neuroscience tentang empati kelompok

mengapa kita hanya peduli pada nasib kaum sendiri

neuroscience tentang empati kelompok
I

Pernahkah kita menyadari sebuah keanehan saat menonton berita? Bayangkan ada laporan kecelakaan bus di kota sebelah yang memakan dua korban jiwa. Hati kita langsung mencelos. Kita ikut sedih, bahkan mungkin mengirim doa. Namun, di segmen berita berikutnya, ada laporan kelaparan atau konflik bersenjata di benua lain yang memakan sepuluh ribu korban. Anehnya, respons kita sering kali datar. Kita hanya melihatnya sebagai angka statistik.

Saya dulu sering merasa bersalah akan hal ini. Apakah saya manusia yang jahat? Apakah kita semua diam-diam adalah makhluk yang apatis?

Kenyataannya, teman-teman, ini bukan soal moralitas yang rusak. Ini adalah kisah tentang bagaimana otak kita berevolusi. Kita sedang berhadapan dengan warisan purba yang bersembunyi di balik tengkorak kita sendiri. Sebuah fenomena yang membuat kita secara otomatis lebih peduli pada nasib "kaum kita sendiri". Mari kita bedah isi kepala kita bersama-sama.

II

Untuk memahami mengapa kita bersikap pilih kasih dalam berempati, kita harus mundur sekitar seratus ribu tahun yang lalu. Bayangkan nenek moyang kita hidup di padang sabana yang keras. Saat itu, kunci utama untuk bertahan hidup bukanlah seberapa cerdas atau seberapa kuat otot kita, melainkan seberapa solid kelompok kita.

Di masa itu, dunia terbagi menjadi dua kotak sederhana: in-group (kelompok kita) dan out-group (mereka yang asing). Membela in-group berarti jaminan mendapat makanan, perlindungan, dan kesempatan berkembang biak. Sebaliknya, menaruh empati berlebihan pada out-group bisa jadi kesalahan fatal. Orang asing bisa saja mencuri makanan kita atau membawa penyakit mematikan.

Evolusi pun mencatat aturan main ini ke dalam DNA kita. Otak kita dirancang untuk menjadi mesin pendeteksi "kawan atau lawan" yang sangat efisien. Kita jadi sangat sensitif terhadap kesamaan. Entah itu kesamaan warna kulit, bahasa, agama, atau bahkan sekadar kesamaan klub sepak bola idola.

Namun, yang menjadi masalah adalah, kita sudah tidak lagi hidup di sabana. Kita hidup di era modern yang sangat terkoneksi. Sayangnya, otak yang kita gunakan untuk merespons berita global di smartphone hari ini, adalah otak purba yang sama dengan yang digunakan nenek moyang kita untuk kabur dari singa.

III

Sekarang, mari kita masuk ke wilayah hard science. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam otak saat kita melihat orang lain menderita?

Para ahli neurosains menemukan bahwa ada area di otak kita yang bernama Anterior Cingulate Cortex (ACC). Area ini bagaikan alarm empati. Jika kita melihat seseorang jarinya terjepit pintu, ACC kita akan menyala terang di layar pemindai otak. Kita seolah-olah ikut merasakan ngilu. Ilmuwan menyebut ini sebagai resonansi saraf atau kerja mirror neurons.

Namun, di sinilah letak eksperimen yang bikin merinding. Ilmuwan memindai otak pendukung fanatik sepak bola saat mereka melihat seseorang disetrum ringan. Jika yang disetrum memakai seragam klub kesayangan mereka (yakni in-group), ACC mereka menyala hebat. Mereka ikut merasakan sakit.

Lalu, apa yang terjadi saat yang disetrum adalah orang yang memakai seragam klub rival (out-group)?

Alarm empati di ACC itu redup. Bahkan pada beberapa kasus, area otak lain yang terkait dengan kesenangan (reward center) justru sedikit menyala. Secara bawah sadar, otak kita terkadang justru menikmati penderitaan kelompok yang kita anggap sebagai lawan.

Ini memunculkan sebuah pertanyaan besar yang mengerikan. Jika otak kita secara biologis memang dirancang untuk rasis, bias, dan tribal, apakah kita tidak punya harapan? Apakah kita ditakdirkan untuk selamanya hanya peduli pada golongan sendiri dan mengabaikan penderitaan mereka yang berbeda?

IV

Tarik napas sebentar, teman-teman. Di sinilah letak rahasia terbesarnya. Jawabannya adalah: Tentu saja tidak.

Otak kita memang punya bias, tapi otak kita juga punya satu kemampuan super yang bernama neuroplasticity. Ini adalah kemampuan otak untuk berubah, beradaptasi, dan menulis ulang kabel-kabel sarafnya sendiri berdasarkan pengalaman dan cara kita berpikir.

Ilmuwan menemukan fakta bahwa batas antara in-group dan out-group di otak kita itu sebenarnya sangat cair dan mudah ditipu. Konsep "kaum kita" bukanlah harga mati secara genetik, melainkan ilusi psikologis yang kita ciptakan sendiri.

Bayangkan dua orang beda ras, beda agama, dan beda kelas sosial. Di jalanan, otak mereka mungkin saling menganggap satu sama lain sebagai out-group. Tapi, taruh mereka di satu stadion, pakaikan baju tim nasional yang sama, lalu biarkan tim negara mereka mencetak gol. Dalam sepersekian detik, mereka akan berpelukan sambil menangis haru.

Saat itu terjadi, otak mereka secara instan menghapus batas lama dan menarik garis batas baru. Mereka kini adalah satu "suku". ACC mereka akan saling menyala untuk satu sama lain. Kita ternyata bisa meretas sistem empati purba di otak kita sendiri!

V

Inilah mengapa belajar sejarah dan memahami sains sangatlah penting bagi kemanusiaan kita. Mengetahui bahwa secara alamiah kita punya kecenderungan bias bukanlah alasan untuk mewajarkan diskriminasi. Sebaliknya, ini adalah panggilan untuk mulai berpikir kritis.

Saat kita merasa apatis terhadap penderitaan sekelompok orang nun jauh di sana, kita kini tahu bahwa itu hanyalah trik otak purba kita yang sedang menghemat energi emosional. Kita punya kendali penuh untuk menolak trik tersebut.

Empati, teman-teman, bukanlah sekadar perasaan bawaan. Empati adalah otot. Semakin sering kita melatihnya untuk memahami sudut pandang orang yang berbeda, semakin luas pula definisi otak kita tentang siapa yang pantas disebut sebagai in-group.

Mari kita mulai bercerita tentang kisah-kisah universal kemanusiaan. Mari kita cari kesamaan di balik segala perbedaan kulit, bendera, dan kepercayaan. Otak kita mungkin dirakit di masa lalu yang penuh ketakutan, tetapi pikiran kita selalu punya pilihan untuk menciptakan masa depan yang penuh kasih sayang. Sebab pada akhirnya, di atas batu bulat yang mengapung di luasnya semesta ini, kita semua adalah satu suku yang sama.