorang dengan kaki patah tidak bisa berburu atau lari dari hewan pemangsa. Fakta bahwa tulang itu bisa sembuh berarti ada anggota kelompok lain yang membawakan makanan, menggendongnya, dan merawatnya selama berbulan-bulan. Pengorbanan waktu dan energi ini melahirkan pertanyaan besar bagi para ilmuwan. Jika keegoisan adalah kunci utama untuk bertahan hidup, mengapa gen kebaikan hati ini tidak musnah dimakan seleksi alam? Apa yang sebenarnya membuat nenek moyang kita mau repot-repot mengorbankan sumber dayanya untuk orang lain?
Untuk menjawab teka-teki evolusi tersebut, para psikolog dan ekonom perilaku modern sering melakukan sebuah eksperimen klasik yang menarik. Eksperimen ini bernama Dictator Game. Bayangkan kita diundang ke lab dan diberi uang seratus ribu rupiah. Aturannya sangat sederhana: kita bebas membagi uang itu dengan orang asing di ruangan sebelah yang tidak kita kenal, atau kita bisa mengambil semuanya untuk diri kita sendiri. Orang asing itu tidak bisa protes atau membalas dendam. Jika kita bertindak murni atas dasar survival dan hitung-hitungan rasional, kita seharusnya mengambil seluruh uang tersebut. Siapa yang tidak suka uang gratis? Namun, hasil eksperimen ini konsisten mengejutkan di berbagai belahan dunia. Sebagian besar orang ternyata memilih untuk membagi uang tersebut secara adil, seringkali persis setengah-setengah. Saat ditanya alasannya, jawabannya sering berputar di kalimat "rasanya tidak adil kalau saya ambil semua". Tapi tunggu dulu. Apakah kita membagi uang itu karena kita benar-benar makhluk bersayap suci? Atau, jangan-jangan otak kita diam-diam sedang mengincar sesuatu yang lebih memabukkan daripada sekadar uang seratus ribu? Apa yang sebenarnya terekam oleh alat pemindai otak saat orang-orang ini memutuskan untuk berbagi?
Di sinilah kita sampai pada momen penemuan sains yang paling memukau. Saat para ahli saraf memasukkan partisipan ke dalam mesin fMRI (pemindai otak) dan mengamati saraf mereka tepat di detik mereka berbuat adil dan berbagi, layar monitor langsung menyala terang. Area otak yang bernama mesolimbic reward system mendadak aktif berlebihan. Teman-teman, ini adalah area sirkuit saraf yang sama persis yang menyala ketika kita memakan cokelat manis, melihat orang yang kita cintai, atau memenangkan undian berhadiah. Otak dengan sengaja membanjiri tubuh kita dengan koktail kimiawi yang luar biasa nikmat. Ada dopamine yang memberi sensasi kepuasan. Lalu ada oxytocin, hormon yang menumbuhkan rasa percaya dan ikatan emosional. Dan jangan lupakan endorphins, pereda nyeri alami yang menciptakan sensasi tenang yang oleh para ilmuwan sering dijuluki sebagai helper's high. Otak kita secara biologis merespons tindakan keadilan seperti sebuah perayaan besar. Mengapa? Karena di masa lalu, manusia purba yang saling membantu dan bersikap adil memiliki peluang hidup lebih panjang sebagai sebuah kelompok. Evolusi memastikan kelangsungan hidup spesies manusia dengan cara yang sangat jenius: alam membuat kebaikan terasa sangat nikmat secara biologis. Kita dirancang, hingga ke tingkat seluler, untuk menjadi baik kepada sesama.
Mengetahui fakta ini rasanya memberi kita sebuah perspektif baru yang sangat melegakan. Di tengah ritme dunia modern yang kadang terasa begitu sinis, individualis, dan penuh kompetisi keras, kita sering lupa pada cetak biru biologi kita sendiri. Berbuat baik, menjunjung tinggi keadilan, atau sekadar memberikan senyum dan tip ekstra untuk orang yang melayani kita, ternyata bukanlah sekadar kewajiban moral yang membosankan dari buku pelajaran. Itu adalah panggilan alamiah tubuh kita. Itu adalah cara kita menenggak kebahagiaan dari apotek alami yang ada di dalam kepala kita sendiri. Jadi, jika suatu hari teman-teman merasa harinya begitu berat, penat, atau hidup terasa kehilangan makna, cobalah satu peretasan psikologis sederhana ini. Lakukanlah satu keadilan kecil atau kebaikan tanpa pamrih untuk orang lain di hari itu. Biarkan evolusi jutaan tahun bekerja menenangkan sistem saraf kita. Karena pada akhirnya, hard science telah membuktikan satu hal yang sangat puitis tentang kemanusiaan kita: cara paling efektif untuk membahagiakan diri sendiri, justru dengan mulai membahagiakan orang lain.