dikotomi kendali

sains di balik cara otak berhenti mencemaskan hal yang tak bisa diubah

dikotomi kendali
I

Pernahkah kita terjebak macet luar biasa parah saat sedang buru-buru menuju pertemuan penting? Hujan turun deras. Klakson bersahutan dari segala arah. Di dalam mobil atau di atas motor, jantung kita berdebar lebih cepat. Rahang kita mengeras. Kita mungkin mulai mengomel sendiri atau memukul setir. Padahal, jauh di lubuk hati, kita tahu persis bahwa marah-marah tidak akan membuat mobil di depan kita tiba-tiba terbang menyingkir. Cuaca juga tidak akan mendadak cerah hanya karena kita mengumpat. Namun, mengapa kita tetap merasa sangat cemas dan stres? Mengapa rasanya sangat sulit untuk sekadar rileks dan menerima keadaan? Tenang saja, teman-teman. Kita tidak sendirian, dan kita tidak sedang kehilangan akal sehat. Apa yang kita alami adalah respons rancangan pabrik dari biologi kita sendiri.

II

Untuk memahami kekacauan emosi ini, mari kita mundur sebentar ke masa lalu. Sekitar dua ribu tahun yang lalu, seorang mantan budak yang menjadi filsuf besar bernama Epictetus merumuskan sebuah konsep yang brilian. Ia menyebutnya sebagai dikotomi kendali. Prinsipnya sangat sederhana. Di dunia ini, segala hal terbagi menjadi dua keranjang besar: hal-hal yang bisa kita kendalikan, dan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Pikiran, tindakan, dan respons kita masuk ke keranjang pertama. Sisanya, seperti cuaca, opini orang lain, hingga kemacetan jalan raya, masuk ke keranjang kedua. Sayangnya, meski konsep ini terdengar logis, otak manusia tidak berevolusi untuk menjadi filsuf yang bijak. Otak kita berevolusi untuk bertahan hidup. Jauh di masa prasejarah, nenek moyang kita hidup di lingkungan yang penuh ancaman. Ketidakpastian sering kali berarti bahaya fatal. Suara semak yang bergoyang bisa jadi adalah angin, tapi bisa juga seekor harimau. Karena itu, otak kita dilengkapi dengan sistem alarm canggih bernama amygdala. Bagian otak purba ini sangat benci pada situasi yang tidak bisa dikendalikan. Bagi amygdala, kehilangan kendali sama dengan ancaman kematian.

III

Nah, di sinilah konflik epik di dalam kepala kita dimulai. Saat kita berhadapan dengan hal yang tak bisa diubah, seperti balasan chat yang tak kunjung datang atau pesawat yang delay, sistem peringatan dini kita menyala terang. Otak membanjiri tubuh kita dengan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Kita dipersiapkan untuk bertarung atau kabur (fight or flight). Masalahnya, kita tidak bisa meninju kemacetan. Kita juga tidak bisa berlari menjauh dari delay pesawat. Energi stres itu terjebak di dalam tubuh kita. Jika dibiarkan, penumpukan stres akibat hal-hal yang tak bisa kita ubah ini akan menciptakan apa yang dalam sains disebut sebagai allostatic load, yaitu keausan pada tubuh dan otak akibat stres kronis. Lalu, muncul sebuah pertanyaan besar. Jika mengkhawatirkan hal yang di luar kendali itu merusak tubuh, mengapa otak rasanya menolak untuk berhenti? Adakah cara untuk mematikan alarm palsu ini? Apakah kita hanya ditakdirkan untuk tersiksa oleh hal-hal yang tidak bisa kita ubah?

IV

Inilah temuan paling menarik dari neurosains modern, yang sekaligus menjadi rahasia di balik dikotomi kendali. Membiarkan segala sesuatu berlalu, atau bersikap pasrah, sering kali disalahpahami sebagai bentuk kelemahan atau menyerah kalah. Padahal, faktanya justru sebaliknya. Menerima hal yang tidak bisa diubah adalah sebuah proses neurologis yang sangat aktif. Saat kita secara sadar memilah situasi—bertanya pada diri sendiri, "Apakah ini di bawah kendaliku?"—kita sedang memindahkan aliran darah dan energi listrik di otak kita. Kita menarik tenaga dari amygdala yang panik, dan menyalurkannya ke prefrontal cortex, yaitu bagian depan otak yang bertanggung jawab atas logika dan kebijaksanaan. Lebih spesifik lagi, sains menemukan bahwa saat kita berlatih melepaskan hal yang tak bisa diubah, kita mengaktifkan sebuah area bernama ventromedial prefrontal cortex. Area inilah yang bertugas mengirimkan sinyal penenang. Ia seolah berbisik kepada amygdala, "Hei, kita memang tidak bisa mengendalikan hujan ini, tapi kita aman. Matikan alarmnya." Jadi, mempraktikkan dikotomi kendali bukanlah sikap masa bodoh. Itu adalah cara kita menekan tombol override pada sistem operasi otak purba kita. Kita merebut kembali kendali, justru dengan cara menyadari apa yang tidak bisa kita kendalikan.

V

Pada akhirnya, belajar menerapkan dikotomi kendali adalah sebuah proses seumur hidup. Otak kita memang dirancang untuk peduli, merespons, dan kadang-kadang, menjadi sedikit terlalu dramatis. Namun, sains memberi kita kabar baik bahwa struktur otak kita tidaklah kaku. Kita memiliki neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk membentuk jalur kebiasaan baru. Besok-besok, saat kita kembali terjebak dalam situasi yang menyebalkan dan di luar kuasa kita, mari kita coba tarik napas panjang. Berikan empati pada diri kita sendiri. Wajar jika kita merasa kesal pada awalnya. Setelah itu, perlahan geser fokus kita. Kita mungkin tidak bisa memaksa kemacetan untuk terurai, tapi kita berkuasa penuh untuk memilih podcast apa yang ingin kita dengarkan, atau mengatur suhu AC mobil agar lebih nyaman. Dengan melakukan hal kecil ini, kita tidak hanya sedang mempraktikkan kebijaksanaan kuno. Kita sedang merawat otak kita, melindunginya dari stres yang tak perlu, dan merayakan kemerdekaan kecil di tengah dunia yang sering kali tidak masuk akal.