spiral keheningan

mengapa kita memilih diam saat merasa pendapat kita berbeda dari publik

spiral keheningan
I

Pernahkah kita duduk di sebuah ruang rapat, atau sekadar memantau grup WhatsApp keluarga, lalu melihat sebuah opini yang menurut kita jelas-jelas keliru? Tapi, alih-alih mengetik bantahan panjang lebar, kita malah menghapus draf pesan tersebut. Kita tersenyum kaku, mengangguk, atau sekadar mengirim emoji jempol. Kita memilih diam. Padahal, isi kepala kita sedang berteriak protes. Saya sering mengalami ini. Mungkin teman-teman juga. Pertanyaannya: kenapa kita tiba-tiba menjadi penurut di tengah keramaian?

II

Mari kita sepakati satu hal dulu. Memilih diam saat mayoritas bersuara berbeda itu bukan sekadar urusan nyali. Ini adalah warisan purba yang mengakar sangat jauh di dalam biologi kita. Coba bayangkan kita hidup di zaman batu. Di masa itu, berbeda pendapat dengan kepala suku atau kelompok mayoritas bukan cuma berisiko menciptakan suasana canggung. Risikonya adalah diusir dari gua. Dan diusir dari kelompok sama artinya dengan mati kelaparan atau dimangsa predator. Otak kita berevolusi untuk membaca situasi sosial sebagai perkara hidup dan mati. Jadi, ketika kita melihat opini publik bergerak ke satu arah, alarm peringatan dini di kepala kita menyala. Kita tidak ingin dikucilkan. Rasa takut akan isolasi sosial ini begitu kuat, sampai-sampai ia bisa membungkam logika kita yang paling jernih sekalipun.

III

Bukti dari betapa ekstremnya hal ini bisa dilihat dari cara otak kita memproses penolakan. Para ahli ilmu saraf (neuroscientist) pernah melakukan pemindaian otak menggunakan mesin fMRI terhadap orang-orang yang pendapatnya dikucilkan oleh kelompok. Hasilnya sangat mengejutkan. Saat kita merasa ditolak secara sosial, bagian otak yang menyala terang adalah anterior cingulate cortex. Tahukah teman-teman apa fungsi area otak ini? Ini adalah area yang sama persis untuk memproses rasa sakit fisik. Ya, dijauhi karena berbeda pendapat itu secara biologis terasa sama perihnya dengan jari kaki yang tersandung ujung meja. Namun, ada satu misteri yang lebih besar di sini. Jika rasa sakitnya begitu nyata, bagaimana sebenarnya kita bisa "membaca" bahwa kita sedang berada di pihak minoritas? Dari mana kita tahu bahwa kita akan dikucilkan sebelum kita bahkan membuka mulut?

IV

Jawabannya terletak pada sebuah teori psikologi politik yang brilian dari tahun 1970-an. Seorang ilmuwan bernama Elisabeth Noelle-Neumann menyebut fenomena ini sebagai spiral keheningan atau spiral of silence. Noelle-Neumann menemukan bahwa kita ini diam-diam memiliki semacam indra keenam. Ia menyebutnya organ kuasi-statistik (quasi-statistical organ). Secara tidak sadar, otak kita terus-menerus memindai lingkungan, menghitung kekuatan opini, dan menebak mana pendapat yang sedang naik daun dan mana yang akan tenggelam. Ketika radar internal kita mendeteksi bahwa pandangan kita ada di kubu minoritas yang tidak populer, kita secara otomatis mengunci mulut. Kita masuk ke dalam spiral yang semakin lama semakin hening. Tragedi terbesarnya ada di sini. Sering kali, kubu "mayoritas" itu sebenarnya fiktif. Mereka hanyalah segelintir orang yang kebetulan paling berisik. Karena yang berisik ini terlihat dominan, orang-orang seperti kita yang awalnya ingin berbeda pendapat secara perlahan mundur teratur. Keheningan kolektif kita inilah yang akhirnya membuat opini yang keliru terlihat seolah-olah seperti kebenaran mutlak.

V

Memahami spiral keheningan membuat saya, dan semoga teman-teman juga, bisa lebih welas asih pada diri sendiri. Kita diam bukan karena kita pengecut. Kita diam karena kita adalah manusia yang secara biologis diprogram untuk mencari rasa aman dalam kebersamaan. Namun, menyadari kelemahan ini adalah langkah pertama untuk mematahkannya. Sejarah sains, peradaban, dan hak asasi manusia selalu digerakkan oleh satu atau dua orang yang berani menahan rasa "sakit fisik" dari penolakan sosial. Kita tidak harus selalu berteriak menantang arus di depan umum. Kadang, keberanian itu sesederhana menolak untuk ikut-ikutan mengangguk. Karena begitu satu orang saja berani bersuara beda, ilusi mayoritas itu akan retak. Dan biasanya, saat kita berani bicara, akan ada orang lain yang diam-diam menghampiri dan berbisik, "Saya lega kamu mengatakannya, saya pikir cuma saya yang merasa begitu."