biologi tawa dan humor

cara stoik menggunakan komedi untuk meringankan beban hidup

biologi tawa dan humor
I

Pernahkah kita berada di sebuah situasi yang sangat kacau, tapi entah kenapa respons fisik kita malah ingin tertawa? Misalnya, saat dompet hilang, ban motor bocor di tengah hujan, dan atasan marah-marah di hari yang sama. Bukannya menangis, kita malah terkekeh sendirian di pinggir jalan. Secara logika, ini rasanya tidak masuk akal. Otak kita jelas-jelas tahu bahwa ini adalah situasi gawat yang mengancam kesejahteraan hidup. Tapi mengapa respons otomatis tubuh kita malah mengeluarkan suara tawa? Ada sebuah keanehan biologis yang sedang terjadi di sini, dan rahasia di baliknya jauh lebih dalam dari sekadar "hilang kewarasan sementara".

II

Mari kita bedah keanehan ini dari kacamata biologi evolusioner. Tawa sebenarnya adalah sebuah fitur purba, jauh lebih tua dari bahasa manusia itu sendiri. Nenek moyang kita, dan kerabat primata kita seperti simpanse, menggunakan tawa sebagai sinyal false alarm atau alarm palsu. Bayangkan sekelompok manusia purba mendengar suara gemerisik di semak-semak. Jantung mereka berdebar, bersiap menghadapi harimau sabertooth. Tapi yang keluar ternyata hanya seekor kelinci. Rasa lega yang tiba-tiba itu dilepaskan lewat tawa. Sinyal ini memberitahu kawanannya: "Hei, ancaman sudah lewat, kita aman."

Secara neurologis, proses ini sangat luar biasa. Saat kita tertawa, otak kita dengan sengaja membanjiri sistem saraf dengan endorfin dan dopamin. Di saat yang sama, tawa menekan produksi kortisol dan adrenalin, hormon-hormon pemicu stres yang merusak tubuh jika dibiarkan terlalu lama. Jadi, dari sudut pandang hard science, tawa bukanlah sekadar ekspresi kebahagiaan. Tawa adalah sistem pertahanan tubuh. Ia adalah pereda nyeri alami yang dirancang secara biologis untuk menyelamatkan otak kita dari kerusakan akibat kepanikan yang berlebihan.

III

Namun, di sinilah kita menemukan masalah baru yang menarik untuk direnungkan. Hidup kita di era modern ini bukan lagi sekadar alarm palsu. Terkadang, "harimau" itu benar-benar nyata. Tagihan yang menumpuk, ekspektasi sosial yang mencekik, penyakit, hingga kehilangan orang yang kita cintai adalah ancaman nyata yang tidak akan pergi hanya dengan ditertawakan. Jika tawa secara biologis diciptakan untuk merayakan alarm palsu, bagaimana kita bisa menggunakannya untuk menghadapi tragedi sungguhan?

Mari kita tarik mundur waktu ke masa ribuan tahun lalu, ke jalanan berdebu Yunani dan Romawi kuno. Kita akan bertemu dengan para praktisi filosofi Stoikisme. Kalau kita mendengar kata "Stoik", mungkin yang terbayang di kepala kita adalah sosok pria berjubah kaku, berwajah datar, dan tidak punya emosi. Mirip seperti robot yang menerima nasib dengan pasrah. Tapi, ada satu kepingan sejarah psikologi yang jarang dibahas di buku-buku populer. Bagaimana kalau saya bilang bahwa filosofi yang kelihatannya kaku ini, sebenarnya memiliki irisan yang sangat tajam dengan stand-up comedy? Teman-teman, bagaimana mungkin sebuah aliran filsafat yang serius menggunakan humor sebagai senjata utamanya?

IV

Jawabannya terletak pada satu mekanisme psikologis yang sangat kuat: cognitive reframing atau membingkai ulang sudut pandang. Ternyata, inti dari Stoikisme dan inti dari komedi itu sama persis. Keduanya adalah seni mengubah cara kita melihat tragedi. Orang Stoik percaya bahwa kita tidak bisa mengontrol apa yang dilemparkan dunia kepada kita, tapi kita punya kendali absolut atas respons kita. Komedi bekerja dengan rute yang sama. Komedi mengambil sesuatu yang menyakitkan, lalu memutarnya sedikit saja sampai hal itu terlihat absurd.

Epictetus, seorang filsuf Stoik besar, adalah seorang mantan budak yang kakinya dibuat pincang karena disiksa secara brutal oleh majikannya. Bukannya tenggelam dalam amarah seumur hidup, ia sering merespons penderitaan fisiknya dengan humor yang kering dan sarkas. Saat ia terancam diasingkan atau dibunuh, ia menanggapinya dengan santai, seolah kematian hanyalah proses biologi biasa yang kebetulan agak merepotkan.

Secara psikologis, apa yang dilakukan Epictetus disebut sebagai psychological distancing. Saat kita mampu menertawakan kemalangan kita sendiri, kita sedang memaksa otak kita keluar dari amygdala (pusat rasa takut) dan pindah ke prefrontal cortex (pusat logika dan kreativitas). Kita meletakkan jarak yang aman antara diri kita dan rasa sakit tersebut. Begitu kita menertawakan sebuah masalah, masalah itu kehilangan giginya. Masalah itu menyusut dari monster yang mengerikan menjadi sekadar lelucon kosmik yang konyol.

V

Jadi, teman-teman, mari kita satukan kepingan-kepingan ini. Saat dunia sedang hancur lebur dan kita memilih untuk tertawa, kita sama sekali tidak sedang berada dalam fase penyangkalan (denial). Kita justru sedang melakukan peretasan (hacking) tingkat tinggi terhadap sistem biologi kita sendiri, sekaligus mempraktikkan filosofi kuno yang sudah teruji zaman.

Kita menggunakan tawa untuk menyuntikkan endorfin agar tubuh tidak hancur oleh stres. Dan di saat yang sama, kita menggunakan kacamata komedi ala Stoik untuk mengambil alih narasi kehidupan kita. Kita membuktikan pada diri sendiri bahwa seberat apa pun beban yang dijatuhkan dunia, dunia tidak bisa merampas reaksi kita. Kehidupan memang akan selalu punya cara kreatif untuk menjegal dan membanting kita ke tanah. Itu adalah fakta yang tidak bisa kita hindari. Tapi di penghujung hari yang melelahkan, kita selalu punya satu pilihan terakhir: kita bisa memilih untuk menertawakan seberapa absurdnya pose kita saat terjatuh. Mari kita hadapi hari esok dengan sedikit senyum cerdik dan hati yang jauh lebih tangguh.