deindividuasi
sains di balik alasan orang baik bisa menjadi beringas dalam kerumunan
Pernahkah kita menyadari sebuah keanehan yang sangat dekat dengan keseharian kita? Coba bayangkan seorang teman kantor yang luar biasa sopan. Dia selalu menahan pintu lift untuk orang lain dan bicaranya sangat lembut. Tapi, coba taruh dia di stadion sepak bola saat tim kesayangannya dicurangi wasit. Atau, tempatkan dia di tengah demonstrasi jalanan yang mulai memanas. Tiba-tiba, teman kita yang ramah ini bisa ikut berteriak beringas, memaki, bahkan mungkin ikut melempar botol air mineral. Kenapa bisa begitu? Rasanya tidak masuk akal melihat orang baik-baik bisa berubah wujud menjadi sosok yang sama sekali berbeda hanya dalam hitungan menit. Kita sering menyebutnya sebagai "terbawa suasana". Tapi, benarkah sesederhana itu?
Mari kita mundur sejenak ke tahun 1976 untuk melihat sisi sejarah dan psikologinya. Saat itu, seorang psikolog bernama Edward Diener melakukan sebuah eksperimen klasik yang brilian di malam Halloween. Dia menaruh semangkuk penuh permen di ruang tamu dan diam-diam mengamati anak-anak yang datang berkunjung. Diener menemukan pola yang sangat aneh. Kalau anak-anak itu ditanya siapa namanya dan dari mana asalnya, mereka rata-rata patuh hanya mengambil satu permen. Tapi, ada kondisi kedua yang mengubah segalanya. Saat anak-anak itu datang bergerombol, memakai topeng, dan dibiarkan anonim tanpa ditanya identitasnya, moralitas mereka seolah menguap. Mereka meraup permen sebanyak-banyaknya tanpa rasa bersalah. Ada sesuatu yang hilang saat wajah kita tertutup dan kita berada di tengah keramaian. Apakah ada semacam "tombol jahat" di kepala kita yang tiba-tiba menyala?
Untuk menjawabnya, kita harus membedah isi kepala kita sendiri. Secara neurobiologis, otak kita sebenarnya sedang dibajak oleh situasi. Di tepat di belakang dahi kita, ada area yang disebut prefrontal cortex. Ini adalah pusat kendali peradaban manusia. Di sinilah logika, etika, dan rasa malu kita diproses. Sayangnya, bagian cerdas ini gampang sekali dibungkam oleh amygdala, yakni bagian otak purba yang bertugas merespons ancaman dan emosi intens. Saat kita berada di tengah kerumunan yang berteriak marah, amygdala kita menyala terang benderang. Otak mendeteksi energi massal ini sebagai sebuah urgensi. Pertanyaannya, kenapa prefrontal cortex kita tiba-tiba memutuskan untuk cuti mendadak justru saat kita paling butuh akal sehat? Apakah sekadar karena kita merasa tidak ada yang mengenali kita? Atau jangan-jangan, ada rahasia yang jauh lebih gelap tentang cara manusia bertahan hidup?
Inilah momen di mana sains memberikan jawaban yang sedikit menampar ego kita sebagai manusia yang merasa rasional. Para ilmuwan psikologi menyebut fenomena ini dengan istilah deindividuasi. Saat kita menyatu dengan kerumunan massal, identitas pribadi kita perlahan melebur dan lenyap. Kita berhenti menjadi "Budi si akuntan yang sabar" atau "Siti si guru yang lembut". Kita berubah wujud menjadi sebuah entitas baru bernama "Kita". Rasa tanggung jawab tidak lagi dipikul sendirian, melainkan terbagi rata ke ratusan atau ribuan orang di sekitar kita. Deindividuasi membuat kita merasa kebal hukum, tak terlihat, dan tak tersentuh. Sains membuktikan bahwa anonimitas dalam kerumunan benar-benar melucuti kesadaran diri kita (self-awareness). Fakta kerasnya adalah: kita tidak mendadak menjadi jahat. Kita sekadar meminjam moralitas kelompok. Kalau kelompoknya sedang marah dan merusak, kita pun ikut beringas karena otak kita merasa itu adalah norma yang baru.
Mempelajari cara kerja otak dan psikologi massa ini bukan berarti kita sedang mencari pembenaran atas tindakan anarkis. Justru sebaliknya, teman-teman. Ini adalah undangan bagi kita semua untuk berpikir kritis dan berlatih empati. Saat kita menyadari betapa rapuhnya kendali diri manusia di tengah kerumunan, kita bisa menjadi jauh lebih waspada. Lain kali kita terperangkap di tengah massa yang mulai panas, entah itu di dunia nyata atau bahkan di kolom komentar media sosial, cobalah berhenti sejenak. Ambil napas panjang. Panggil kembali nama lengkap kita di dalam hati. Sadari kembali posisi kaki kita yang berpijak di tanah. Aktifkan kembali prefrontal cortex kita. Jangan biarkan kerumunan mencuri identitas dan kemanusiaan kita. Karena pada akhirnya, menjadi manusia seutuhnya berarti berani tetap sadar dan waras, bahkan ketika semua orang di sekitar kita memilih untuk lupa.