bahasa dan moralitas

apakah kita membuat keputusan lebih bijak dalam bahasa asing

bahasa dan moralitas
I

Mari kita mulai dengan sebuah pengakuan yang jujur. Pernahkah kita merasa sebuah umpatan dalam bahasa Inggris terasa jauh lebih ringan di lidah, dibandingkan umpatan kasar dalam bahasa daerah atau bahasa Indonesia? Saat kita menonton film Hollywood, kata f-word seolah hanya sekadar tanda baca. Tidak ada beban moral saat kita menirukannya. Namun, saat kata yang ekuivalen diucapkan dalam bahasa ibu kita, rasanya bulu kuduk langsung merinding dan ada rasa bersalah yang diam-diam menyelinap. Kenapa bisa begitu? Apakah kita memiliki dua kepribadian yang berbeda saat menuturkan dua bahasa yang berbeda? Ini bukan sekadar perkara kebiasaan, teman-teman. Ada sebuah misteri neurologis yang sedang bermain di dalam kepala kita.

II

Untuk memahami keanehan ini, kita harus mundur sedikit ke masa kecil kita. Bahasa pertama kita, atau bahasa ibu, tidak dipelajari melalui buku teks atau kamus. Kita menyerapnya melalui pelukan ibu, omelan ayah, tawa bersama teman sebaya, dan tangisan saat lutut kita terluka. Setiap kosa kata dalam bahasa ibu kita diikat erat dengan benang emosi yang sangat tebal. Sebaliknya, bagaimana cara kita belajar bahasa asing? Sebagian besar dari kita mempelajarinya di ruang kelas yang dingin. Kita menghafal grammar, mengerjakan soal pilihan ganda, dan mengejar nilai ujian. Bahasa kedua diproses di bagian otak yang lebih mengandalkan logika dan memori semantik, bukan memori emosional. Ada jarak yang memisahkan antara makna kata dan perasaan kita. Jarak inilah yang perlahan membangun sebuah panggung untuk salah satu eksperimen psikologi paling menarik di abad ini.

III

Sekarang, mari kita letakkan jarak emosional tersebut ke dalam sebuah ujian moral yang ekstrem. Teman-teman mungkin pernah mendengar dilema filsafat klasik bernama Trolley Problem. Bayangkan kita sedang berdiri di atas jembatan layang. Di bawah sana, ada sebuah kereta yang melaju tak terkendali ke arah lima orang pekerja rel yang tidak sadar akan bahaya. Satu-satunya cara menyelamatkan lima nyawa itu adalah dengan mendorong satu orang bertubuh sangat besar yang berdiri di sebelah kita, jatuh ke atas rel. Tubuhnya akan menghentikan kereta, ia akan tewas, tapi lima orang tadi selamat. Membunuh satu untuk menyelamatkan lima. Secara logika matematika, ini masuk akal. Namun secara emosional, membunuh dengan tangan kita sendiri terasa sangat menjijikkan dan salah. Lalu, apa yang terjadi jika dilema berdarah ini ditanyakan kepada seseorang menggunakan bahasa asing? Apakah hati nurani kita bisa diterjemahkan?

IV

Inilah momen penemuan yang mengubah cara pandang dunia sains terhadap otak manusia. Sebuah fenomena yang kini dikenal sebagai The Foreign Language Effect. Dalam serangkaian studi yang dipimpin oleh psikolog Albert Costa dan Boaz Keysar, hasilnya sungguh membuat para ilmuwan terperangah. Saat skenario kereta api tadi dibacakan dalam bahasa ibu, hanya sekitar 20 persen orang yang tega mendorong orang bertubuh besar tersebut. Emosi mereka menolak keras. Namun, saat skenario yang persis sama dibacakan dalam bahasa asing yang dikuasai partisipan, angka mereka yang memilih mengorbankan satu nyawa melonjak drastis hingga 50 persen. Mengapa? Jawabannya ada pada amigdala, pusat ketakutan dan emosi di otak kita. Bahasa asing bertindak layaknya obat bius yang meredam alarm amigdala. Kita tidak tiba-tiba berubah menjadi psikopat berdarah dingin. Sebaliknya, memudarnya emosi membuat otak prefrontal cortex kita yang logis mengambil alih kendali. Kita terbebas dari bias emosional yang irasional, sehingga kita mampu membuat keputusan utilitarian yang paling menguntungkan demi kebaikan bersama. Kita, secara mengejutkan, menjadi lebih bijak.

V

Tentu saja, kehidupan nyata jarang sekali menyuruh kita mendorong orang ke jalur kereta api. Tapi setiap hari, kita dihadapkan pada keputusan-keputusan berat. Apakah kita harus keluar dari pekerjaan yang toxic? Apakah hubungan romantis ini masih layak dipertahankan? Apakah ini saatnya memotong kerugian finansial dari investasi yang buruk? Seringkali, bahasa ibu kita menjebak kita dalam rasa takut, rasa bersalah, dan nostalgia yang keliru. Jadi, teman-teman, sains telah memberi kita sebuah hack kognitif yang luar biasa secara cuma-cuma. Saat emosi mulai mengaburkan kejernihan pikiran kita, cobalah mundur selangkah. Tarik napas yang panjang. Lalu, tuliskan masalah tersebut atau ajaklah diri kita sendiri berdebat menggunakan bahasa asing. Kadang-kadang, untuk bisa melihat kebenaran yang paling jujur, kita memang harus mendengarkannya dari suara seorang "orang asing" di dalam kepala kita sendiri.