psikologi narasi pahlawan

mengapa massa selalu mencari sosok penyelamat

psikologi narasi pahlawan
I

Pernahkah kita sadar, kenapa setiap kali ada krisis, kita selalu menunggu ada satu orang yang datang membereskan semuanya? Dari plot film layar lebar, obrolan di warung kopi, sampai keriuhan kotak suara pemilu, polanya selalu sama. Kita begitu mudah jatuh cinta pada narasi "Sang Penyelamat". Mari kita bicarakan hal ini secara santai, tapi lewat kacamata sains. Kenapa otak kita seolah terobsesi dengan sosok pahlawan? Apakah ini murni wujud harapan dari masyarakat yang lelah, atau jangan-jangan, ini hanyalah sekadar mekanisme pertahanan biologi kita yang sedang mencari jalan pintas?

II

Coba kita putar waktu ke ratusan ribu tahun lalu. Nenek moyang kita hidup di sabana liar yang ganas. Setiap hari adalah urusan hidup dan mati, entah itu berburu atau lari dari hewan buas. Dalam kondisi penuh ketidakpastian tersebut, memiliki satu individu alfa yang kuat, dominan, dan tahu arah adalah sebuah keuntungan evolusioner. Ini bukan urusan politik, ini murni soal taktik bertahan hidup. Secara psikologis, otak kita berevolusi untuk sangat membenci ketidakpastian. Ketidakpastian memicu produksi kortisol, hormon stres utama kita. Nah, ketika ada satu sosok yang berdiri di depan dan berteriak, "Tenang, saya tahu jalan keluarnya," otak kita langsung merespons dengan cepat. Hormon stres kita turun drastis, digantikan oleh siraman dopamin. Kita merasa aman dan terlindungi. Masalahnya, dunia modern kita hari ini tidaklah sesederhana sabana kuno.

III

Di titik inilah sejarah mencatat banyak sekali sisi gelap dari kecenderungan biologi kita. Teman-teman pasti ingat tokoh-tokoh karismatik masa lalu yang awalnya disembah bak pahlawan, tapi pada akhirnya malah membawa kehancuran massal. Dari pimpinan kultus yang manipulatif hingga diktator dengan janji-janji manisnya. Pertanyaannya, kenapa orang-orang yang rasional, berpendidikan, dan cerdas bisa tiba-tiba menyerahkan kehendak bebasnya pada satu manusia biasa? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam jaringan saraf kita ketika kita sedang mengelu-elukan seorang tokoh secara fanatik? Ada sebuah korsleting logika yang secara diam-diam menipu kita, dan jujur saja, kita semua sangat rentan mengalaminya tanpa sadar.

IV

Ini dia rahasianya. Dalam psikologi kognitif, ada sebuah konsep yang disebut sebagai cognitive miser atau otak yang pelit energi. Secara anatomi, otak kita beratnya cuma sekitar dua persen dari total berat tubuh, tapi luar biasanya, ia menyedot dua puluh persen dari total kalori harian kita. Berpikir kritis tentang masalah yang sistemik—seperti mengurai benang kusut korupsi, memahami krisis iklim, atau memperbaiki inflasi ekonomi—itu sangat menguras kalori. Sangat melelahkan secara mental. Jadi, otak kita berevolusi mencari jalan pintas atau heuristik. Di sinilah narasi pahlawan masuk sebagai jalan pintas yang paling hemat energi. Secara sains, ketika kita memuja seorang tokoh, kita sebenarnya tidak sedang mencari pahlawan. Kita sedang melakukan outsourcing atau menyerahkan tanggung jawab mental kita ke pundak orang lain. Ketika kita percaya ada "Ratu Adil" yang akan mengurus semua kekacauan, sistem saraf otonom kita bisa rileks. Kita merasa tidak perlu repot-repot berpikir dan turun tangan lagi.

V

Saya tahu, rasanya memang sangat melegakan ketika kita bisa percaya bahwa ada sosok hebat di luar sana yang akan menyelamatkan kita. Itu adalah hal yang sangat manusiawi. Namun, memahami sains di balik ilusi otak ini membuat kita bisa berpikir jauh lebih jernih. Realitasnya, dunia yang super rumit ini tidak akan pernah bisa diperbaiki oleh satu orang manusia saja, sekeren apa pun persona dan citra yang dia bangun. Perubahan yang nyata, yang tercatat dalam sejarah, selalu datang dari kerja kolektif yang pelan, kadang membosankan, namun melibatkan banyak sekali orang biasa. Jadi, mungkin ini saat yang tepat bagi kita untuk berhenti menunggu datangnya Superman di dunia nyata. Karena pada akhirnya, cerita yang paling hebat bukanlah tentang satu orang yang menyelamatkan dunia, melainkan tentang bagaimana kita mau mengambil tanggung jawab untuk menyelamatkan diri kita sendiri, bersama-sama.