neuroscience tentang kemarahan moral

mengapa menghujat orang lain terasa nikmat

neuroscience tentang kemarahan moral
I

Bayangkan kita sedang rebahan sambil memutar layar ponsel. Tiba-tiba, sebuah video lewat di lini masa. Ada seseorang bersikap kasar pada pelayan restoran, atau mungkin seorang figur publik ketahuan melontarkan komentar hipokrit. Apa reaksi pertama kita? Darah rasanya mendidih. Jari jemari mendadak gatal ingin mengetik komentar pedas. Kita marah. Tapi anehnya, setelah menekan tombol "kirim" atau membagikan ulang video tersebut dengan makian, ada perasaan lega. Bahkan... puas. Pernahkah kita bertanya-tanya, kenapa marah karena kesalahan orang lain itu rasanya nikmat sekali? Bukankah amarah seharusnya membuat kita stres dan tidak nyaman? Selamat datang di dunia moral outrage atau kemarahan moral, sebuah fitur bawaan otak kita yang belakangan ini sedang sibuk-sibuknya dieksploitasi oleh teknologi.

II

Untuk memahami keanehan ini, mari kita mundur sedikit ke zaman batu. Nenek moyang kita hidup dalam kelompok-kelompok kecil pemburu dan pengumpul. Pada masa itu, keselamatan individu sangat bergantung pada harmoni kelompok. Kalau ada satu orang yang egois—misalnya menimbun makanan saat musim dingin atau kabur saat diserang predator—seluruh kelompok bisa mati. Jadi, evolusi membekali manusia dengan alarm internal. Ketika kita melihat seseorang melanggar norma sosial, alarm ini menyala tajam. Kita merasa terpanggil untuk menghukum si pelanggar agar aturan kelompok tetap terjaga. Ini adalah mekanisme bertahan hidup murni. Tapi, evolusi menghadapi satu masalah besar: menghukum orang lain itu berisiko. Kita bisa terluka, kehilangan energi, atau dibalas. Lalu, bagaimana caranya otak meyakinkan kita agar tetap mau mengambil risiko demi kebaikan bersama? Di sinilah otak manusia melakukan sebuah trik sulap biologis yang luar biasa.

III

Trik sulap ini baru benar-benar terungkap ketika para ahli neurosains mulai memasukkan manusia ke dalam mesin pemindai otak atau fMRI. Dalam berbagai eksperimen, para ilmuwan mengamati aliran darah di otak ketika seseorang diberi kesempatan untuk menghukum pihak yang melanggar aturan. Logikanya, karena ini berkaitan dengan kemarahan, agresi, dan potensi konflik, area otak yang mengurus stres atau rasa terancam seharusnya menyala paling terang. Amigdala, si pusat rasa takut, mungkin? Ternyata bukan. Lampu paling terang justru menyala di area otak yang sama sekali berbeda. Area ini adalah bagian yang biasanya aktif ketika kita memakan cokelat yang enak, memenangkan undian, atau... mengonsumsi obat-obatan terlarang. Pertanyaannya, zat kimia apa yang sebenarnya sedang disemprotkan oleh otak kita saat kita ramai-ramai menghujat orang jahat di internet? Dan kenapa fenomena ini menjadi sangat berbahaya ketika disilangkan dengan layar gawai kita?

IV

Jawabannya adalah dopamin, sang molekul penghargaan dan motivasi. Saat kita menghukum pelanggar norma, bagian otak bernama striatum (tepatnya di area nucleus accumbens) langsung berpesta. Otak secara harfiah memberi kita hadiah berupa rasa nikmat karena telah menjadi "pahlawan moral". Kita sedang high atau mabuk oleh amarah kita sendiri. Menghujat orang lain tidak lagi sekadar tugas sosial, melainkan sebuah candu. Parahnya lagi, kita kini hidup di ekosistem media sosial. Algoritma raksasa teknologi sangat paham tentang celah neurologis ini. Mereka tahu betul bahwa kemarahan moral menyebar jauh lebih cepat dan mengikat perhatian lebih lama daripada konten positif. Jadi, setiap hari, lini masa menyajikan "musuh baru" untuk kita benci bersama-sama. Kita merasa sedang menegakkan keadilan dengan memviralkan keburukan seseorang, padahal secara biologis, kita hanya sekelompok pecandu yang sedang diberi dosis dopamin gratis oleh algoritma. Kita merasa suci, padahal kita sedang ketagihan.

V

Lalu, apa yang bisa kita lakukan setelah mengetahui kenyataan biologis yang sedikit memalukan ini? Tentu saja, bukan berarti kita harus apatis atau diam saja saat melihat ketidakadilan yang nyata. Kemarahan moral tetaplah instrumen yang sangat penting untuk mendorong perubahan sosial dan melawan tirani. Namun, memahami neurosains di baliknya memberi kita ruang untuk mengambil jeda. Saat kita tiba-tiba merasa panas dan jari gatal ingin ikut gerbong cancel culture, mari ambil napas sejenak. Sadari bahwa otak kita mungkin sedang mengincar sensasi dopamin murahan. Tanya pada diri sendiri: apakah komentar hujatan ini benar-benar menyelesaikan masalah, atau saya cuma ingin merasa "lebih baik" dan lebih bermoral dari orang tersebut? Pada akhirnya, menjadi manusia yang dewasa berarti mampu membedakan mana perjuangan moral yang sejati, dan mana yang sekadar pelampiasan ego biologis belaka. Mari sesekali membiarkan jari kita diam, dan membiarkan empati kita yang bekerja lebih keras.