psikologi ritual massa

peran upacara dan parade dalam memperkuat ideologi

psikologi ritual massa
I

Pernahkah kita berada di tengah sebuah stadion yang penuh sesak? Bayangkan momen itu sejenak. Kita berdiri bahu-membahu dengan ribuan orang asing. Lalu, tiba-tiba satu stadion menyanyikan lagu kebangsaan yang sama, atau meneriakkan chant dukungan untuk tim favorit secara serempak. Tiba-tiba saja, bulu kuduk kita merinding. Ada desiran aneh di dada. Tiba-tiba rasa lelah hilang, digantikan oleh euforia yang sulit dijelaskan. Di momen itu, kita tidak lagi merasa sebagai individu yang sendirian menghadapi kerasnya dunia. Kita merasa menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Pengalaman ini sangat nyata, memabukkan, dan indah. Tapi, mari kita jeda sebentar dan berpikir kritis. Mengapa sekadar bergerak atau bersuara bersama bisa memanipulasi emosi kita sedemikian rupa? Mengapa dari zaman manusia purba menari mengelilingi api unggun, hingga upacara bendera hari Senin di sekolah, kita selalu dipaksa untuk melakukan ritual massa? Jawabannya ternyata bukan sekadar tradisi. Ada peretasan biologis tingkat tinggi yang sedang terjadi di dalam kepala kita.

II

Untuk memahami keajaiban aneh ini, kita harus mundur ribuan tahun ke belakang. Nenek moyang kita hidup di alam liar yang kejam. Sendirian berarti mati, berkelompok berarti selamat. Pertanyaannya, bagaimana cara otak kita memastikan sekumpulan individu yang egois mau bekerja sama? Alam semesta memberikan solusi yang brilian: interpersonal synchrony atau sinkronisasi antarpribadi.

Ketika kita melakukan gerakan berulang secara bersama-sama dengan orang lain—entah itu berbaris, bertepuk tangan, bernyanyi, atau bahkan sekadar menghentakkan kaki ke tanah—otak kita meresponsnya sebagai sebuah prestasi epik. Sebagai hadiahnya, otak menyemprotkan koktail kimiawi yang luar biasa. Hormon endorfin membanjiri darah kita, membunuh rasa sakit fisik dan memicu ekstasi. Lalu, hormon oksitosin—yang sering disebut hormon cinta—dilepaskan secara masif. Oksitosin inilah yang membuat rasa percaya di antara teman-teman satu kelompok meroket tajam. Dalam hitungan menit, sekumpulan orang asing secara biologis diikat menjadi satu keluarga. Kita diprogram secara genetis untuk ketagihan pada rasa kebersamaan ini.

III

Namun, di sinilah cerita ini mulai mengambil belokan yang gelap. Jika sinkronisasi massa ini begitu luar biasa dalam menyatukan manusia, apa yang terjadi jika ia jatuh ke tangan yang salah?

Mari kita buka catatan sejarah. Lihatlah rekaman parade militer di negara-negara otoriter. Lihatlah lautan manusia berseragam yang berbaris dengan presisi robotik di masa Perang Dunia Kedua. Atau, perhatikan betapa rapinya jutaan orang melakukan koreografi tangan yang sama di rapat akbar partai politik ekstrem. Mereka tidak sedang merayakan kebersamaan yang polos. Mereka sedang melakukan ritual. Ideologi dan doktrin politik selalu, tanpa kecuali, menunggangi ritual massa ini.

Pertanyaan besarnya kemudian menggantung di udara. Bagaimana bisa sebuah gerakan fisik yang sederhana—seperti mengangkat tangan bersamaan atau meneriakkan satu slogan—bisa membuat orang-orang rasional tiba-tiba membuang nalar kritisnya dan tunduk pada sebuah ideologi secara membabi buta? Mengapa ritual mengubah manusia menjadi pion penurut?

IV

Rahasia besarnya terletak pada apa yang disebut oleh para psikolog sebagai deindividuation (deindividuasi). Ketika kita memakai seragam yang sama, melakukan gerakan yang sama, dan meneriakkan hal yang sama, identitas pribadi kita pelan-pelan melebur. Ego kita "mati" sementara. Kita bukan lagi Budi, Siti, atau siapa pun dengan masalah dan opini pribadi. Kita berubah menjadi satu sel kecil dari sebuah super-organism raksasa.

Secara neurosains, proses ini sangat mengerikan sekaligus menakjubkan. Saat kita tenggelam dalam ritual massa yang sinkron, aktivitas di prefrontal cortex kita menurun drastis. Sebagai informasi, prefrontal cortex adalah bagian otak tepat di belakang dahi yang bertugas untuk berpikir logis, meragukan sesuatu, dan menimbang moralitas. Saat bagian otak pengkritik ini tertidur akibat kelelahan kognitif dan dibius oleh euforia oksitosin, bagian otak primitif kita mengambil alih kemudi.

Di titik buta inilah sebuah ideologi ditanamkan. Pemimpin atau sistem tidak perlu berdebat panjang lebar dengan logika kita. Mereka cukup membuat kita berbaris, bernyanyi, dan menuruti ritme yang sama. Ketika otak kita sudah merasa nyaman dan merasa "satu tubuh" dengan massa, apa pun pesan yang disuntikkan ke dalamnya akan diterima sebagai kebenaran mutlak. Ideologi itu tidak lagi disaring oleh logika, melainkan langsung ditelan oleh emosi. Kita tidak setuju karena ideologi itu masuk akal; kita setuju karena ideologi itu terasa benar secara biologis.

V

Memahami fakta ini bukan berarti kita harus menjadi manusia sinis yang menolak segala bentuk kebersamaan. Menonton konser musik, ikut mexican wave di pertandingan sepak bola, atau bernyanyi bersama teman-teman adalah bagian dari kegembiraan menjadi manusia. Kita butuh rasa terhubung itu. Hal tersebut menyehatkan mental dan jiwa kita.

Namun, literasi psikologis ini memberi kita sebuah perisai pelindung. Ketika kita berada di tengah parade politik, upacara ideologis, atau kerumunan massa yang menuntut keseragaman absolut, kita kini tahu apa yang sedang terjadi di balik layar. Kita bisa merasakan bulu kuduk kita merinding, kita bisa menikmati endorfinnya, tapi kita tidak membiarkan prefrontal cortex kita ikut tertidur.

Ideologi yang sehat akan mengundang kita untuk duduk dan berdiskusi dengan pikiran yang jernih. Sebaliknya, ideologi yang manipulatif akan selalu memaksa kita berbaris rapat, bergerak serempak, dan berteriak sampai suara kita habis—agar kita terlalu lelah untuk menyadari bahwa kita baru saja menyerahkan kebebasan berpikir kita. Di kerumunan berikutnya, mari kita tetap bernyanyi, tapi pastikan pikiran kita tetap menjadi milik kita sendiri.