bahasa dan orientasi ruang

bagaimana arah mata angin menentukan pola pikir suku tertentu

bahasa dan orientasi ruang
I

Bayangkan kita sedang berjalan-jalan di sebuah kota yang baru pertama kali kita kunjungi. Kita membuka peta di ponsel, lalu terdengar instruksi: "Belok kiri di pertigaan depan, lalu jalan terus sampai menemukan kafe di sebelah kanan."

Sangat wajar, bukan? Menggunakan konsep "kiri", "kanan", "depan", dan "belakang" adalah cara standar otak kita memetakan dunia. Posisi benda-benda selalu berpusat pada diri kita sendiri. Cangkir kopi ada di depan saya. Pohon itu ada di kiri saya. Kalau saya berbalik badan, cangkir kopi itu tiba-tiba ada di belakang saya.

Tapi, pernahkah teman-teman membayangkan, bagaimana rasanya hidup di dalam sebuah realitas di mana kata "kiri" dan "kanan" sama sekali tidak pernah diciptakan?

II

Mari kita melintasi ruang dan waktu sejenak, menuju sebuah wilayah pesisir di utara Queensland, Australia. Di sana, hidup komunitas adat yang dikenal sebagai suku Guugu Yimithirr.

Pada dekade 1970-an, para ahli bahasa dan psikolog kognitif datang ke sana dan menemukan sesuatu yang membuat mereka harus menulis ulang banyak hal di buku cetak akademik. Mereka menemukan bahwa bahasa Guugu Yimithirr tidak memiliki konsep arah relatif (berpusat pada diri sendiri) seperti yang kita gunakan sehari-hari.

Sebagai gantinya, mereka menggunakan sistem arah absolut yang mengacu pada alam semesta: utara, selatan, timur, dan barat.

Bagi kita, percakapan mereka mungkin terdengar sangat absurd. Jika ada seekor semut merayap di kaki teman kita, kita akan bilang, "Awas, ada semut di kaki kananmu!" Tapi, orang Guugu Yimithirr akan berkata, "Awas, ada semut di kaki barat dayamu!" Dan jika teman kita itu berbalik arah, semut itu secara otomatis berubah menjadi berada di kaki "barat laut". Menarik sekali, bukan?

III

Sekarang, mari kita merenung sejenak. Teman-teman mungkin berpikir, "Oke, mereka menggunakan arah mata angin untuk mengobrol. Memangnya kenapa? Bukankah itu cuma sekadar beda kosa kata?"

Tunggu dulu. Ilmu psikologi modern dan neurosains mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mendalam dari sekadar urusan kosa kata.

Kita tahu bahwa bahasa adalah alat untuk berkomunikasi. Tapi, mungkinkah bahasa yang kita gunakan setiap hari sebenarnya membentuk realitas yang kita rasakan? Mungkinkah kata-kata yang keluar dari mulut kita mendikte cara otak kita merangkai memori?

Lalu, apa jadinya kalau kita membawa seseorang dari suku Guugu Yimithirr ke sebuah hotel modern, memasukkan mereka ke dalam kamar tertutup yang gelap tanpa jendela, dan memutar tubuh mereka berkali-kali? Apakah mereka akan kehilangan disorientasi dan merasa pusing seperti kita? Ataukah ada rahasia besar di dalam otak mereka yang belum kita pahami?

IV

Inilah fakta ilmiahnya yang sangat luar biasa. Bahasa ternyata bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah "sistem operasi" bagi otak kita.

Dalam sains kognitif, ada hipotesis yang sangat terkenal bernama linguistic relativity. Sederhananya: bahasa yang kita tuturkan menentukan cara kita berpikir. Karena bahasa Guugu Yimithirr menuntut penuturnya untuk selalu menggunakan arah mata angin, otak mereka beradaptasi secara ekstrem sejak masa kanak-kanak.

Mereka mengembangkan kemampuan yang oleh para ilmuwan disebut sebagai dead reckoning. Ini adalah semacam kompas batin atau sistem navigasi bawah sadar yang sangat akurat. Walaupun orang Guugu Yimithirr dimasukkan ke dalam ruangan gelap tanpa jendela di gedung yang sama sekali baru, mereka tetap tahu persis di mana letak utara, selatan, timur, dan barat. Pikiran mereka selalu terkalibrasi dengan bumi setiap detik, tanpa mereka sadari.

Namun, kejutan terbesarnya bukan hanya soal arah, melainkan soal waktu.

Coba bayangkan urutan waktu dari masa lalu ke masa depan. Dalam benak kita, masa lalu biasanya ada di sebelah "kiri", dan masa depan ada di sebelah "kanan", bukan? Ini karena bahasa kita berpusat pada arah relatif.

Peneliti pernah memberikan tumpukan foto berisi urutan usia seseorang kepada orang Guugu Yimithirr, dan meminta mereka menyusunnya dari muda ke tua. Kalau mereka sedang menghadap ke utara, mereka menyusun foto itu dari kanan ke kiri (timur ke barat). Kalau mereka menghadap ke selatan, mereka menyusunnya dari kiri ke kanan (tetap timur ke barat).

Bagi mereka, waktu tidak bergerak mengikuti tubuh mereka. Waktu bergerak mengikuti pergerakan matahari. Diri mereka bukanlah pusat dari alam semesta; alam semesta-lah yang menjadi pusat dari diri mereka.

V

Mempelajari cara suku Guugu Yimithirr berpikir rasanya seperti membuka jendela ke dimensi lain.

Seringkali kita merasa bahwa cara kita melihat dunia adalah satu-satunya kebenaran yang mutlak. Kita menganggap konsep "kiri" dan "kanan" adalah hukum alam dasar, padahal itu hanyalah konstruksi bahasa yang kebetulan kita warisi.

Teman-teman, menyadari betapa elastisnya otak manusia dan betapa beragamnya cara kita memproses dunia, seharusnya membuat kita merasa rendah hati. Fakta ini mengingatkan kita bahwa di balik perbedaan budaya yang tampak di permukaan, ada keajaiban biologis dan psikologis yang menghubungkan kita semua sebagai umat manusia.

Mungkin, ke depannya, setiap kali kita merasa buntu atau berselisih paham dengan orang lain, kita bisa menarik napas sejenak. Kita bisa mengingatkan diri sendiri bahwa setiap orang memiliki "peta" dunianya masing-masing. Dan terkadang, yang kita butuhkan bukanlah memaksa orang lain untuk belok "kiri" atau "kanan", melainkan mencoba memahami di mana letak "utara" mereka.