psikologi sensor
mengapa melarang sesuatu justru membuatnya makin dicari massa
Pernahkah kita melihat sebuah tombol besar berwarna merah dengan tulisan "JANGAN DITEKAN"? Apa yang pertama kali terlintas di kepala kita? Ya, dorongan luar biasa dan menggelitik untuk segera menekannya. Mari kita mundur sedikit ke tahun 2003 untuk melihat fenomena ini di dunia nyata. Ada seorang penyanyi legendaris, Barbra Streisand. Ia menuntut seorang fotografer karena mengambil foto rumah mewahnya dari udara. Tujuan Barbra sangat jelas. Ia ingin foto itu dihapus dari internet agar tidak ada yang melihat rumahnya. Tapi tebak apa yang terjadi? Tuntutan hukum itu justru masuk berita nasional. Foto yang tadinya cuma diunduh enam kali, mendadak dicari dan dilihat oleh lebih dari 400 ribu orang dalam sebulan. Usaha mati-matian untuk menyembunyikan sesuatu justru membuatnya menjadi tontonan seluruh dunia. Ini terdengar konyol, tapi percayalah, ini sangat manusiawi.
Kejadian kocak tadi akhirnya melahirkan sebuah istilah yang sangat populer di dunia maya: Streisand Effect. Tapi teman-teman, fenomena ini sama sekali bukan barang baru yang cuma ada di era internet. Sejarah manusia penuh dengan cerita serupa. Di abad ke-16, gereja membuat daftar buku terlarang yang diberi nama Index Librorum Prohibitorum. Niat awalnya sangat mulia di mata mereka, yaitu melindungi umat dari ajaran yang dianggap sesat. Namun hasilnya sangat berkebalikan. Daftar larangan itu malah berubah fungsi menjadi semacam "katalog rekomendasi buku paling wajib dibaca" oleh para cendekiawan masa itu. Kalau kita pikir-pikir secara logis, pola ini aneh sekali. Seharusnya, kalau sesuatu dilarang atau disensor, aksesnya menjadi sulit. Kalau aksesnya sulit, bukankah kita seharusnya malas mencari? Namun kenyataannya, larangan justru bertindak seperti bumbu penyedap rahasia. Sesuatu yang mungkin awalnya biasa-biasa saja, mendadak jadi sangat menggoda begitu diberi label "terlarang". Kenapa otak kita seolah menolak tunduk? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita saat sebuah otoritas berkata "tidak boleh"?
Di sinilah ilmu psikologi mulai mengambil peran. Pada tahun 1966, seorang psikolog bernama Jack Brehm merumuskan sebuah teori brilian yang ia sebut Psychological Reactance atau reaktansi psikologis. Inti dari teori ini sebenarnya sangat dekat dengan keseharian kita. Kita, sebagai manusia, lahir dengan kebutuhan dasar untuk merasa bebas. Kita ingin merasa memegang kendali penuh atas pilihan-pilihan hidup kita sendiri. Nah, saat ada informasi yang disensor, diblokir, atau dilarang, otak kita ternyata tidak melihatnya sebagai upaya perlindungan. Otak kita langsung menerjemahkannya sebagai ancaman langsung terhadap kebebasan kita. Tapi tunggu dulu, ini baru separuh dari ceritanya. Ancaman terhadap kebebasan ini ternyata diam-diam membangunkan sebuah alarm purba di dalam jaringan saraf kita. Sebuah alarm yang membuat kita merasa harus mendapatkan informasi tersebut, seolah-olah kelangsungan hidup kita bergantung padanya. Mengapa sekadar sensor film atau larangan membaca buku tertentu bisa memicu reaksi sedahsyat itu di tingkat seluler tubuh kita?
Mari kita bedah mesin penggerak utamanya: sirkuit dopamin di dalam otak kita. Teman-teman mungkin sering mendengar dopamin disebut sebagai sekadar hormon kebahagiaan. Padahal, dalam neurosains modern, dopamin lebih tepat disebut sebagai molekul motivasi dan pencarian (seeking system). Saat kebebasan kita diancam oleh sebuah pelarangan, otak kita mengalami defisit atau kehilangan kendali. Untuk mengembalikan keseimbangan mental itu, otak langsung memompa dopamin dalam jumlah besar. Sinyal yang dikirimkan otak kita sangat jelas: "Cari tahu apa yang disembunyikan, karena itu pasti informasi yang sangat penting untuk bertahan hidup!" Secara kacamata evolusi, mekanisme ini sangat masuk akal. Bayangkan leluhur kita di padang sabana dilarang pergi ke sebuah gua oleh ketua suku tanpa alasan yang jelas. Rasa ingin tahu untuk tetap mengecek gua tersebut bisa jadi menyelamatkan nyawa mereka dari predator yang diam-diam disembunyikan di sana. Jadi, sebuah larangan secara artifisial mendongkrak "nilai" dari objek yang dilarang tersebut. Kita menginginkan hal yang disensor bukan karena benda itu selalu bagus atau bermanfaat. Kita mengejarnya karena proses merebutnya kembali memberi kita ilusi biologis bahwa kita telah memenangkan kembali kebebasan kita.
Memahami cara kerja otak kita ini rasanya seperti sedang berkaca di depan cermin yang sangat jujur. Tiba-tiba menjadi masuk akal kenapa kita justru makin penasaran mengklik foto buram bertuliskan sensitive content di media sosial. Atau kenapa film dokumenter yang diprotes keras malah laku keras dan trending di mana-mana. Kita tidak sedang berusaha menjadi pemberontak tanpa sebab. Kita hanya sedang menjadi manusia biasa yang digerakkan oleh biologi purba kita. Tentu saja, kita harus akui bahwa tidak semua yang dilarang itu diam-diam baik buat kita. Kadang sensor memang murni ada untuk melindungi, seperti peringatan bahaya ekstrem atau konten kekerasan. Tapi, dengan menyadari adanya Psychological Reactance di dalam diri kita, kita sekarang punya satu kekuatan baru, yaitu kemampuan untuk memberi jeda. Saat kita tiba-tiba merasa sangat mendambakan sesuatu hanya karena hal itu dilarang, kita bisa tersenyum dan bertanya pada diri sendiri. Apakah kita benar-benar butuh informasi ini? Ataukah ini cuma sirkuit dopamin kita yang sedang meronta minta kebebasan? Pada akhirnya, berpikir kritis adalah senjata terbaik yang kita miliki. Karena kebebasan sejati bukan sekadar kemampuan untuk menentang larangan, melainkan kemampuan kita untuk memilih secara sadar kapan harus bertindak, dan kapan harus membiarkannya pergi.