manipulasi melalui hiburan

propaganda halus yang disisipkan dalam film blockbuster

manipulasi melalui hiburan
I

Bayangkan kita sedang duduk di bioskop. Lampu meredup. Aroma berondong jagung mentega menguar di udara. Di layar raksasa, pahlawan favorit kita baru saja melompat dari helikopter yang meledak. Jantung kita berdebar. Kita bersorak dalam hati. Di momen itu, kita merasa terhibur. Sangat terhibur. Tapi, pernahkah kita menyadari bahwa tepat saat kita merasa paling rileks, pertahanan mental kita justru sedang berada di titik paling lemah? Saat mata kita terpaku pada CGI yang memukau, sebuah ideologi mungkin saja sedang diselundupkan perlahan ke dalam kepala kita. Tanpa kita minta. Tanpa kita sadari.

II

Mari kita bongkar apa yang sebenarnya terjadi di dalam tengkorak kita saat menonton film blockbuster. Secara biologis, ledakan visual dan aksi heroik memicu pelepasan dopamine dan adrenaline. Otak kita kebanjiran senyawa kimia kesenangan. Di saat yang bersamaan, area otak yang bernama prefrontal cortex—bagian eksekutif yang bertugas untuk berpikir logis dan kritis—mulai menurunkan kewaspadaannya. Sejarah mencatat, celah psikologis ini sudah lama dipelajari. Sejak era Perang Dingin, pemerintah dan militer menyadari satu hal krusial. Cara paling efektif untuk menanamkan ide bukanlah lewat pidato berapi-api. Pidato justru membuat orang bersikap defensif. Cara terbaik adalah dengan menyembunyikan ide tersebut di balik jubah pahlawan bertopeng atau kacamata hitam agen rahasia flamboyan. Teman-teman mungkin mulai bertanya-tanya, apakah film yang kita tonton akhir pekan lalu itu murni hiburan, atau sebuah brosur propaganda bernilai ratusan juta dolar?

III

Tentu, kita merasa cukup pintar untuk membedakan mana propaganda murahan dan mana karya seni. Tapi bagaimana jika propagandanya dirancang dengan presisi psikologis yang sangat halus? Coba kita ingat-ingat lagi polanya. Kenapa dalam banyak film invasi alien, kekuatan militer selalu menjadi satu-satunya solusi yang masuk akal, sementara diplomasi selalu digambarkan sebagai kebodohan? Kenapa beberapa institusi pemerintah mendadak terlihat sangat heroik di layar lebar, tepat setelah mereka mengalami skandal hak asasi manusia di dunia nyata? Ada sebuah fenomena psikologis yang kita sebut mere-exposure effect. Semakin sering kita terpapar pada sesuatu, semakin otak kita menganggapnya wajar, akrab, dan benar. Namun, paparan gambar saja tidak cukup. Untuk bisa benar-benar mengubah cara pandang kita terhadap dunia nyata, para sineas dan pihak "sponsor" di balik layar membutuhkan satu senjata rahasia lagi. Sebuah mekanisme psikologis spesifik yang membuat kita menelan mentah-mentah realitas yang mereka tawarkan. Apa sebenarnya senjata rahasia itu?

IV

Senjata itu dalam sains kognitif disebut sebagai narrative transportation theory. Secara sederhana, ini adalah kondisi mental saat kita benar-benar "terhanyut" ke dalam sebuah cerita. Ilmuwan psikologi menemukan fakta yang mengejutkan. Ketika proses narrative transportation ini terjadi, kapasitas otak kita untuk melakukan counter-arguing (membantah argumen) langsung anjlok drastis. Kita tidak lagi mempertanyakan apakah tindakan karakter utama itu secara moral etis atau tidak. Selama kita berempati padanya, otak kita akan membenarkan kekerasannya. Inilah hard science di balik manipulasi hiburan. Dan percayalah, studio raksasa tidak bekerja sendirian. Pentagon dan CIA, misalnya, secara historis memiliki kantor penghubung khusus untuk industri hiburan. Mereka menyewakan tank, jet tempur, dan kapal induk secara gratis untuk produksi film blockbuster. Syaratnya hanya satu: mereka punya hak mutlak untuk mengedit naskahnya. Mereka memastikan institusi mereka selalu menjadi sang penyelamat. Propaganda paling sempurna adalah propaganda yang sama sekali tidak terasa seperti propaganda. Ia terasa seperti hiburan murni.

V

Saya tidak mengajak teman-teman untuk memboikot bioskop mulai hari ini. Film aksi, pahlawan super, atau fiksi ilmiah itu menyenangkan. Kita semua butuh pelarian yang seru untuk sekadar melepas penat. Saya pun masih akan membeli tiket untuk menonton film-film tersebut. Tapi, kita bisa mulai melatih apa yang disebut oleh para psikolog sebagai metacognition—kemampuan tingkat tinggi untuk menyadari proses berpikir kita sendiri. Menikmati ledakan visual di layar tidak berarti kita harus menyerahkan kunci pikiran kita begitu saja. Lain kali kita menonton film blockbuster dan mendadak merasa sangat terdorong untuk memuja sebuah institusi tempur, atau diam-diam memaklumi kekerasan terhadap kelompok tertentu, tarik napas sejenak. Tersenyumlah di dalam kegelapan bioskop itu. Sadari bahwa otak kita sedang digelitik oleh para ahli biokimia dan pencerita ulung kelas dunia. Nikmati saja popcorn dan hiburannya, tapi simpan baik-baik kemerdekaan pikiran kita di saku sendiri.