the illusory correlation
mengapa massa menghubungkan dua hal yang sebenarnya tak terkait
Pernahkah kita menyadari sebuah fenomena kocak yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari? Misalnya, saat kita akhirnya memutuskan untuk mencuci motor atau mobil yang sudah berdebu berhari-hari. Tiba-tiba, sore harinya hujan turun dengan deras. Kita lalu bergumam, "Tuh kan, gara-gara cuci mobil, langit jadi hujan."
Atau, mungkin teman-teman punya satu kaus oblong kumal yang selalu dipakai saat menonton tim sepak bola favorit bertanding. Entah kenapa, kita merasa tiap kali kaus itu tidak dipakai, tim jagoan kita pasti kalah.
Sekilas, ini cuma takhayul personal yang tidak berbahaya. Namun, mari kita tarik mundur ke tahun 1910. Saat itu, Komet Halley melintasi Bumi. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba muncul rumor massal bahwa ekor komet tersebut mengandung gas beracun yang akan menyapu bersih umat manusia. Apa yang terjadi? Orang-orang panik memborong "pil anti-komet", menyumbat lubang kunci pintu rumah dengan kain, dan ketakutan setengah mati.
Padahal, komet dan gas mematikan di Bumi itu sama sekali tidak ada hubungannya. Keduanya adalah dua hal terpisah. Lalu, mengapa ribuan—bahkan jutaan—orang bisa secara berjamaah menghubungkan dua kejadian yang sebenarnya sama sekali tidak saling sapa?
Untuk menjawabnya, kita tidak perlu merasa bodoh. Sebaliknya, mari kita sedikit berempati pada otak kita sendiri.
Otak manusia adalah mesin pencari pola yang luar biasa canggih. Kemampuan ini adalah fitur bawaan dari nenek moyang kita di zaman purba. Ratusan ribu tahun yang lalu, bertahan hidup adalah pekerjaan utama. Jika leluhur kita melihat semak-semak bergoyang, otak mereka harus membuat keputusan kilat: apakah itu cuma angin, atau ada harimau kelaparan di baliknya?
Secara evolusioner, lebih aman bagi nenek moyang kita untuk berasumsi bahwa itu adalah harimau. Jika ternyata cuma angin, mereka hanya kehilangan sedikit harga diri karena lari ketakutan. Tapi jika mereka mengabaikan goyangan semak itu dan ternyata memang ada harimau, mereka akan berakhir jadi makan malam.
Jadi, otak kita berevolusi untuk selalu menghubungkan Titik A dan Titik B, demi keamanan kita sendiri. Kita diwarisi otak yang lebih suka membuat kesalahan karena percaya daripada kesalahan karena tidak peduli. Masalahnya, fitur purba ini sering kali "berhalusinasi" ketika dihadapkan pada kerumitan dunia modern.
Sekarang, bayangkan insting bertahan hidup ini beroperasi di tengah peradaban yang penuh informasi simpang siur. Di sinilah letak bom waktunya.
Ketika satu orang salah membaca pola, itu hanyalah kelucuan. Tapi ketika insting ini menular, diamplifikasi oleh obrolan warung kopi, grup keluarga, hingga media massa, ia berubah menjadi histeria kolektif.
Pernahkah teman-teman mendengar bahwa gula membuat anak-anak jadi hiperaktif? Atau bahwa bulan purnama membuat tingkat kejahatan dan angka pasien rumah sakit jiwa melonjak tajam? Sampai hari ini, masih banyak pekerja medis dan polisi di berbagai negara yang bersumpah bahwa saat bulan purnama, dunia jadi lebih gila.
Padahal, tahu tidak? Ratusan penelitian ilmiah yang membedah data kepolisian dan rumah sakit membuktikan bahwa tidak ada lonjakan kejahatan saat bulan purnama. Sama halnya dengan penelitian medis yang gagal menemukan bukti bahwa gula penyebab langsung hiperaktivitas anak. Semua itu sekadar mitos.
Lalu, mengapa para profesional yang rasional sekalipun bisa mati-matian mempercayainya? Ada sebuah program rahasia di dalam kepala kita yang diam-diam menyembunyikan kebenaran dari mata kita.
Dalam dunia psikologi, fenomena ini disebut sebagai illusory correlation atau korelasi ilusioner. Ini adalah kecenderungan otak kita untuk melihat hubungan antara dua hal yang mencolok, padahal hubungan itu nol besar.
Mengapa ini terjadi? Mari kita bicara sedikit tentang sains kerasnya. Otak kita sangat payah dalam memproses data yang "membosankan". Ketika malam bulan purnama terjadi dan suasana aman-aman saja, otak kita tidak mencatatnya sebagai sebuah informasi penting. Malam itu berlalu begitu saja masuk ke tempat sampah memori.
Namun, ketika malam bulan purnama kebetulan bertepatan dengan adanya pasien yang mengamuk atau perampokan bank, otak kita langsung menyalakan alarm. "Aha!" kata otak kita. Dua kejadian mencolok—bulan purnama yang terang dan sebuah tragedi—terjadi bersamaan. Otak kita merilis dopamin, hormon kepuasan, karena merasa berhasil memecahkan teka-teki dunia.
Begitu kita mempercayai korelasi palsu ini, confirmation bias (bias konfirmasi) mengambil alih. Kita hanya akan mengingat kejadian yang mendukung kepercayaan kita, dan menjadi buta terhadap ribuan kejadian lain yang membantahnya. Ketika fenomena ini diaminkan oleh orang banyak, terciptalah mitos massa, stereotip terhadap kelompok tertentu, hingga kepanikan sosial. Kita merasa tenang saat kita "tahu" penyebab dari suatu hal, meskipun pengetahuan itu sepenuhnya salah.
Pada akhirnya, menyadari bahwa kita sering terjebak dalam illusory correlation bukanlah sebuah kekalahan. Ini justru sebuah pencerahan yang membebaskan.
Fakta bahwa masyarakat sering menghubungkan dua hal yang tak terkait bukanlah tanda kebodohan massal. Itu adalah tanda bahwa kita adalah manusia, makhluk rapuh yang selalu berusaha mencari makna dan keamanan di tengah dunia yang acak dan kadang menakutkan. Otak kita hanya sedang bekerja terlalu keras untuk melindungi kita.
Namun, kita tidak harus selalu patuh pada insting purba tersebut. Sebagai manusia modern, kita punya satu senjata pamungkas: kemampuan untuk menekan tombol pause.
Lain kali, ketika kita atau masyarakat mulai menuding bahwa Kejadian A pasti menyebabkan Kejadian B, mari kita berhenti sejenak. Tarik napas panjang. Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah ini fakta, atau sekadar otakku yang sedang asyik merangkai cerita?"
Belajar hidup damai dengan ketidakpastian memang tidak mudah, tapi itulah langkah pertama kita untuk menjadi pemikir yang lebih jernih, lebih adil, dan pastinya, lebih waras.