the sleeper effect

mengapa kita lupa sumber berita tapi tetap percaya isinya

the sleeper effect
I

Bayangkan situasi ini. Suatu pagi, kita sedang minum kopi sambil mengecek grup WhatsApp keluarga. Di sana, ada sebuah pesan forward dari paman kita. Isinya bombastis: "Minum air perasan jeruk nipis dicampur kecap manis bisa menyembuhkan sakit gigi dalam lima menit!" Di bawah pesan itu ada tautan dari blog yang namanya sangat tidak meyakinkan, misalnya seputar-kesehatan-galaksi.blogspot.com.

Reaksi pertama kita pasti tertawa. Kita tahu itu hoaks. Kita menolak mentah-mentah informasi tersebut karena sumbernya jelas tidak kredibel.

Namun, mari putar waktu ke beberapa bulan kemudian. Teman kantor kita tiba-tiba mengeluh sakit gigi yang luar biasa. Tanpa sadar, kalimat ini meluncur begitu saja dari mulut kita: "Eh, cobain deh minum perasan jeruk nipis pakai kecap manis. Kemarin gue baca di mana gitu, katanya ampuh banget."

Pernahkah teman-teman mengalami hal serupa? Kita ingat betul klaimnya, tapi kita benar-benar lupa dari mana kita membacanya. Lebih aneh lagi, informasi yang awalnya kita anggap sampah, tiba-tiba terasa seperti fakta yang masuk akal.

Kenapa otak kita melakukan sabotase semacam ini?

II

Untuk menjawabnya, kita harus mundur sejenak ke masa Perang Dunia II. Saat itu, Departemen Perang Amerika Serikat punya satu misi penting: meningkatkan moral para tentara. Mereka lalu meminta seorang psikolog cerdas bernama Carl Hovland untuk meneliti efektivitas film-film propaganda militer.

Hovland dan timnya memutar film propaganda ke para tentara. Harapannya, setelah menonton, para tentara ini langsung merasa semangat dan patriotik. Namun, hasil awalnya mengecewakan. Para tentara tahu persis bahwa film itu buatan pemerintah untuk mencuci otak mereka. Karena mereka tahu sumbernya (pemerintah yang sedang butuh pasukan), mereka bersikap skeptis. Pesan dalam film itu mental begitu saja.

Tapi Hovland adalah ilmuwan yang sabar. Sembilan minggu kemudian, ia kembali mengukur sikap para tentara tersebut. Di sinilah sebuah keanehan yang membingungkan terjadi.

Sikap skeptis para tentara tiba-tiba menguap. Pesan patriotik dari film yang awalnya mereka tolak, kini justru tertanam kuat di kepala mereka. Mereka perlahan mulai mempercayai isi propaganda tersebut. Ada sebuah jeda waktu di mana pikiran manusia secara diam-diam mengubah penolakan menjadi penerimaan.

Apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala para tentara ini selama sembilan minggu tersebut?

III

Mari kita bedah cara kerja mesin luar biasa bernama otak ini. Saat kita menerima sebuah informasi, otak kita sebenarnya menyimpan dua hal yang berbeda di dalam memori.

Pertama, otak menyimpan isi pesannya. Dalam psikologi, ini disebut semantic memory. Ini adalah laci tempat otak menyimpan fakta, konsep, dan gagasan.

Kedua, otak menyimpan konteks dari mana pesan itu berasal. Ini disebut episodic memory. Ini adalah laci untuk menyimpan memori tentang siapa yang bicara, di mana kita membacanya, dan kapan itu terjadi.

Masalahnya, kedua laci ini memiliki "tanggal kedaluwarsa" yang berbeda.

Ingatan kita tentang konteks (episodic memory) ternyata memudar jauh lebih cepat dibandingkan ingatan kita tentang fakta (semantic memory). Otak kita sangat hemat energi. Mengingat detail "dari siapa" dan "di mana" dianggap menguras kapasitas, jadi otak memutuskan untuk membuangnya perlahan-lahan.

Sementara itu, inti informasinya tetap tertinggal dan bertahan lebih lama.

Lalu, apa jadinya jika sebuah pesan bohong kehilangan label peringatannya? Apa yang terjadi ketika sebuah fakta palsu tiba-tiba berdiri sendiri tanpa konteks sumber yang buruk?

IV

Inilah momen di mana kita berkenalan dengan fenomena psikologis yang disebut the sleeper effect.

The sleeper effect adalah sebuah anomali di mana sebuah pesan yang awalnya kita tolak (karena sumbernya tidak terpercaya), seiring berjalannya waktu justru semakin kita percayai.

Kenapa namanya sleeper? Karena efek dari pesan tersebut tertidur untuk sementara waktu. Saat kita pertama kali melihat pesan dari sumber abal-abal, otak kita langsung menempelkan discounting cue (isyarat penolakan). Kita membatin, "Ah, ini mah dari blog nggak jelas."

Tapi seperti yang kita bahas tadi, ingatan tentang sumber memudar lebih cepat. Setelah beberapa minggu, discounting cue itu hilang sepenuhnya. Label "awas hoaks" di kepala kita terlepas. Yang tersisa hanyalah pesannya: "Jeruk nipis dan kecap menyembuhkan sakit gigi." Karena pesannya kini terasa familiar, otak kita yang menyukai keakraban mulai menerimanya sebagai kebenaran.

Di era digital sekarang, the sleeper effect adalah senjata paling mematikan bagi misinformasi. Kita scroll TikTok, X, atau Instagram berjam-jam. Kita terpapar ribuan klaim, gosip politik, hingga teori konspirasi setiap harinya. Mungkin hari ini kita menertawakannya. Tapi bulan depan? Saat sumbernya sudah terlupakan, narasi palsu itu bisa saja bermutasi menjadi keyakinan baru di kepala kita.

V

Mempelajari the sleeper effect bisa membuat kita merasa sedikit ngeri. Seolah-olah kita tidak punya kendali atas apa yang kita percayai. Tapi, tenang saja teman-teman. Memahami kelemahan otak bukanlah tanda bahwa kita bodoh. Sebaliknya, ini adalah langkah pertama menuju empati dan pemikiran kritis.

Kita jadi paham kenapa orang-orang terdekat kita kadang bisa termakan hoaks. Mereka bukan tidak pintar; otak mereka hanya sedang menjalankan proses alami yang juga terjadi pada diri kita. Otak manusia memang dirancang untuk memisahkan pesan dari pengirimnya demi efisiensi.

Jadi, bagaimana cara kita melawannya?

Kuncinya ada pada jeda. Saat kita tiba-tiba mengingat sebuah fakta bombastis dan ingin membagikannya kepada orang lain, tanyakan satu hal sederhana pada diri sendiri: "Tunggu dulu, saya tahu informasi ini dari mana, ya?"

Jika kita tidak bisa melacak sumbernya, tahan lidah kita. Tahan jari kita. Mari biasakan untuk mengevaluasi ulang informasi yang tiba-tiba muncul di kepala kita. Karena pada akhirnya, berpikir kritis bukanlah tentang seberapa banyak fakta yang kita tahu, melainkan seberapa berani kita mempertanyakan apa yang sudah terlanjur kita percayai.