bahasa dan agama
peran mantra dan doa dalam mengubah kondisi kesadaran
Pernahkah kita duduk diam di sebuah tempat ibadah, lalu mendengarkan gumaman doa yang diulang-ulang? Atau mungkin, kita sendiri sering merapalkan mantra, dzikir, atau doa pendek saat sedang merasa sangat cemas? Ada sesuatu yang magis dari pengulangan kata-kata. Seolah-olah, bahasa bukan sekadar alat komunikasi sehari-hari, melainkan sebuah kunci. Kunci untuk membuka pintu ke dimensi kesadaran yang sama sekali berbeda. Saya sering bertanya-tanya, apakah ketenangan yang kita rasakan ini murni urusan spiritual yang tak tersentuh akal, atau sebenarnya ada sebuah mesin biologis yang sedang bekerja diam-diam di dalam kepala kita?
Mari kita mundur sebentar ke masa lalu untuk memahaminya. Sejak ribuan tahun lalu, leluhur kita di berbagai belahan dunia menemukan sebuah rahasia yang sama. Dari para biksu di dataran tinggi Himalaya yang merapal Om Mani Padme Hum, para sufi yang berputar mengitari porosnya sambil berdzikir, hingga dukun di pedalaman Amazon yang menyanyikan icaro dalam ritual penyembuhan. Semuanya menggunakan bahasa yang diulang-ulang secara konsisten.
Pola, ritme, dan frekuensi suara ini selalu menjadi tokoh utama dalam ritual suci manusia. Teman-teman mungkin menyadari satu hal. Ketika kita merapal doa atau mantra, cara kita bernapas otomatis ikut berubah. Kita mulai bernapas lebih lambat, lebih teratur, dan lebih dalam. Ritme kata-kata ini seolah memaksa tubuh kita bergerak mengikuti sebuah metronom tak kasat mata. Tapi, pertanyaannya adalah, kenapa harus lewat bahasa? Kenapa sekumpulan kata yang disusun dengan ritme tertentu bisa membuat kita merasa begitu damai, atau bahkan seolah terlepas dari tubuh fisik kita?
Di sinilah batas antara agama dan sains mulai memudar, dan ceritanya menjadi semakin menarik. Dalam dunia psikologi, ada kondisi yang kita sebut sebagai altered states of consciousness atau perubahan kondisi kesadaran. Ini adalah sebuah momen yang unik. Kita tidak sedang tertidur pulas, tapi kita juga tidak sepenuhnya sadar dengan cara yang sama seperti saat kita sedang stres membalas pesan dari atasan.
Saat kita terus mengulang sebuah doa atau mantra, sesuatu yang aneh mulai terjadi pada cara kita merasakan ruang dan waktu. Rasa khawatir tentang hari esok mendadak menguap begitu saja. Beban masa lalu terasa jauh lebih ringan. Ego kita—rasa "aku" yang biasanya sangat berisik dan gemar menuntut di dalam kepala—pelan-pelan teredam. Para ilmuwan saraf (neuroscientist) tentu saja sangat penasaran dengan fenomena lintas budaya ini. Mereka mulai memasukkan para praktisi meditasi, pendeta, dan biksu ke dalam mesin pemindai otak bernama fMRI. Mereka ingin melihat satu hal: tombol rahasia apa yang sebenarnya sedang ditekan oleh mantra dan doa ini di dalam sirkuit otak kita?
Jawabannya ternyata sangat mengagumkan dan berbasis pada sains yang sangat keras (hard science). Saat kita merapal doa berulang kali, ada sebuah area di otak bernama Default Mode Network (DMN) yang mengalami penurunan aktivitas secara drastis. DMN ini adalah markas besar ego kita. Di sinilah tempat bersarangnya pikiran-pikiran overthinking, rentetan kecemasan, dan kebiasaan kita menghakimi diri sendiri. Ketika mantra diucapkan secara konstan, otak kita secara harfiah menurunkan volume suara ego kita sendiri.
Tidak berhenti sampai di situ. Bagian otak yang bernama parietal lobe, yang tugas utamanya adalah mengatur orientasi kita terhadap ruang dan waktu, juga ikut "tertidur" sementara. Inilah penjelasan neurologis mengapa saat berdoa dengan sangat khusyuk, kita sering merasa menyatu dengan alam semesta. Kita kehilangan batas antara keberadaan diri kita sendiri dan lingkungan di sekitar kita.
Ditambah lagi, ritme napas yang melambat akibat pengulangan kata-kata tersebut akan langsung merangsang saraf vagus (vagus nerve). Saraf ini adalah saklar utama untuk menyalakan sistem saraf parasimpatik, yaitu mode relaksasi dan pemulihan mutlak bagi tubuh. Jadi, bahasa dalam bentuk doa dan mantra ternyata bukanlah sekadar permohonan pasif yang dilempar ke langit. Bahasa adalah kode pemrograman biologis tingkat tinggi untuk meretas dan menenangkan sistem saraf kita sendiri.
Bagi saya, mengetahui fakta ilmiah yang sangat logis ini sama sekali tidak mengurangi kesucian sebuah doa, mantra, atau nilai dari suatu agama. Justru sebaliknya, teman-teman. Ini adalah bukti nyata betapa luar biasa dan indahnya desain tubuh manusia. Pikiran, biologi tubuh, dan spiritualitas kita ternyata saling berpegangan tangan melalui sebuah jembatan yang bernama bahasa.
Leluhur kita di masa lalu jelas tidak tahu apa itu fMRI, Default Mode Network, atau sistem saraf parasimpatik. Namun, mereka memahami cara kerja jiwa dan tubuh manusia dengan sangat presisi dan intuitif. Jadi, di lain waktu kita merasa begitu kewalahan dengan dunia modern yang serba cepat dan berisik ini, mungkin kita tidak selalu butuh pelarian yang rumit atau mahal. Kita hanya butuh duduk diam sejenak, mengambil napas panjang, dan mengulang sebuah doa, mantra, atau sekadar kata-kata afirmasi yang baik untuk diri sendiri. Karena pada akhirnya, keajaiban yang paling menyembuhkan itu tidak melulu harus turun dari langit, melainkan sudah tersembunyi sejak lama di dalam ritme napas dan kata-kata yang kita ucapkan.