Altruisme Semu

sains di balik alasan kenapa kita menolong orang lain

Altruisme Semu
I

Pernahkah kita terjebak hujan deras di halte, lalu tiba-tiba ada orang asing yang menawari kita tumpangan payung sampai ke stasiun? Atau sesederhana momen saat kita memutuskan memberi jalan untuk seorang ibu yang tampak terburu-buru di antrean kasir supermarket. Saat melakukan atau menerima hal-hal kecil itu, ada perasaan damai yang menyelimuti kita. Kita merasa dunia ini tidak seburuk yang diberitakan di televisi. Kita merasa menjadi manusia yang baik. Namun, mari kita duduk sejenak dan membedah perasaan nyaman ini bersama-sama. Di balik senyum tulus saat kita menolong orang lain, ada sebuah mesin biologis purba yang sedang bekerja secara diam-diam di dalam diri kita.

II

Ratusan tahun lalu, bapak evolusi kita, Charles Darwin, sempat dibuat pusing tujuh keliling melihat fenomena tolong-menolong ini. Dalam teori evolusi dan hukum rimba survival of the fittest, setiap makhluk hidup seharusnya bersifat egois. Logikanya, kita didesain hanya untuk memedulikan kelangsungan hidup kita sendiri dan keturunan kita. Lalu pertanyaannya, kenapa lebah pekerja rela mati demi melindungi sarang koloninya? Kenapa manusia rela mendonorkan darah, membuang waktu, dan menghabiskan uang untuk orang asing yang bahkan tidak ada hubungan genetik sama sekali? Fakta sejarah dan biologi ini seolah saling bertabrakan. Di titik inilah, para ilmuwan mulai curiga. Jangan-jangan, kebaikan murni tanpa pamrih yang selama ini kita banggakan sebenarnya adalah sebuah ilusi yang sangat rapi.

III

Coba kita jujur pada diri sendiri. Mari kita ingat-ingat lagi momen saat kita menyumbang uang untuk korban bencana alam atau memberi makan kucing jalanan. Apakah tindakan itu murni seratus persen demi mereka? Atau, jangan-jangan, karena ada perasaan lega, bangga, dan hangat di dada kita setelah menekan tombol "donasi" di layar ponsel? Di dunia psikologi, fenomena ini dikenal dengan istilah warm-glow effect. Kita secara tidak sadar kecanduan pada sensasi hangat yang menjalar di dada saat kita berbuat baik. Hal ini membuka sebuah celah pertanyaan yang cukup mengusik ego kita. Apakah kita benar-benar menolong orang lain demi keselamatan mereka, atau sebenarnya kita sekadar melayani diri kita sendiri agar merasa menjadi "orang suci"?

IV

Untuk menjawab teka-teki itu, mari kita bedah isi kepala kita menggunakan kacamata neurosains. Saat kita menolong orang lain, otak kita ternyata langsung membanjiri tubuh dengan koktail kimiawi yang luar biasa nikmat. Ada dopamin yang memberikan rasa puas dan penghargaan. Ada serotonin yang menstabilkan mood kita. Lalu ada oksitosin, si hormon cinta, yang membuat kita merasa terhubung erat dengan manusia lain. Secara evolusioner, kebaikan ternyata adalah sebuah alat pertahanan hidup yang egois. Di zaman purba, leluhur kita yang pelit dan tidak mau berbagi akan dikucilkan dari kelompoknya. Tanpa perlindungan kelompok, mereka akan mati kelaparan atau dimakan predator. Sebaliknya, mereka yang rajin menolong akan ditolong balik saat sedang kesusahan. Para ilmuwan biologi menyebut konsep ini sebagai reciprocal altruism atau altruisme timbal balik. Kebaikan yang kita tabur hari ini sebenarnya adalah asuransi biologi untuk keselamatan kita di masa depan. Jadi, secara hard science, kebaikan murni yang benar-benar tanpa pamrih itu nyaris tidak ada. Mayoritas dari kita sedang mempraktikkan "altruisme semu", karena otak dan DNA kita memang didesain untuk memburu reward kimiawi demi kelangsungan hidup kita sendiri.

V

Mendengar fakta sains ini mungkin terasa agak sinis. Rasanya seolah-olah ketulusan hati kita dilucuti secara paksa oleh logika biologi. Tapi tunggu dulu, teman-teman. Saya justru melihat temuan sains ini sebagai sesuatu yang sangat indah dan puitis. Alam semesta dan proses evolusi jutaan tahun ternyata menemukan cara paling brilian untuk memastikan umat manusia tidak punah saling bunuh. Caranya? Dengan membuat kita kecanduan berbuat baik. Tidak peduli apakah ada motif tersembunyi berupa semburan dopamin di otak kita, atau asuransi keselamatan dari reciprocal altruism. Fakta bahwa umat manusia diciptakan untuk merasa bahagia saat melihat orang lain bahagia adalah sebuah keajaiban psikologis. Jadi, tidak perlu merasa bersalah atas biologi kita. Teruslah berbuat baik, dan teruslah nikmati perasaan warm-glow tersebut tanpa ragu. Karena pada akhirnya, egoisme kecil di dalam otak kita itulah yang selama ini menjaga dunia tetap berputar dan merawat kemanusiaan kita bersama.