mitos bahasa ibu

apakah kita benar-benar berpikir menggunakan satu bahasa saja

mitos bahasa ibu
I

Pernahkah kita sedang melamun di bus atau di kereta, lalu tiba-tiba teringat jemuran belum diangkat? Coba kita putar ulang momen itu pelan-pelan. Suara di dalam kepala kita tadi, pakai bahasa apa? Kalau kita lahir dan besar di Jawa, mungkin teguran batin itu berbahasa Jawa. Kalau di Jakarta, ya bahasa Indonesia kasual. Dari pengalaman sehari-hari inilah muncul sebuah asumsi kuat di masyarakat: kita selalu berpikir menggunakan bahasa ibu kita. Seolah-olah di dalam tengkorak kita ada sosok kecil yang terus-menerus bicara pakai bahasa pertama yang kita pelajari. Tapi sebagai manusia yang dikaruniai rasa penasaran, mari kita berhenti sejenak dan bertanya. Benarkah cara kerja otak sesederhana itu? Apakah pikiran kita benar-benar dipenjara oleh satu bahasa saja?

II

Untuk membongkar mitos ini, saya ingin mengajak teman-teman mundur sedikit melihat dari mana konsep mother tongue atau bahasa ibu ini berasal. Secara historis dan psikologis, bahasa ibu adalah jangkar identitas kita. Ini adalah bahasa emosi. Sadar atau tidak, ketika kita tidak sengaja menginjak paku atau tiba-tiba ketakutan, umpatan atau teriakan yang keluar hampir pasti adalah bahasa ibu kita, bukan bahasa asing yang baru kita pelajari tahun lalu. Otak sangat mengandalkan bahasa pertama untuk mengekspresikan emosi mentah.

Namun, seiring berjalannya waktu, kita tumbuh. Kita belajar bahasa asing di sekolah, kita menonton film dari berbagai negara, kita berinteraksi di internet. Pernahkah teman-teman menyadari bahwa kadang kita tiba-tiba ngedumel di dalam hati menggunakan bahasa Inggris? Atau tiba-tiba kita bermimpi dalam bahasa yang bukan bahasa ibu kita? Fenomena ini perlahan mulai meruntuhkan tembok asumsi kita. Kalau memang otak kita di-setting untuk berpikir dengan bahasa ibu, kenapa kita bisa dengan mudah berganti bahasa di dalam kepala kita sendiri?

III

Di titik inilah sains kognitif mulai melempar teka-teki yang bikin dahi kita berkerut. Mari kita lakukan satu eksperimen pikiran sederhana bersama-sama. Sekarang, coba teman-teman bayangkan bentuk pintu depan rumah masa kecil kita. Warnanya, gagang pintunya, goresan di kayunya. Sudah terbayang? Pertanyaannya: apakah saat membayangkan itu, teman-teman membutuhkan kata "pintu" atau "warna cokelat" di dalam kepala untuk memanggil memori tersebut? Tentu tidak, kan? Gambar itu langsung muncul begitu saja.

Lalu, mari kita tengok teman-teman kita yang tuli sejak lahir. Mereka tidak pernah mendengar suara bahasa lisan. Jika manusia memang mutlak berpikir menggunakan bahasa ibu berupa suara lisan, apakah kepala mereka kosong? Tentu saja tidak. Mereka berpikir menggunakan visualisasi, ruang, dan gerakan tangan. Ini memunculkan sebuah pertanyaan besar di kalangan ahli saraf. Pasti ada sesuatu yang jauh lebih purba dan fundamental di dalam otak kita dibandingkan sekadar kosa kata. Ada sebuah "ruang misterius" di kepala kita sebelum kata-kata itu tercipta. Ruang apakah itu?

IV

Inilah rahasia terbesarnya. Berdasarkan penelitian panjang di bidang psikologi kognitif dan linguistik, otak kita tidak berpikir menggunakan bahasa ibu, bahasa Inggris, atau bahasa manusia apa pun.

Para ilmuwan punya istilah yang sangat menarik untuk ini: mentalese atau bahasa pikiran. Pada dasarnya, pikiran mentah kita itu tidak berwujud kata-kata. Ia berbentuk konsep abstrak, kilasan memori, emosi, gambar, dan sensasi fisik. Proses pembentukan ide ini terjadi di otak dalam hitungan milidetik, jauh lebih cepat sebelum kesadaran kita menyadarinya. Peneliti menyebut fenomena ini sebagai unsymbolized thinking—berpikir murni tanpa simbol kata.

Jadi, bagaimana proses aslinya? Otak kita pertama-tama meramu konsep abstrak tersebut. Setelah konsepnya matang, barulah otak kita mencari "baju" yang paling pas untuk memakaikannya agar bisa dipahami secara sadar atau diucapkan. Kalau kebetulan kita sedang ngobrol dengan keluarga, otak secara otomatis mengambil "baju" bahasa ibu. Kalau kita habis maraton nonton serial barat, otak dengan santai mengambil "baju" bahasa Inggris. Kesimpulannya, bahasa ibu bukanlah sistem operasi utama otak kita. Bahasa hanyalah sekadar software penerjemah (atau antarmuka) yang kebetulan paling sering kita pakai sejak kecil.

V

Mengetahui fakta ilmiah ini rasanya sangat membebaskan, bukan? Kadang kita merasa bingung atau mengira kita kehilangan jati diri ketika isi kepala kita mulai campur aduk menggunakan berbagai macam bahasa. Tenang saja, teman-teman, kita sama sekali tidak aneh. Itu justru bukti betapa canggih, sehat, dan fleksibelnya saraf kognitif kita.

Kita memproses dunia dengan cara yang jauh lebih kaya, lebih dalam, dan lebih kompleks dari sekadar deretan huruf di kamus. Pikiran kita menari di atas emosi dan konsep, melampaui sekat-sekat tata bahasa. Jadi, lain kali kalau kita mendadak kehabisan kata-kata untuk menjelaskan sebuah perasaan, jangan lekas frustrasi. Itu bukan karena kita tidak pintar bicara. Mungkin saja, apa yang sedang terjadi di dalam mentalese kita saat itu memang terlalu indah dan terlalu rumit untuk sekadar diterjemahkan ke dalam bahasa manusia.