psikologi populisme
cara narasi rakyat vs elit membakar emosi pemilih
Pernahkah kita menyadari betapa cepatnya grup WhatsApp keluarga atau tongkrongan berubah menjadi arena gladiator saat musim pemilu tiba? Tiba-tiba saja, kita merasa perlu membela seorang politisi mati-matian. Padahal, kalau dipikir-pikir, kenal secara pribadi juga tidak. Di saat yang bersamaan, kita merasa begitu muak dengan kelompok yang kita sebut sebagai "para elit" atau "penguasa". Perasaan muak ini sangat nyata. Kemarahan ini terasa sangat valid. Namun, mari kita berhenti sejenak dan bertanya. Apakah kemarahan ini benar-benar seratus persen milik kita? Atau jangan-jangan, tanpa sadar, tombol emosi di kepala kita sedang dipencet oleh sebuah narasi usang yang sudah dipakai sejak ribuan tahun lalu? Mari kita membedah sebuah trik psikologis paling sukses dalam sejarah peradaban manusia: populisme.
Untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di kepala kita, kita perlu melihat ke belakang. Jauh sebelum ada algoritma media sosial yang canggih, narasi populisme sudah menjadi senjata pamungkas dalam perebutan kekuasaan. Rumusnya selalu sama dan sangat sederhana. Dunia dibagi secara paksa menjadi dua kubu mutlak: rakyat biasa yang murni dan tertindas, melawan elit korup yang egois. Narasi ini sangat sedap didengar telinga. Kenapa? Karena ia secara instan membebaskan kita dari rasa bersalah atas kerumitan masalah hidup kita. Ekonomi sedang sulit? Salah para elit. Susah mencari pekerjaan? Salah sistem yang dikuasai oligarki. Politisi populis datang menawarkan diri bukan sebagai pelayan publik yang membosankan, tapi sebagai hero atau juru selamat. Mereka berbicara dengan bahasa keseharian kita, dan pura-pura marah dengan kemarahan kita. Tapi, pernahkah teman-teman berpikir, mengapa cerita "kita melawan mereka" ini begitu cepat membakar dada kita dan mematikan nalar logis kita? Ada sesuatu yang bersembunyi di balik tengkorak kita yang membuat kita sangat rentan terhadap cerita ini.
Rahasianya tidak terletak pada seberapa pintar sang politisi berpidato di atas mimbar. Rahasianya justru ada pada bagaimana otak manusia dirancang oleh evolusi. Mari kita berkenalan dengan amygdala, sebuah struktur kecil berbentuk almond di dalam otak kita yang berfungsi sebagai alarm bahaya. Ratusan ribu tahun yang lalu, alarm ini menyelamatkan nenek moyang kita dari terkaman hewan buas. Masalahnya, amygdala kita hari ini kesulitan membedakan antara ancaman fisik yang nyata, dengan ancaman psikologis dari narasi kampanye politik. Ketika seorang politisi berteriak di layar televisi bahwa "masa depan kita sedang dirampok oleh para elit", amygdala kita seketika menyala terang. Otak membanjiri tubuh dengan hormon stres. Kita merasa keselamatan kita sedang terancam. Menariknya, di tengah kepanikan itu, sang politisi memberi tahu kita siapa musuh yang harus dibenci, dan merangkul kita sebagai bagian dari kelompoknya. Di sinilah otak kita merilis dopamin. Ya, teman-teman, menemukan musuh bersama ternyata memberikan sensasi nikmat, lega, dan adiktif di otak kita. Tapi, bagaimana tepatnya ilusi ini diciptakan sampai-sampai kita rela bermusuhan dengan tetangga sendiri demi membela seorang tokoh politik?
Jawabannya ada pada sebuah konsep dasar psikologi yang disebut Social Identity Theory. Secara evolusioner, manusia adalah makhluk komunal yang dulunya hanya bisa bertahan hidup jika berada dalam sebuah suku atau tribe. Berada di luar kelompok berarti mati kelaparan atau dimangsa predator. Karena itu, otak kita sangat terobsesi untuk selalu membedakan siapa "orang kita" (in-group) dan siapa "orang luar" (out-group). Para politisi populis yang cerdik sangat memahami kelemahan biologis ini. Mereka jarang menjual program kerja atau kebijakan publik, karena hal itu tidak memicu reaksi emosional. Sebagai gantinya, mereka membajak insting purba kita. Mereka sengaja menciptakan narasi ancaman agar kita merasa takut dan tidak aman. Setelah kita ketakutan, mereka menciptakan identitas "rakyat" sebagai benteng perlindungan emosional kita. Lalu, mereka menunjuk "elit" atau pendukung kubu seberang sebagai monster yang harus dihancurkan. Saat kita saling maki di kolom komentar media sosial, kita sebenarnya tidak sedang berdebat soal politik. Secara neurologis, kita sedang berjuang mati-matian mempertahankan eksistensi suku khayalan kita dari ancaman kepunahan. Kita tidak sedang berpikir, kita sedang bereaksi.
Jika belakangan ini teman-teman merasa mudah lelah, gampang emosional, atau sinis terhadap kondisi negara, percayalah, kita tidak sendirian. Kita bukan kumpulan manusia bodoh yang mudah ditipu. Kita hanya sekumpulan manusia biasa, dengan otak purba, yang sedang mencoba bertahan hidup di dunia modern yang terlalu bising. Populisme akan selalu laku keras karena ia mengeksploitasi cara kerja alami otak kita. Namun, kabar baiknya, kecenderungan biologis bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Kita juga dianugerahi lapisan otak bagian depan (prefrontal cortex) yang mampu berpikir rasional dan logis. Lain kali, ketika kita mendengar pidato berapi-api yang membagi dunia hanya menjadi "kita yang baik" dan "mereka yang jahat", mari ambil napas panjang. Beri waktu sejenak agar akal sehat kita mengambil alih kemudi dari amygdala. Mari kita tanyakan pada diri sendiri dengan jujur: apakah kemarahan ini benar-benar akan memperbaiki kualitas hidup saya, atau hanya sekadar mengisi bahan bakar untuk kendaraan politik orang lain? Karena pada akhirnya, penangkal terbaik dari bahaya populisme bukanlah argumen yang paling pintar, melainkan pikiran yang jernih dan hati yang penuh empati.