the overjustification effect
bagaimana insentif uang bisa merusak gerakan tulus
Ada sebuah cerita rakyat yang sangat saya suka. Ceritanya tentang seorang kakek yang tinggal sendirian di sebuah rumah yang tenang. Sayangnya, ketenangan itu rusak ketika sekelompok anak kecil mulai bermain bola dan berteriak-teriak di halaman depannya setiap sore. Kakek ini sudah mencoba marah dan mengusir mereka, tapi anak-anak itu malah makin usil. Akhirnya, kakek ini memikirkan sebuah taktik psikologis yang brilian.
Keesokan harinya, alih-alih marah, ia keluar rumah dan tersenyum. Ia memanggil anak-anak itu dan berkata, "Kakek senang sekali melihat kalian bermain dengan ceria di sini. Sebagai tanda terima kasih, kakek akan memberi kalian masing-masing sepuluh ribu rupiah setiap kali kalian bermain di sini." Anak-anak itu tentu saja kegirangan. Mereka bermain lebih keras dan lebih heboh dari biasanya.
Hari berikutnya, kakek itu keluar lagi. Kali ini wajahnya sedikit sedih. "Maaf ya anak-anak, uang pensiun kakek belum turun. Hari ini kakek cuma bisa kasih kalian lima ribu rupiah." Walau agak kecewa, anak-anak itu tetap bermain.
Tiga hari kemudian, kakek itu keluar dengan kantong kosong. "Maaf sekali, kakek sudah tidak punya uang. Kalian masih mau kan bermain di sini secara gratis?"
Pemimpin anak-anak itu mendengus kesal. "Enak saja! Kakek pikir kami mau capek-capek teriak dan lari-larian di sini tanpa dibayar? Ayo teman-teman, kita pergi!" Sejak hari itu, anak-anak tersebut tidak pernah kembali lagi. Dan sang kakek pun bisa kembali menikmati sorenya yang tenang.
Kisah kakek tadi sebenarnya adalah sebuah satir yang sangat tajam tentang cara kerja otak kita. Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa sebuah hobi yang awalnya sangat kita cintai—entah itu menulis, melukis, atau membuat kue—tiba-tiba terasa sangat melelahkan dan menyebalkan begitu kita menjadikannya pekerjaan yang dibayar?
Kita hidup di dunia yang sangat mendewakan insentif. Logika ekonomi yang ditanamkan ke kepala kita sejak kecil sangatlah sederhana: jika kita ingin seseorang melakukan sesuatu dengan lebih baik, berilah mereka hadiah. Beri mereka bonus. Beri mereka uang.
Kita sering mendengar nasihat motivasional di luar sana yang bilang, "Jadikan hobimu sebagai mesin pencetak uang, maka kamu tidak akan merasa bekerja seumur hidup." Kedengarannya sangat masuk akal, bukan?
Tapi sayangnya, sejarah manusia dan ilmu psikologi punya cerita yang jauh lebih gelap—dan jauh lebih menarik—soal hubungan antara uang dan ketulusan. Ada sebuah fenomena aneh di mana niat baik dan antusiasme murni bisa mati perlahan justru saat uang mulai ikut campur.
Mari kita mundur sejenak ke awal tahun 1970-an. Saat itu, para ilmuwan psikologi sedang penasaran dengan apa yang sebenarnya menggerakkan manusia. Seorang peneliti dari Universitas Stanford bernama Mark Lepper melakukan sebuah eksperimen yang kini menjadi legenda di dunia sains.
Lepper dan timnya mendatangi sebuah taman kanak-kanak. Mereka mengamati anak-anak di waktu luang dan memilih mereka yang secara alami memang sangat suka menggambar. Anak-anak yang memang hobi menggambar ini kemudian dibagi menjadi tiga kelompok.
Kelompok pertama diberitahu bahwa jika mereka menggambar, mereka akan mendapat sertifikat penghargaan bergengsi dengan pita merah yang keren. Kelompok kedua tidak dijanjikan apa-apa, tapi setelah mereka selesai menggambar, mereka tiba-tiba diberi sertifikat penghargaan tersebut sebagai kejutan. Kelompok ketiga tidak dijanjikan apa-apa dan tidak diberi apa-apa.
Beberapa minggu kemudian, para peneliti kembali ke sekolah tersebut secara diam-diam. Mereka ingin melihat, dari ketiga kelompok anak tadi, kelompok mana yang masih rajin menggambar di waktu luang mereka?
Secara logika, kita pasti menebak bahwa kelompok pertama yang paling semangat, bukan? Mereka kan sudah tahu bahwa menggambar bisa mendatangkan penghargaan. Mari kita simpan tebakan itu sebentar.
Hasil eksperimen Lepper ternyata menjungkirbalikkan logika ekonomi tradisional kita.
Anak-anak di kelompok kedua (kejutan) dan kelompok ketiga (tanpa hadiah) tetap menggambar dengan antusiasme yang sama seperti sebelumnya. Mereka menggambar karena mereka memang menyukainya. Tapi, hal yang mengejutkan terjadi pada kelompok pertama. Anak-anak yang sebelumnya dijanjikan hadiah, kini secara drastis kehilangan minat untuk menggambar. Ketika tidak ada lagi sertifikat yang ditawarkan, mereka meletakkan krayon mereka dan pergi bermain hal lain.
Dalam dunia psikologi, inilah yang disebut sebagai the overjustification effect atau efek justifikasi berlebih.
Begini cara kerjanya di dalam otak kita. Manusia pada dasarnya memiliki dua jenis motivasi: intrinsic (motivasi dari dalam, karena hal itu menyenangkan) dan extrinsic (motivasi dari luar, seperti uang atau pujian).
Ketika anak-anak (atau kita) melakukan sesuatu karena murni suka, otak kita tahu bahwa aktivitas itu sendirilah yang menjadi hadiahnya. Namun, ketika seseorang tiba-tiba datang menawarkan uang atau hadiah untuk aktivitas tersebut, otak kita langsung melakukan re-kalkulasi. Otak kita berkata, "Tunggu dulu. Kalau aku harus dibayar untuk melakukan ini, berarti ini adalah pekerjaan. Dan pekerjaan itu pada dasarnya tidak menyenangkan."
Insentif eksternal tadi secara diam-diam telah membajak narasi di kepala kita. Uang mengubah sebuah permainan menjadi sebuah transaksi. Dan ketika transaksinya berhenti, berhentilah pula permainan tersebut. Uang tidak menambah motivasi, uang justru menggantikan ketulusan.
Tentu saja, memahami sains di balik ini bukan berarti kita harus anti terhadap uang. Kita semua butuh uang untuk bertahan hidup, membayar tagihan, dan membeli makanan enak. Adalah hal yang wajar dan perlu untuk menuntut bayaran yang layak atas keahlian profesional yang kita miliki.
Namun, menyadari adanya overjustification effect ini memberi kita sebuah kebijaksanaan baru. Kita jadi mengerti mengapa gerakan relawan yang murni seringkali hancur berantakan ketika mulai disusupi motif komersial. Kita jadi paham mengapa seniman yang awalnya berkarya dari hati, bisa tiba-tiba stres dan kehilangan arah ketika dituntut memenuhi pesanan pasar.
Teman-teman, dunia ini akan selalu berusaha mengukur nilai kita dari seberapa banyak uang yang bisa kita hasilkan. Kapitalisme akan terus berbisik bahwa setiap detik waktu luang kita harus bisa di-monetisasi.
Tapi mungkin, untuk menjaga kewarasan dan kemanusiaan kita, kita perlu melawan bisikan itu. Kita butuh benteng untuk melindungi hal-hal yang murni.
Mari kita simpan setidaknya satu atau dua hal dalam hidup kita yang benar-benar kebal dari transaksi finansial. Biarkanlah ada hobi yang tidak pernah kita jadikan bisnis. Biarkanlah ada kebaikan yang kita lakukan tanpa mengharap tepuk tangan atau imbalan. Bukan karena hal itu tidak berharga, melainkan justru karena hal itu terlalu berharga untuk sekadar ditukar dengan uang.