the false consensus effect

mengapa kita mengira semua orang setuju dengan kita

the false consensus effect
I

Pernahkah kita melontarkan sebuah opini di tengah obrolan santai, atau mengirim sebuah meme di grup WhatsApp, dengan perasaan yakin seratus persen bahwa semua orang akan setuju dan tertawa? Kita sudah senyum-senyum sendiri membayangkan reaksi mereka. Tapi yang terjadi malah keheningan yang canggung. Atau lebih parah, respons yang muncul justru bertolak belakang dengan apa yang kita harapkan. Rasanya seperti tiba-tiba menjadi alien yang nyasar di bumi. Saya pun pernah mengalaminya. Dalam situasi seperti itu, kita sering kali merasa kebingungan. Kita bertanya-tanya, bagaimana mungkin mereka tidak sepikiran dengan kita? Bukankah apa yang kita yakini itu adalah kebenaran umum yang diamini oleh mayoritas orang?

II

Mari kita mundur sedikit ke tahun 1970-an untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita. Ada seorang psikolog bernama Lee Ross dari Stanford University yang iseng melakukan sebuah eksperimen unik. Dia meminta sekelompok mahasiswa untuk memakai papan iklan besar bertuliskan "Makan di Restoran Joe" dan berjalan keliling kampus selama tiga puluh menit. Tebak apa yang terjadi? Ross bertanya kepada mahasiswa yang setuju memakai papan itu: "Berapa banyak orang yang menurutmu mau melakukan tantangan konyol ini?" Mereka dengan pede menjawab bahwa sekitar 62% orang pasti akan setuju. Namun, ketika Ross bertanya kepada kelompok mahasiswa yang menolak memakai papan itu, mereka juga sangat yakin bahwa 67% orang pasti akan menolak melakukannya. Menarik, kan? Kedua kubu yang berseberangan ini sama-sama yakin bahwa mayoritas orang berada di pihak mereka. Ini bukan sekadar tebak-tebakan ngawur, teman-teman. Ada sebuah mesin tersembunyi di dalam kepala kita yang sedang bekerja keras tanpa kita sadari.

III

Sekarang, coba kita perhatikan linimasa media sosial kita. Kita sering kali merasa marah, heran, atau gemas saat melihat ada orang yang mendukung tokoh politik tertentu, atau punya gaya hidup yang terasa absurd bagi kita. Kita sering membatin, "Kok bisa sih ada orang mikir begitu? Padahal kan semua orang tahu kalau yang benar tuh begini." Nah, di sinilah otak kita mulai bermain trik. Untuk memahaminya, coba bayangkan nenek moyang kita yang hidup di padang sabana ribuan tahun lalu. Agar bisa bertahan hidup dari serangan predator dan cuaca ekstrem, mereka harus kompak. Memiliki cara pandang yang sama dengan kawan satu suku adalah kunci keselamatan. Jika kita berbeda sendiri, kita bisa diusir dari kelompok, dan itu sama artinya dengan mati. Tapi pertanyaannya, apakah mekanisme pertahanan kuno ini masih relevan di era modern? Mengapa otak kita masih saja keras kepala menyamakan "apa yang saya yakini" dengan "apa yang dunia yakini"? Jawabannya ternyata sangat berkaitan dengan bagaimana cara otak kita menghemat energi di tengah banjir informasi.

IV

Inilah yang dalam dunia psikologi dan behavioral science disebut sebagai the false consensus effect atau efek konsensus palsu. Kita semua memiliki bias kognitif yang membuat kita melebih-lebihkan sejauh mana orang lain setuju dengan pandangan, keyakinan, dan perilaku kita. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena otak kita sangat menyukai jalan pintas. Ada sebuah konsep psikologi lain yang menemani fenomena ini, namanya availability heuristic. Pada dasarnya, otak kita mengambil kesimpulan berdasarkan data dari apa yang paling mudah dan paling sering kita lihat. Karena kita cenderung berteman dengan orang yang sepemikiran, membaca berita dari sumber yang kita sukai, dan algoritma media sosial terus menyodorkan konten yang kita setujui, otak kita pun mengambil kesimpulan logis yang sayangnya keliru: "Ah, karena semua orang di sekitarku berpikir begini, berarti seluruh dunia juga berpikir hal yang sama." Kita lupa bahwa kita sedang berdiri di dalam gelembung yang kita ciptakan sendiri. Efek konsensus palsu inilah yang sering kali membuat kita buta terhadap realitas keragaman opini di luar sana.

V

Menyadari adanya bias di kepala kita ini rasanya seperti ditampar secara halus, ya? Tapi justru di sinilah letak keindahan dari belajar psikologi dan berpikir kritis. Saat kita sadar bahwa otak kita punya kebiasaan "sotoy" atau sok tahu, kita bisa mulai berlatih untuk menjadi lebih rendah hati. Lain kali, ketika kita berhadapan dengan seseorang yang opininya sangat berseberangan dengan kita, mari kita tarik napas sejenak. Jangan buru-buru menganggap mereka aneh, kurang edukasi, atau bahkan jahat. Mereka mungkin hanya tumbuh, hidup, dan menyerap data di gelembung informasi yang sama sekali berbeda dengan kita. Dunia ini terlalu luas dan terlalu kompleks untuk diseragamkan ke dalam satu isi kepala kita saja. Mari kita latih empati kita setiap hari. Karena pada akhirnya, menyadari bahwa kita tidak selalu mewakili suara mayoritas adalah langkah pertama menuju kedewasaan berpikir. Dan jujur saja, dunia akan terasa sangat membosankan kalau semua orang selalu setuju dengan kita, bukan?