psikologi kerumunan le bon
teori klasik tentang jiwa massa yang tidak rasional
Pernahkah kita berada di tengah stadion sepak bola, atau mungkin konser musik yang sangat ramai? Di sana, kita tiba-tiba ikut melompat, berteriak sekencang-kencangnya, atau bahkan ikut memaki wasit dengan kata-kata ajaib. Padahal, kalau di rumah sendirian, kita adalah sosok yang tenang dan sopan. Kenapa saat berkumpul bersama ribuan orang, kita seperti berubah menjadi manusia yang sama sekali berbeda? Seolah-olah, ada satu sakelar di otak kita yang tiba-tiba dimatikan. Kita bergerak mengikuti arus, marah bersama, sedih bersama, dan euforia bersama. Pengalaman ini sangat universal, tapi sekaligus menyimpan misteri psikologis yang sangat gelap.
Perasaan aneh ini sebenarnya sudah diamati sejak lama. Mari kita mundur sejenak ke negara Prancis pada akhir abad ke-19. Saat itu, suasana sosial sedang sangat kacau. Revolusi terjadi silih berganti, jalanan penuh dengan amarah, dan massa sering kali mengamuk tanpa kendali. Di tengah kekacauan itu, seorang polymath bernama Gustave Le Bon mengamati sebuah fenomena yang mengerikan. Le Bon menyadari bahwa ketika manusia berkumpul dalam jumlah besar, kepribadian individu mereka tiba-tiba menguap. Orang yang cerdas, rasional, dan pendiam bisa mendadak beringas saat masuk ke dalam kerumunan. Pada tahun 1895, Le Bon menulis buku legendaris berjudul The Crowd: A Study of the Popular Mind. Ia merumuskan sebuah gagasan yang mengubah arah sejarah sosiologi dan psikologi. Tapi, apa sebenarnya yang diam-diam meretas otak kita saat berada di tengah lautan manusia?
Menurut Le Bon, ada tiga proses psikologis yang menimpa kita saat masuk ke dalam massa. Pertama adalah anonimitas. Saat berada di kerumunan, kita merasa tidak terlihat. Rasa tanggung jawab pribadi kita raib. "Ah, toh bukan cuma saya yang melakukannya." Ini adalah alasan utama kenapa netizen bisa sangat kejam saat bersembunyi di balik akun anonim di media sosial. Kedua adalah penularan atau contagion. Emosi di dalam kerumunan itu menular layaknya virus pernapasan. Kalau sepuluh orang panik, seribu orang akan ikut panik. Ingat fenomena memborong tisu toilet saat awal pandemi? Ketiga, kerumunan membuat kita menjadi sangat sugestif (suggestibility). Kita seolah terhipnotis. Kita kehilangan kemampuan berpikir kritis dan sangat gampang disetir oleh provokator, meskipun arahannya tidak masuk akal. Gabungan ketiga hal ini menciptakan apa yang Le Bon sebut sebagai collective mind atau jiwa massa. Sebuah entitas baru yang irasional, impulsif, dan liar. Mendengar teori ini, kita mungkin merinding. Namun, muncul sebuah pertanyaan besar. Apakah benar kerumunan mengubah kita menjadi zombi yang tak berotak? Apakah sains di era modern sepakat dengan pandangan pesimis ala Le Bon ini?
Di sinilah sains modern memberikan kejutan yang luar biasa. Selama puluhan tahun, teori Le Bon dipuja dan dijadikan buku panduan oleh banyak pemimpin dunia. Namun, para psikolog modern dan ilmuwan saraf (neuroscientist) akhirnya membongkar fakta yang jauh lebih kompleks. Penelitian terbaru dari cabang psikologi sosial menunjukkan bahwa kita tidak kehilangan akal sehat saat berada di kerumunan. Otak kita tidak mati. Yang sebenarnya terjadi adalah pergeseran identitas. Kita hanya berubah dari mode "Saya" menjadi "Kita". Pakar psikologi kerumunan seperti Stephen Reicher menemukan bahwa massa sebenarnya sangat rasional. Mereka hanya bertindak berdasarkan norma kelompok yang baru saja terbentuk. Saat kita berada di tengah donasi amal bersama, kerumunan akan saling menjaga dan sangat peduli. Namun, saat kita berada di kerumunan radikal, norma kekerasanlah yang dianggap wajar. Pemindaian otak menggunakan teknologi fMRI menunjukkan bahwa saat manusia berinteraksi dalam kelompok yang sefrekuensi, reward system atau sirkuit penghargaan di otak kita menyala terang. Kita menyemprotkan dopamin dan oksitosin. Kita merasa aman, diterima, dan punya tujuan. Jadi, kita bukan kehilangan kendali, teman-teman. Kita hanya secara sadar menyerahkan kendali tersebut pada nilai moral yang dianut oleh kelompok itu.
Pemahaman dari sains modern ini semestinya membuat kita lebih mawas diri sekaligus lebih berempati. Gustave Le Bon memang benar bahwa kerumunan memiliki kekuatan magis yang bisa mengubah perilaku manusia. Namun, dia keliru besar saat mengira bahwa jiwa massa selalu berujung pada kebodohan dan kehancuran. Kerumunan bisa meruntuhkan tembok kediktatoran, tapi kerumunan yang sama juga bisa melahirkan tragedi kemanusiaan. Semuanya murni tergantung pada identitas dan nilai dasar apa yang menyatukan kita di momen tersebut. Oleh karena itu, teman-teman, mari kita jadikan ini sebagai bahan renungan bersama. Lain kali, saat kita berada di tengah pusaran massa—entah itu berdesakan di stasiun kereta, di tengah stadion, atau saat ikut-ikutan marah pada trending topic di internet—ambil jeda satu detik. Tarik napas panjang. Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah nilai kerumunan ini sejalan dengan hati nurani saya?" Karena pada akhirnya, menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri kita itu sangat indah, asalkan kita tidak pernah lupa jalan pulang menuju akal sehat kita sendiri.