the fear of missing out atau fomo dalam gerakan sosial

tekanan untuk ikut tren

the fear of missing out atau fomo dalam gerakan sosial
I

Pernahkah kita membuka media sosial di suatu pagi, lalu tiba-tiba melihat semua orang memposting hal yang sama? Mungkin itu gambar semangka, kotak hitam, atau sekadar template tulisan "All eyes on..." di Instagram Story. Tiba-tiba, ada desiran aneh di dada. Perasaan cemas. Kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi jari kita sudah gatal ingin ikut memposting. Kita takut dianggap tidak peduli. Kita takut tertinggal. Inilah yang sering kita sebut sebagai fear of missing out atau FOMO. Tapi kali ini, levelnya sedikit berbeda. Ini bukan sekadar ketinggalan tren baju atau tempat nongkrong baru. Ini adalah tekanan untuk ikut dalam sebuah gerakan sosial.

II

Sebenarnya, sangat wajar kalau kita merasa panik saat tidak ikut-ikutan. Secara biologis, otak kita memang didesain seperti itu. Mari kita mundur sejenak ke masa prasejarah. Bayangkan kita adalah manusia purba yang hidup berkelompok. Di masa itu, dikeluarkan dari kelompok sama dengan vonis mati. Kalau teman-teman kita lari karena melihat macan tutul, kita tidak akan berhenti untuk bertanya tentang motif sang macan. Kita akan langsung ikut lari. Insting untuk selalu selaras dengan kawanan ini tertanam kuat di sirkuit saraf kita. Dalam dunia psikologi evolusioner, kebutuhan untuk diterima ini adalah kunci mutlak untuk bertahan hidup. Jadi, ketika kita melihat ratusan teman kita menyuarakan suatu isu sosial di dunia maya, otak purba kita menyalakan alarm peringatan. Ikutlah bersama mereka, atau kamu akan diasingkan.

III

Masalahnya, dunia kita saat ini jauh lebih rumit daripada sekadar lari dari hewan buas. Kita menghadapi isu geopolitik, ketidakadilan ekonomi, hingga krisis iklim. Semuanya kompleks, berlapis, dan butuh pemahaman mendalam. Lalu, apa yang terjadi ketika insting purba kita berbenturan dengan algoritma media sosial yang serba instan? Di sinilah keadaan mulai terasa membingungkan. Pernahkah kita ikut membagikan sebuah petisi atau tagar, tapi sebenarnya kita tidak benar-benar paham akar masalahnya? Kita melakukannya hanya agar terlihat "berada di sisi sejarah yang benar". Namun, muncul sebuah pertanyaan besar di kepala kita. Apakah gerakan sosial yang didorong oleh sekadar rasa takut tertinggal ini sungguh-sungguh berdampak nyata? Atau jangan-jangan, kita hanya sedang memuaskan ego dan menenangkan kecemasan kita sendiri?

IV

Mari kita bedah fenomena ini dari lensa sains. Para ahli perilaku menyebut kecenderungan ini sebagai herd mentality atau mentalitas kawanan. Ketika FOMO memicu kita untuk ikut gerakan sosial, bagian otak yang bernama amigdala—yakni pusat pengolahan rasa takut kita—sedang mengambil alih kendali. Kita mengalami semacam kepanikan sosial yang irasional. Untuk meredakan kepanikan itu, kita melakukan virtue signaling. Ini adalah tindakan memamerkan nilai moral kita agar diakui oleh kelompok. Saat kita memencet tombol share, otak langsung melepaskan sedikit dopamin. Kita merasa lega. Kita merasa menjadi orang baik. Tapi sains sosial menunjukkan fakta yang agak pahit. Gerakan yang hanya didasari oleh FOMO sering kali berujung pada slacktivism, atau aktivisme yang malas. Kita merasa sudah melakukan perubahan besar hanya dengan mengunggah satu gambar. Keesokan harinya kita lupa. Energi kolektif yang seharusnya bisa menjadi bahan bakar untuk perubahan sistemik, justru menguap begitu saja bersama pergantian tren timeline.

V

Saya tidak sedang mengatakan bahwa ikut meramaikan isu di media sosial itu buruk. Sama sekali tidak. Perhatian publik yang masif sering kali menjadi langkah pertama menuju tegaknya keadilan. Namun, sebagai manusia modern yang dibekali akal budi, kita punya pilihan untuk tidak melulu disetir oleh otak reptil kita. Kita boleh berhenti sejenak. Saat tren gerakan sosial baru meledak, tarik napas dalam-dalam. Tidak apa-apa untuk mengambil waktu sehari atau dua hari untuk membaca dan memahami konteks sejarahnya. Kita tidak perlu merasa bersalah hanya karena kita butuh waktu untuk mencerna informasi. Aktivisme sejati tidak pernah lahir dari rasa takut dihujat karena diam. Perubahan besar dalam sejarah selalu lahir dari pemahaman yang jernih, empati yang tulus, dan aksi yang konsisten. Jadi, mari kita lepaskan rasa bersalah itu. Kita tidak harus selalu ikut semua pawai di hari pertama. Terkadang, memilih untuk diam sejenak, membaca, dan benar-benar belajar adalah tindakan yang jauh lebih radikal.