the contrast effect

cara membuat kebijakan buruk terlihat baik dengan opsi yang lebih buruk

the contrast effect
I

Mari kita bayangkan sebuah skenario yang mungkin sering kita alami. Suatu hari, kita sedang mencari tempat tinggal sewaan. Agen properti membawa kita ke opsi pertama. Tempatnya pengap, catnya mengelupas, atapnya berjamur, dan harganya sama sekali tidak masuk akal. Kita tentu saja mengeluh. Sang agen lalu tersenyum dan berkata, "Oke, mari kita lihat tempat kedua." Tempat kedua ini ukurannya sempit, lokasinya agak jauh dari jalan raya, dan harganya juga overprice. Tapi, atapnya tidak berjamur. Tiba-tiba, kita menghela napas lega dan berpikir, "Wah, yang ini lumayan juga." Tanpa kita sadari, kita baru saja masuk ke dalam sebuah jebakan psikologis yang sangat rapi. Kita tidak memilih karena tempat itu bagus. Kita memilihnya karena tempat sebelumnya sangat mengerikan.

II

Kenapa otak kita begitu mudah diakali oleh situasi semacam itu? Untuk menjawabnya, mari kita mundur sejenak ke sebuah eksperimen sains klasik. Pernahkah teman-teman mendengar tentang eksperimen tiga mangkuk air? Siapkan satu mangkuk air panas, satu air es, dan satu air bersuhu ruang. Jika kita merendam tangan kanan di air es dan tangan kiri di air panas selama satu menit, lalu memasukkan keduanya ke air bersuhu ruang, hal aneh akan terjadi. Tangan kanan kita merasa air itu hangat, sementara tangan kiri merasa air itu dingin. Padahal, airnya sama. Secara neurologis, otak kita tidak dirancang untuk mengukur nilai absolut. Otak kita adalah mesin pembanding yang bekerja berdasarkan referensi. Dalam psikologi kognitif, fenomena ini dikenal sebagai the contrast effect atau efek kontras. Sesuatu akan terasa berat, ringan, murah, atau mahal, murni tergantung pada apa yang disandingkan di sebelahnya.

III

Sekarang, mari kita bawa konsep ini ke skala yang lebih besar. Kalau efek kontras ini hanya dipakai oleh agen properti, atau oleh kedai kopi yang sengaja memajang gelas large yang sangat mahal agar gelas medium terlihat wajar, mungkin kerugian kita hanya sebatas beberapa ratus ribu rupiah. Tapi, bagaimana jika celah psikologis ini dieksploitasi oleh mereka yang memegang kendali atas hajat hidup orang banyak? Bagaimana jika para pembuat kebijakan, politisi, atau eksekutif perusahaan raksasa menggunakan mangkuk air panas dan air dingin tadi untuk menyuruh kita menelan keputusan yang merugikan? Di titik inilah, cerita tentang cara kerja otak kita berubah menjadi sesuatu yang sedikit lebih gelap dan penuh intrik. Kita mungkin sering merasa sedang berkompromi, padahal sebenarnya kita sedang diarahkan.

IV

Inilah rahasia terburuk dalam dunia lobi dan penyusunan regulasi. Mari kita sebut taktik ini sebagai "umpan bencana". Ketika ada pihak yang ingin mengesahkan kebijakan yang sangat buruk—katakanlah, memotong anggaran kesehatan atau menaikkan pajak secara tidak adil—mereka tahu persis bahwa publik akan marah. Jadi, alih-alih langsung mengumumkan kebijakan tersebut, mereka sengaja "membocorkan" draf kebijakan yang jauh lebih brutal. Misalnya, wacana mencabut subsidi 100% dan memecat ribuan pekerja. Apa yang terjadi selanjutnya sangat bisa ditebak. Publik meledak. Demonstrasi terjadi di mana-mana. Media sosial gempar. Lalu, dengan gaya bak pahlawan yang bijaksana, para pembuat kebijakan ini tampil ke publik. Mereka berkata, "Kami mendengar suara rakyat." Mereka membatalkan wacana brutal tersebut. Sebagai gantinya, mereka mengesahkan kebijakan awal yang "hanya" memotong anggaran sebesar 30%. Tiba-tiba, tensi menurun. Kita merasa menang. Kita bersyukur. Padahal, sejak hari pertama, target mereka memang 30%. Kebijakan yang buruk tiba-tiba terlihat seperti kompromi yang rasional, hanya karena ia disandingkan dengan opsi kiamat.

V

Menyadari bahwa pikiran kita sangat mudah dimanipulasi mungkin membuat kita merasa sedikit sinis. Tapi tenang saja, tujuan kita membahas ini bukan untuk menjadi paranoid setiap saat. Memahami the contrast effect adalah langkah pertama kita untuk membangun literasi kognitif bersama. Mencari jalan pintas lewat perbandingan adalah sifat bawaan otak yang sangat manusiawi. Itu cara kita bertahan hidup di dunia yang kompleks. Namun, mulai sekarang, setiap kali kita dihadapkan pada sebuah kebijakan baru, aturan baru, atau pilihan sulit, mari kita ambil jeda sejenak. Tarik napas, dan tanyakan secara objektif: apakah keputusan ini benar-benar baik dan berpihak pada kita? Ataukah ia hanya terlihat masuk akal karena pilihan di sebelahnya adalah sebuah mimpi buruk? Jangan biarkan ilusi perbandingan merampas ketajaman logika kita. Teman-teman, kita selalu berhak menuntut pilihan yang secara mutlak baik, bukan sekadar pilihan yang "kurang buruk".