psikologi jargon

mengapa komunitas menciptakan bahasa mereka sendiri untuk eksklusi

psikologi jargon
I

Pernahkah kita duduk santai di kedai kopi, lalu tidak sengaja mendengar obrolan meja sebelah? Mereka berbicara dengan semangat, tapi kalimatnya kira-kira begini: "Jadi bandwidth kita lagi bottleneck, mending kita pivot ke strategi agile biar ROI-nya lebih makes sense." Kita yang mendengarnya mungkin cuma bisa mengernyitkan dahi sambil menyeruput kopi. Bahasa planet mana itu? Di momen seperti ini, kita seringkali tiba-tiba merasa terasing. Seolah ada sebuah dinding kasat mata yang tebal memisahkan "kita" yang awam, dan "mereka" yang keren. Tapi jujur saja, kita semua pasti punya kelompok bermain dengan bahasa rahasianya sendiri. Entah itu bahasa gaul tongkrongan semasa sekolah, istilah spesifik anak gamers, atau singkatan ajaib para pekerja kantoran. Pertanyaannya, mengapa kita sebagai manusia repot-repot menciptakan kata-kata aneh yang justru mempersulit komunikasi antar sesama?

II

Mari kita mundur sejenak. Jauh sebelum ada istilah kantoran yang necis atau bahasa slang internet, nenek moyang kita ternyata sudah melakukan hal yang sama. Dalam sejarah evolusi manusia, menciptakan bahasa khusus bukanlah sekadar gaya-gayaan semata. Ini adalah murni urusan hidup dan mati. Coba teman-teman bayangkan hidup di zaman berburu dan meramu. Di alam liar yang sangat keras, mengenali mana kawan dan mana lawan secara cepat adalah kunci utama untuk bertahan hidup. Otak kita secara perlahan berevolusi untuk membagi dunia menjadi dua kotak yang sangat sederhana: kelompok saya (ingroup) dan orang luar (outgroup). Nah, cara paling instan dan akurat untuk mengenali anggota kelompok kita adalah dari cara mereka berbicara. Jika ada orang asing datang mendekat dan tidak tahu kata sandi atau logat khas suku kita, otak primitif kita akan langsung membunyikan alarm bahaya. Insting purba untuk bertahan hidup inilah yang, tanpa kita sadari, masih kita bawa sampai hari ini ke meja rapat kantor atau ke dalam grup WhatsApp keluarga.

III

Ilmu psikologi punya nama untuk fenomena ini: Social Identity Theory atau Teori Identitas Sosial. Teori ini menjelaskan dengan indah bahwa harga diri kita sangat bergantung pada kelompok mana kita berhasil bergabung. Namun, selalu ada satu sisi gelap dari teori ini yang jarang kita bicarakan. Agar sebuah kelompok terasa eksklusif, aman, dan spesial, harus ada orang-orang yang tidak boleh masuk. Di sinilah jargon atau bahasa khusus mengambil peran utamanya sebagai penjaga gerbang. Sejarah bahkan mencatat penggunaan kata sebagai alat seleksi kejam ini dengan sebutan shibboleth. Pada zaman kuno, kata shibboleth digunakan oleh satu suku untuk mengidentifikasi musuh yang mencoba menyusup, hanya karena musuh tersebut secara biologis tidak bisa melafalkan bunyi "sy" dengan benar. Sampai di titik ini, teman-teman mungkin mulai menyadari sebuah paradoks. Jika tujuan utama diciptakannya bahasa adalah untuk menyampaikan pesan agar dimengerti, mengapa jargon justru dirancang untuk tidak dipahami oleh banyak orang? Apa sebenarnya yang diam-diam sedang kita lindungi saat kita melontarkan istilah-istilah rumit itu ke wajah orang lain?

IV

Jawabannya mungkin akan sedikit menyentil ego kita bersama. Riset psikologi modern menemukan sebuah fakta yang cukup telanjang: penggunaan jargon seringkali bukanlah tentang komunikasi, melainkan tentang dominasi dan eksklusi. Mari kita bedah rahasia ini melalui lensa Costly Signaling Theory. Dalam ilmu biologi evolusioner, hewan sering melakukan hal-hal yang menguras banyak energi hanya untuk pamer status. Contoh paling klasik adalah burung merak jantan dengan ekornya yang sangat berat dan mencolok. Bagi manusia modern, menghafal dan menggunakan istilah akademis yang rumit, atau singkatan bisnis yang berbelit-belit, adalah bentuk "ekor merak" kita. Kita sedang memberikan sinyal tegas: "Saya pintar, saya bagian dari kaum elit di bidang ini, dan kamu bukan." Sebuah studi menarik dari Columbia Business School bahkan menemukan fakta yang ironis. Orang yang posisinya merasa tidak aman (insecure) secara profesional, ternyata menggunakan jargon jauh lebih banyak daripada mereka yang posisinya sudah mapan. Mereka menggunakan kata-kata sulit sebagai perisai pelindung dari evaluasi orang lain. Jadi, ketika ada seseorang yang terus-menerus membombardir kita dengan bahasa level dewa yang tak bisa dipahami, kemungkinan besar mereka sebenarnya sedang merasa terancam. Mereka sedang berusaha keras membangun tembok tinggi untuk memisahkan diri mereka dari kita yang dianggap orang awam.

V

Menyadari kelemahan psikologis ini sebetulnya memberi kita perspektif baru yang jauh lebih empatik. Lain kali jika kita berhadapan dengan seseorang yang berbicara seolah sedang membacakan kamus bahasa alien, kita tidak perlu lagi merasa bodoh, tertinggal, atau terintimidasi. Kita cukup tersenyum dalam hati dan menyadari bahwa itu hanyalah cara otak primata mereka mencari rasa aman di dunia yang penuh persaingan ini. Namun, ini juga menjadi bahan refleksi yang sangat bagus untuk kita sendiri. Mari kita tanyakan pada diri kita hari ini: apakah bahasa yang kita gunakan sehari-hari bertujuan untuk merangkul orang lain, atau diam-diam kita pakai untuk mengusir mereka? Berpikir kritis dan menjadi ahli di suatu bidang bukan berarti kita harus memakai kata-kata yang sulit dicerna. Justru, ilmu pengetahuan telah lama membuktikan bahwa tanda sejati dari kecerdasan dan pemahaman tingkat tinggi adalah kemampuan untuk menjelaskan hal yang paling rumit dengan bahasa yang paling sederhana. Karena pada akhirnya, sehebat apapun sebuah ide yang kita miliki, ia tidak akan punya makna apa-apa jika hanya bergema di dalam ruang kedap suara yang kita bangun sendiri.