psikologi herding
belajar dari perilaku hewan tentang cara massa bergerak
Pernahkah kita sedang berjalan di sebuah mal, lalu melihat antrean mengular panjang di depan sebuah toko, dan tanpa sadar langkah kita melambat? Di dalam kepala, tiba-tiba muncul pikiran, "Ini pada antre apa ya? Jangan-jangan ada diskon besar atau barang bagus, ikut antre juga ah." Saya rasa hampir dari kita semua pernah mengalami momen kecil ini. Kita ikut-ikutan tanpa benar-benar tahu alasannya. Di dunia hewan, fenomena ini bisa berujung pada sesuatu yang sangat mengerikan sekaligus menakjubkan. Di hutan Amazon, ada fenomena yang disebut ant mill atau spiral kematian semut. Ratusan ribu semut tentara yang buta bergerak melingkar, mengikuti feromon atau jejak kimiawi dari semut di depannya. Mereka terus berputar tanpa henti, berjam-jam, berhari-hari, sampai akhirnya mereka semua mati kelelahan. Tidak ada satupun semut yang berhenti untuk berpikir, "Tunggu dulu, sepertinya kita cuma muter-muter saja daritadi." Mereka hanya mengikuti massa. Dan sejujurnya, pola pikir semut ini punya kemiripan yang mengkhawatirkan dengan cara otak kita bekerja.
Mari kita mundur sejenak dan melihat mengapa hewan sangat suka bergerombol. Dalam biologi evolusioner, perilaku ini disebut herding behavior. Teman-teman pasti pernah melihat video dokumenter di mana ribuan ikan sarden membentuk bola raksasa di lautan, atau ribuan burung jalak bermanuver di langit senja membentuk pola yang indah (murmuration). Bagi hewan-hewan ini, bergerak bersama massa adalah teknologi pertahanan hidup paling canggih yang pernah diciptakan alam. Aturannya sangat sederhana: jangan terlalu jauh dari tetanggamu, dan jika tetanggamu belok kiri, kamu harus ikut belok kiri sekarang juga. Dengan cara ini, seekor ikan tidak perlu repot-repot memindai lautan untuk mencari hiu. Ia cukup mendelegasikan tugas kewaspadaan itu kepada kelompoknya. Bergerak dalam kawanan menghemat energi otak. Ini adalah jalan pintas kognitif yang brilian. Nenek moyang kita, para Homo sapiens purba yang hidup di sabana Afrika puluhan ribu tahun lalu, juga mengandalkan insting yang sama. Jika ada tiga orang anggota suku kita tiba-tiba berlari ketakutan ke arah tebing, kita tidak akan berhenti untuk bertanya "Ada apa ini?". Kita akan ikut berlari sekencang mungkin. Karena mereka yang berhenti untuk bertanya, biasanya berakhir menjadi makan siang singa.
Namun, dunia sudah berubah secara drastis, bukan? Kita tidak lagi berlari menghindari singa. Masalahnya, sistem operasi di otak kita masih menggunakan software zaman purba tersebut. Inilah yang membuat psikologi massa menjadi sebuah misteri yang menegangkan. Bayangkan kejadian panic buying tisu toilet saat awal pandemi beberapa tahun lalu. Atau perhatikan bagaimana sebuah saham yang tidak bernilai tiba-tiba meroket tajam hanya karena semua orang di internet membicarakannya (Fear of Missing Out atau FOMO). Secara individu, kita mungkin adalah manusia yang sangat rasional, bisa menghitung pajak dan merencanakan masa depan. Tapi begitu kita masuk ke dalam kerumunan—baik itu kerumunan fisik di stadion maupun kerumunan digital di media sosial—kecerdasan individu kita seolah menguap begitu saja. Ada sebuah eksperimen psikologi klasik bernama Asch conformity experiment. Dalam tes ini, orang yang sepenuhnya sadar dan pintar, secara sukarela memberikan jawaban yang terbukti salah secara visual, hanya karena semua orang di ruangan tersebut menjawab salah. Pertanyaannya sekarang: mengapa kecerdasan kita bisa dibajak sebegitu mudahnya oleh kerumunan? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam tengkorak kepala kita saat kita berada di tengah massa?
Jawabannya terletak pada perangkat keras otak kita sendiri. Teman-teman, mari kita berkenalan dengan dua aktor utama di otak kita saat sedang berada dalam kelompok: amygdala (pusat rasa takut dan emosi) dan jaringan saraf yang disebut mirror neurons (neuron cermin). Saat kita melihat orang lain melakukan sesuatu dengan intensitas tinggi—marah, panik, atau bersemangat—mirror neurons kita langsung menyala. Saraf ini membuat kita merasakan apa yang dirasakan massa secara instan. Di saat yang sama, otak rasional kita, yaitu prefrontal cortex yang bertugas untuk berpikir analitis, mengalami penurunan aktivitas. Kenapa otak mematikan mode analitis? Karena amygdala kita mengirimkan sinyal peringatan kuno: berbeda dari kelompok adalah ancaman kematian. Di zaman purba, diusir dari kelompok berarti mati kelaparan atau dimakan predator. Otak kita secara harfiah menyamakan "rasa terisolasi secara sosial" dengan "rasa sakit secara fisik". Inilah alasan biologis mengapa melawan arus opini publik atau tidak ikut campur dalam tren viral terasa sangat tidak nyaman. Otak kita menghukum kita dengan rasa cemas ketika kita mencoba keluar dari barisan. Kita memilih menjadi irasional asalkan tetap diterima oleh kelompok, karena itu terasa jauh lebih aman bagi sistem saraf kita.
Memahami sains di balik psikologi herding ini sebenarnya adalah sebuah proses yang membebaskan. Ini memberi kita ruang empati yang luas, baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain. Ketika kita melihat sekelompok orang di media sosial ikut-ikutan menghujat seseorang tanpa bukti yang jelas, atau saat kita menyadari bahwa kita baru saja membeli barang yang tidak kita butuhkan hanya karena influencer merekomendasikannya, kita tidak perlu merasa bodoh. Itu hanyalah biologi kita yang sedang bekerja. Itu adalah sisa-sisa insting bertahan hidup yang memastikan nenek moyang kita tetap hidup. Namun, sebagai manusia modern, kita memiliki satu senjata pamungkas yang tidak dimiliki oleh ikan sarden atau semut: kesadaran diri. Mulai hari ini, setiap kali kita merasakan dorongan kuat untuk ikut-ikutan, entah itu dalam berinvestasi, beropini, atau sekadar ikut antre panjang, mari kita ambil napas dalam-dalam. Berikan jeda tiga detik agar prefrontal cortex kita bisa kembali menyala. Tanyakan pada diri sendiri, "Apakah saya melakukan ini karena ini masuk akal, atau karena semua orang di sebelah saya sedang melakukannya?" Karena pada akhirnya, kita tidak harus menjadi semut yang terjebak dalam spiral kematian. Kita bisa memilih untuk melangkah keluar dari barisan, mengamati arah angin, dan menentukan jalan kita sendiri.