sains tentang aksen
mengapa kita sulit menghilangkan logat saat bicara bahasa asing
Pernahkah kita mengalami momen ini? Kita sedang sendirian, menonton film Hollywood atau mendengarkan podcast berbahasa Inggris. Di dalam kepala, kita bisa menirukan dialog para aktor itu dengan sangat sempurna. Aksen British atau American kita terdengar luar biasa mulus, setidaknya di dalam batin. Namun, begitu kita membuka mulut dan mengucapkannya keras-keras, realitas langsung menampar. Yang keluar justru logat medok Jawa, ayunan khas Batak, atau cengkok standar Indonesia yang sangat kental.
Saya yakin banyak dari teman-teman yang pernah merasa frustrasi karena hal ini. Kita sudah belajar grammar bertahun-tahun, perbendaharaan kata kita juga lumayan luas. Namun, mengapa menghilangkan aksen asli saat bicara bahasa asing itu susahnya minta ampun? Apakah lidah kita ini terbuat dari kayu? Tentu saja tidak. Mari kita duduk bersama dan membedah misteri ini.
Sebelum kita masuk ke urusan biologi, kita perlu paham dulu mengapa kita begitu peduli, atau bahkan merasa insecure, dengan aksen kita. Rasa malu karena memiliki logat asing ini sebenarnya berakar dalam pada sejarah evolusi dan psikologi manusia. Sejak zaman purba, manusia bertahan hidup dengan cara berkelompok. Dan bagaimana cara paling cepat untuk mengenali siapa kawan dan siapa lawan? Lewat cara mereka berbicara.
Dalam sejarah dan linguistik, ada konsep yang disebut shibboleth. Ini adalah kata atau kebiasaan pengucapan yang digunakan untuk mengidentifikasi apakah seseorang benar-benar anggota kelompok asli atau orang luar yang menyusup. Jika pengucapannya meleset sedikit saja, otak kita secara naluriah akan menyalakan alarm peringatan: "Hei, orang ini bukan bagian dari suku kita."
Jadi, ketakutan kita akan dihakimi karena aksen yang "berbeda" adalah sisa-sisa mekanisme pertahanan hidup masa lalu. Otak sosial kita sangat sensitif terhadap nada, irama, dan tekanan suara. Tapi, pertanyaannya sekarang bergeser. Kalau kita sudah tahu pentingnya aksen secara sosial, dan kita sudah berusaha keras berlatih, mengapa lidah kita tetap saja "bandel" dan menolak diajak kompromi?
Di sinilah misterinya mulai terkuak. Kadang kita merasa bahwa kita hanya kurang banyak berlatih mendengar. Jadi, kita putar lagu bahasa asing setiap hari. Kita tirukan gaya bicara penutur aslinya. Tapi tebak apa yang terjadi? Aksen asli kita tetap setia menempel.
Lalu muncul pertanyaan besar di kepala kita. Apakah setelah melewati usia tertentu, kemampuan belajar bahasa kita benar-benar mati? Apakah pintu kesempatan itu sudah digembok selamanya oleh alam?
Banyak ilmuwan bahasa sempat berdebat soal ini. Beberapa bilang ini murni soal kebiasaan, yang lain bilang ini soal bakat. Tapi sains modern menemukan fakta yang jauh lebih mencengangkan. Ketidakmampuan kita menghilangkan logat asli ternyata bukan tentang seberapa keras kita berusaha atau seberapa pintar kita. Ini adalah kisah tentang apa yang terjadi pada otak kita saat kita masih bayi, dan sebuah proses pemotongan kejam yang terjadi di dalam kepala kita tanpa kita sadari.
Mari kita masuk ke bagian sains yang sesungguhnya. Teman-teman, saat kita baru lahir, kita adalah "warga negara dunia". Bayi manusia memiliki kemampuan ajaib untuk mendengar dan membedakan sekitar 800 phonemes (satuan bunyi terkecil) dari seluruh bahasa di dunia. Bayi di Indonesia bisa mendengar perbedaan bunyi spesifik dari bahasa Arab, Mandarin, atau Swahili dengan sama baiknya.
Namun, kemampuan ajaib ini memakan sangat banyak energi. Otak manusia itu sangat efisien, alias pelit energi. Menjelang usia satu tahun, otak kita mulai menyadari, "Tunggu dulu, sepertinya kita hanya butuh bunyi bahasa Indonesia dan bahasa Sunda untuk bertahan hidup di rumah ini. Buat apa mempertahankan kemampuan mendengar bahasa Rusia?"
Maka terjadilah proses yang disebut synaptic pruning atau pemangkasan sinapsis. Otak kita secara harfiah "membuang" sirkuit saraf yang tidak terpakai untuk mengenali bunyi bahasa asing, demi memperkuat sirkuit bahasa ibu kita. Otak kita menjadi sangat spesifik. Ini sebabnya, orang dewasa Jepang kesulitan membedakan bunyi huruf "L" dan "R", karena dalam bahasa ibu mereka, batas kedua bunyi itu tidak relevan.
Selain neurologi, ini juga masalah biomekanik ekstrem. Berbicara membutuhkan koordinasi presisi dari bibir, lidah, rahang, dan pita suara. Selama dua puluh atau tiga puluh tahun hidup, otot-otot mulut kita telah dilatih layaknya atlet Olimpiade cabang bahasa Indonesia. Otot-otot itu punya muscle memory yang sangat kaku.
Ketika kita mencoba mengucapkan kata dalam bahasa asing, otak kita menipu kita. Otak akan mengambil jalan pintas dengan menggunakan "peta otot" dari bahasa ibu kita yang bunyinya paling mirip dengan bahasa asing tersebut. Kita mengira kita mengucapkan bunyi yang baru, padahal secara fisik, kita sedang melakukan gerakan mulut bahasa ibu kita. Inilah yang menciptakan apa yang kita sebut sebagai "aksen".
Jadi, mari kita tarik napas sejenak. Jika selama ini teman-teman sering merasa malu saat berbicara bahasa asing karena aksen daerah atau aksen Indonesia yang kental, berhentilah menghukum diri sendiri.
Sains membuktikan bahwa aksen bukanlah tanda kebodohan, bukan pula tanda kegagalan belajar. Aksen adalah bukti fisik dari efisiensi otak kita. Logat yang kita miliki adalah mahakarya neurologis yang dibentuk oleh cinta, keluarga, dan lingkungan tempat kita dibesarkan. Itu adalah jejak rekam sejarah hidup kita yang tertinggal di ujung lidah.
Bisa berkomunikasi dalam bahasa kedua, ketiga, atau keempat dengan aksen apa pun adalah sebuah pencapaian kognitif yang luar biasa. Jadi, bicaralah dengan lantang. Jangan sembunyikan logat itu. Karena pada akhirnya, aksen kita adalah cerita tentang dari mana kita berasal, sementara kata-kata yang kita ucapkan adalah cerita tentang ke mana kita akan pergi.