teknik scapegoating modern
mencari musuh bersama untuk mengalihkan isu domestik
Pernahkah kita tanpa sengaja tersandung kaki meja, lalu entah kenapa justru menyalahkan mejanya? Rasanya kita ingin mengomel, "Meja bodoh, siapa sih yang taruh di sini!" Memang terdengar konyol, tapi ini adalah reaksi yang sangat manusiawi. Kita punya kecenderungan alami untuk mencari pihak lain saat ada hal buruk yang terjadi. Sayangnya, insting kecil ini bukan sekadar kebiasaan ngomel di ruang tamu. Di panggung dunia yang lebih besar, insting mencari pihak untuk disalahkan ini telah berevolusi menjadi salah satu trik manipulasi paling tua, paling efektif, dan paling mematikan. Trik ini dikenal dengan nama scapegoating atau pencarian kambing hitam. Dan tebak siapa target utama dari trik ini? Pikiran kita sendiri.
Mari kita bedah pelan-pelan bersama. Secara biologis, otak kita sebenarnya sangat hemat energi alias pemalas. Saat kita dihadapkan pada masalah yang rumit—seperti ekonomi yang merosot, angka pengangguran yang tinggi, atau keadilan yang tumpul—otak kita merasa sangat terbebani. Memikirkan solusi sistemik itu sangat menguras kalori. Di sinilah otak kita secara otomatis mencari jalan pintas. Para psikolog menyebutnya sebagai cognitive ease atau kemudahan kognitif. Jauh lebih hemat energi bagi otak kita untuk menunjuk satu pihak yang jahat, daripada harus memahami kerumitan struktural. "Ini semua gara-gara mereka!" Kalimat ini bertindak seperti pereda nyeri bagi pikiran kita yang sedang stres. Rasa frustrasi kita tiba-tiba punya wajah. Punya nama. Punya sasaran yang jelas. Namun pertanyaannya, apa jadinya kalau celah psikologis kita ini disadari oleh mereka yang sedang berkuasa?
Sejarah punya pola yang anehnya selalu berulang. Setiap kali sebuah negara atau sistem sedang hancur dari dalam, tiba-tiba saja selalu muncul "monster" baru di luar sana. Ingat bagaimana para penguasa di abad pertengahan menuduh kaum penyihir sebagai penyebab gagal panen massal? Di era modern, wujud penyihir ini berganti. Ia bisa berupa negara tetangga, kelompok minoritas, pekerja asing, atau ideologi tertentu. Tiba-tiba saja, saat harga bahan pokok melambung tinggi dan hukum di dalam negeri sedang kacau-kacaunya, kita justru diajak marah berjemaah memusuhi kelompok X. Kita dibuat sangat sibuk meneriaki musuh di seberang lautan sana. Kita diajak fokus pada ancaman luar, sampai kita sama sekali lupa bahwa atap rumah kita sendiri sedang bocor parah dan tiangnya hampir roboh. Bagaimana bisa ilusi sebuah musuh bersama membuat jutaan orang teralihkan dari masalah nyata di depan mata? Ada sebuah rahasia kecil di balik ilusi ini.
Di sinilah hard science memberikan jawaban yang cukup mengejutkan. Teknik scapegoating modern sebenarnya bukanlah sekadar taktik politik biasa. Ini adalah bentuk peretasan saraf manusia secara massal. Saat sebuah narasi terus-menerus memborbardir kita dengan ancaman "musuh bersama", mereka sedang menyalakan amygdala, yaitu pusat alarm ketakutan purba di otak kita. Saat amygdala menyala terang, bagian otak rasional kita atau prefrontal cortex otomatis meredup. Kita kehilangan kemampuan berpikir kritis. Hebatnya lagi, saat kita merasa terancam oleh "mereka", otak kita justru melepaskan hormon oxytocin secara deras. Ya, ini adalah hormon cinta dan ikatan sosial. Kita tiba-tiba merasa sangat bersatu, hangat, dan solid dengan sesama kita untuk melawan musuh fiktif tersebut. Ini adalah ironi biologis yang sangat brilian: ketakutan pada musuh luar menciptakan ikatan loyalitas yang buta di dalam. Para manipulator tahu persis formula ini. Ciptakan musuh, buat rakyat ketakutan, lalu rakyat akan memeluk erat pemimpinnya dan melupakan semua kebobrokan domestik yang sedang terjadi.
Menyadari hal ini mungkin membuat kita merasa sedikit tidak nyaman. Rasanya seperti baru sadar bahwa kita sedang bermain di atas panggung sandiwara yang naskahnya ditulis oleh orang lain. Tapi teman-teman, kita tidak perlu merasa bodoh. Sistem saraf kita memang didesain seperti itu untuk bertahan hidup dari ancaman binatang buas di zaman purba. Pemahaman akan cara kerja otak ini justru adalah senjata terbaik yang kita punya hari ini. Lain kali, ketika kita melihat semua orang di media sosial mendadak marah pada satu musuh bersama yang sengaja disodorkan berulang-ulang, mari kita ambil jeda sejenak. Tarik napas panjang, tenangkan amygdala kita, lalu bertanyalah pada diri sendiri dengan jernih. Apakah monster ini benar-benar nyata dan berbahaya? Ataukah ini sekadar asap tebal yang sengaja disemburkan, agar kita tidak melihat siapa yang sebenarnya sedang mencuri barang-barang di dalam rumah kita sendiri?