neuroscience tentang rasa bersalah

cara stoikisme memproses kesalahan menjadi pembelajaran

neuroscience tentang rasa bersalah
I

Pernahkah kita terbangun jam tiga pagi, menatap langit-langit kamar, lalu tiba-tiba memutar ulang sebuah kesalahan memalukan atau menyakitkan yang kita lakukan bertahun-tahun lalu? Dada terasa sesak. Perut mulas. Kita merasa menjadi manusia paling bodoh di bumi. Saya yakin, teman-teman pasti pernah mengalaminya. Rasanya sungguh tidak enak, ya? Sensasi ditarik mundur ke masa lalu oleh rasa bersalah ini terasa seperti siksaan tanpa akhir. Berputar-putar di kepala, menggerogoti ketenangan kita. Tapi, pernahkah kita berpikir santai sejenak dan bertanya: kenapa otak kita seolah begitu hobi menyiksa diri kita sendiri dengan kenangan buruk semacam ini?

II

Mari kita bedah fenomena menyebalkan ini secara ilmiah. Secara evolusioner, rasa bersalah itu sebenarnya bukan bug atau eror dalam sistem otak kita. Ia adalah fitur kelangsungan hidup. Ribuan tahun lalu, saat nenek moyang kita masih berburu dan meramu dalam kelompok kecil, membuat kesalahan sosial—seperti mencuri makanan suku atau tidak menjaga api unggun—bisa berujung pada pengasingan. Dan di alam liar, diasingkan itu sama artinya dengan mati dimangsa predator. Jadi, otak kita berevolusi untuk memastikan kita sangat, sangat menderita saat berbuat salah, agar kita trauma dan tidak mengulanginya lagi. Pertanyaannya, kalau rasa bersalah ini adalah mekanisme bertahan hidup, kenapa di zaman modern ini ia malah sering membuat kita lumpuh, depresi, dan tidak bisa maju? Mari kita lihat lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi di balik tengkorak kita saat rasa bersalah itu datang menyerang.

III

Ketika kita menyadari sebuah kesalahan, ada sebuah area kecil di otak kita yang bernama anterior cingulate cortex (ACC) yang langsung menyala bak alarm kebakaran. ACC ini bertugas khusus untuk mendeteksi konflik dan kesalahan. Alarm yang bising ini kemudian membangunkan amygdala, yakni pusat emosi dan rasa takut kita. Hasilnya? Otak kita dibanjiri hormon stres seperti kortisol. Kita merasa terancam secara fisik, meski ancamannya hanyalah ego dan harga diri kita yang terluka. Di saat yang sama, prefrontal cortex—bagian otak rasional kita yang seharusnya memikirkan solusi masa depan—malah kewalahan dan lumpuh menghadapi banjir emosi ini. Kita pun terjebak dalam rumination, atau memikirkan penyesalan yang sama berulang-ulang tanpa jalan keluar. Lingkaran setan neurologis ini terdengar mengerikan dan seolah tidak bisa dihentikan. Namun, tahukah teman-teman, bahwa sekitar dua ribu tahun yang lalu, jauh sebelum mesin pemindai MRI diciptakan, ada sekelompok pemikir yang sudah menemukan cara untuk meretas atau meng-hack lingkaran setan ini? Mereka menyebut dirinya kaum Stoa.

IV

Inilah bagian yang paling luar biasa. Ajaran kuno Stoikisme ternyata memiliki dasar yang sangat selaras dengan neurosains modern. Kaum Stoa, seperti kaisar Marcus Aurelius atau filsuf Seneca, sehari-harinya mempraktikkan apa yang sekarang dipelajari oleh para ilmuwan saraf sebagai cognitive reappraisal atau pembingkaian ulang kognitif. Saat rasa bersalah menyerang, kaum Stoa tidak menyangkal emosi tersebut. Namun, mereka menggunakan prinsip dichotomy of control (dikotomi kendali). Mereka memisahkan dengan tegas mana yang bisa dikendalikan dan mana yang tidak. Kesalahan di masa lalu? Itu sudah terjadi, tintanya sudah kering, murni di luar kendali kita. Namun, respons kita hari ini? Itu seratus persen di bawah kendali kita.

Secara neurologis, ketika kita dengan sadar mengalihkan fokus dari "Kenapa saya sebodoh itu?" menjadi "Apa yang bisa saya pelajari dari kejadian ini?", kita sedang dengan sengaja menurunkan aktivitas amygdala dan menyalakan kembali prefrontal cortex kita. Kita secara harfiah mengubah aliran darah dan sinyal listrik di dalam otak kita. Kaum Stoa juga punya konsep Amor Fati, yang berarti mencintai takdir. Dalam konteks kesalahan, ini berarti merangkul rasa bersalah tersebut bukan sebagai hukuman pengadilan, melainkan sebagai bahan bakar. Alih-alih melabeli diri dengan berkata "Saya manusia yang buruk", kita melatih otak untuk berkata "Saya melakukan tindakan yang keliru, dan ini adalah data yang sangat berharga untuk membuat saya lebih tangguh". Melalui prinsip neuroplasticity (neuroplastisitas), otak kita bisa berubah bentuk sesuai kebiasaan. Semakin sering kita berlatih respons rasional ala Stoik ini, semakin kuat jalur saraf baru di otak kita. Perlahan tapi pasti, rasa bersalah berubah wujud dari siksaan yang melumpuhkan menjadi sekadar sinyal edukasi yang mendewasakan.

V

Pada akhirnya, kita semua di sini hanyalah manusia biasa yang memang didesain oleh alam untuk sesekali tersandung, jatuh, dan berbuat bodoh. Berbuat salah itu sudah menjadi bagian dari susunan DNA kita. Namun, sekarang kita tahu rahasianya. Kita tidak perlu menjadi tawanan dari alarm otak purba kita yang berteriak panik setiap kali kita keliru. Rasa bersalah memang menyakitkan, dan teman-teman tidak perlu merasa bersalah karena merasakan sakit tersebut. Itu sangat manusiawi. Tetapi, mari kita pinjam kebijaksanaan para filsuf kuno dan menggabungkannya dengan kecanggihan teknologi biologi kita sendiri. Lain kali, saat teman-teman terbangun di jam tiga pagi dengan penyesalan yang menyesakkan dada, tersenyumlah kecil. Tarik napas dalam-dalam. Berterimakasihlah pada alarm di kepala kita yang masih berfungsi dengan baik. Lalu, pelan-pelan ambil alih kemudi pikiran kita. Ubah rasa sakit itu menjadi pijakan. Karena kegagalan terbesar bukanlah pada saat kita jatuh, melainkan saat kita menolak belajar dari luka jatuhnya. Mari kita belajar memaafkan diri kita sendiri, merangkul ketidaksempurnaan kita, dan tumbuh menjadi manusia yang jauh lebih bijak dari hari kemarin.