afasia dan kerusakan otak
saat manusia kehilangan kemampuan bicara tapi tetap cerdas
Coba bayangkan skenario ini bersama-sama. Suatu pagi, kita terbangun dari tidur yang nyenyak. Kita merasa segar dan pikiran kita sangat tajam. Kita tahu persis siapa nama kita. Kita ingat betul resep kopi kesukaan kita. Kita bahkan memikirkan jadwal pekerjaan hari ini dengan sangat runut. Tapi saat kita melangkah ke ruang keluarga dan mencoba menyapa orang rumah... yang keluar dari mulut kita hanyalah gumaman tidak jelas. Atau lebih parah lagi, kata-kata yang keluar sama sekali tidak nyambung dengan isi kepala kita. Kita berteriak panik di dalam hati, tapi mulut kita seperti mengkhianati kita sendiri. Mengerikan, bukan? Rasanya seperti dikunci rapat-rapat di dalam tubuh kita sendiri.
Kejadian semacam ini sama sekali bukan fiksi sains. Di pertengahan abad ke-19, ada seorang pria di Paris yang kisah medisnya mengubah cara manusia memahami isi kepalanya sendiri. Pria ini bernama Louis Victor Leborgne. Saat itu, dia dirawat oleh seorang dokter cerdas bernama Paul Broca. Louis ini sama sekali tidak bodoh. Dia cerdas, paham semua instruksi, dan tahu persis apa yang terjadi di sekitarnya. Masalahnya cuma satu. Selama bertahun-tahun, satu-satunya suku kata yang bisa keluar dari mulutnya hanyalah "tan". Karena itu, dia dipanggil Monsieur Tan. Banyak orang pada masa itu mengira dia sudah kehilangan akalnya. Padahal, akalnya sangat sehat. Hanya saja, "jembatan" yang menghubungkan pikiran dan mulutnya telah runtuh. Fakta sejarah ini pelan-pelan membuat kita bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi di balik tengkorak kita saat kita sedang merangkai kata?
Sejak dulu, kita punya kebiasaan yang agak keliru. Kita sering sekali menyamakan kelancaran berbicara dengan tingkat kecerdasan. Kalau ada seseorang yang bicaranya terbata-bata atau tidak lancar, sadar atau tidak, kita buru-buru melabelinya "kurang pintar". Padahal, sains neurologi modern membuktikan hal yang sebaliknya. Otak kita itu beroperasi seperti sebuah kota metropolis yang sangat luas dan sibuk. Pusat kecerdasan, ingatan, dan emosi kita ternyata berada di distrik yang sama sekali berbeda dengan pusat pengolahan bahasa. Bayangkan jika jalan tol yang menghubungkan distrik-distrik ini tiba-tiba hancur karena stroke, tumor, atau cedera kepala berat. Ada kasus di mana pikiran dan logika seseorang utuh sempurna, tapi otot untuk memproduksi kata-katanya lumpuh. Tapi tunggu, ada yang lebih aneh lagi. Ada lho pasien yang bisa bicara dengan sangat lancar, intonasinya meyakinkan, tapi kalimatnya sama sekali tidak bermakna alias word salad. Kok bisa saraf kita bertingkah seaneh itu? Di mana letak konsletnya?
Jawaban dari semua misteri ini bermuara pada satu kondisi medis yang disebut afasia. Di sinilah sains memberikan kita sebuah fakta hard science yang mengejutkan, sekaligus menyentuh sisi empati kita terdalam. Afasia adalah pencuri bahasa, bukan pencuri kecerdasan. Seseorang yang mengalami afasia tidak kehilangan akal sehat mereka. Mereka masih manusia yang sama. Mereka punya ingatan yang sama, selera humor yang sama, dan kapasitas untuk mencintai yang tidak berkurang sedikit pun. Belum lama ini, teman-teman mungkin mendengar kabar tentang aktor laga legendaris Bruce Willis yang harus mundur dari dunia akting karena kondisi ini. Ketika area otak tertentu—seperti area Broca untuk memproduksi kata atau area Wernicke untuk memahami kata—mengalami kerusakan, sang pasien secara harfiah terperangkap. Layar monitor kognitifnya menyala terang benderang, tapi keyboard komunikasinya rusak parah. Fakta keras yang harus kita terima adalah: bahasa hanyalah salah satu software di dalam otak kita, dan dia bukanlah keseluruhan sistem operasi manusia.
Memahami anatomi afasia pada akhirnya memaksa kita untuk merenungkan kembali cara kita berinteraksi dengan sesama manusia. Pernahkah kita memalingkan wajah, merasa canggung, atau bahkan merasa kasihan yang berlebihan saat berhadapan dengan orang yang kesulitan bicara? Mungkin tanpa sadar kita sering menjadi tidak sabar. Mulai hari ini, mari kita ubah cara pandang kita. Kalau suatu saat teman-teman berinteraksi dengan penyintas stroke atau cedera otak yang kesulitan merangkai kalimat, ingatlah satu hal ini. Di balik mata mereka yang menatap kita, ada jiwa yang utuh dan kecerdasan yang masih menyala terang. Mereka mendengar kita. Mereka memahami lelucon kita. Mereka hanya butuh kita untuk lebih sabar, menyediakan waktu ekstra, dan berhenti mengukur nilai seorang manusia hanya dari seberapa lincah lidahnya menari. Karena pada akhirnya, esensi kemanusiaan kita terhubung oleh empati yang jauh lebih dalam daripada sekadar deretan kata-kata.