thanatophobia
psikologi di balik rasa takut akan kematian dan kefanaan
Pernahkah kita terbangun jam dua pagi, menatap langit-langit kamar, lalu tiba-tiba disergap satu pikiran yang sangat mengganggu? Pikiran bahwa suatu hari nanti, kita tidak akan ada lagi. Kesadaran kita akan padam mutlak. Dunia akan terus berputar, orang-orang akan tetap pergi bekerja, tapi tanpa kita di dalamnya. Rasanya seperti ada ruang hampa mendadak terbuka di dalam dada kita, bukan? Tenang saja, teman-teman. Kita sama sekali tidak sendirian. Hampir semua manusia yang bernapas pernah merasakan sensasi dingin ini di tengkuk mereka. Ini bukan sekadar kecemasan biasa. Ini adalah respons paling purba yang tertanam kuat dalam sirkuit otak kita. Sebuah ketakutan tersembunyi yang secara diam-diam mengendalikan hampir semua keputusan yang kita buat dalam hidup kita sehari-hari.
Dalam dunia psikologi, ketakutan irasional yang sangat intens terhadap kematian atau kefanaan ini dikenal dengan istilah thanatophobia. Istilah ini diambil dari mitologi Yunani, Thanatos yang berarti kematian, dan Phobos yang berarti ketakutan. Secara sejarah dan evolusi biologis, ketakutan ini sebenarnya sangat masuk akal. Nenek moyang kita yang tidak takut mati mungkin sudah habis dimakan harimau purba sebelum sempat memiliki keturunan. Otak kita, secara khusus bagian amygdala, dirancang sebagai alarm pendeteksi ancaman yang luar biasa canggih. Masalahnya, seiring evolusi, kesadaran manusia ikut berkembang ke tahap yang rumit. Kita adalah satu-satunya spesies di bumi yang secara penuh sadar bahwa hidup kita memiliki batas kedaluwarsa. Benturan keras antara insting biologis untuk bertahan hidup dengan kesadaran kognitif bahwa kematian itu pasti, menciptakan sebuah konflik mental yang masif. Otak kita seperti komputer canggih yang dipaksa memproses program yang tidak bisa ia terjemahkan: ketiadaan mutlak.
Lalu, bagaimana otak kita menangani error sistem eksistensial ini? Di sinilah sains menjadi sangat menarik. Pada tahun 1980-an, sekelompok psikolog mengembangkan apa yang disebut Terror Management Theory atau TMT. Teori ini berakar dari pemikiran brilian antropolog Ernest Becker. TMT menjelaskan bahwa untuk menghindari kelumpuhan mental akibat teror kematian, manusia menciptakan penangkal-penangkal buatan. Itulah alasannya kita membangun kebudayaan yang megah. Kita mengejar jabatan yang tinggi, mengumpulkan harta benda, atau menulis buku. Kita ingin nama kita diingat sejarah. Secara psikologis, ini adalah upaya alam bawah sadar kita untuk mencari symbolic immortality atau keabadian simbolis. Kita sadar tubuh fisik kita akan hancur dan menjadi debu, jadi kita menancapkan ego kita pada hal-hal yang kita harap akan hidup lebih lama dari kita. Namun, ini memunculkan satu pertanyaan besar di kepala kita. Apakah kita benar-benar murni takut pada kematian itu sendiri, atau kita sebenarnya sedang lari dari sebuah ketakutan yang jauh lebih dalam?
Mari kita buka rahasianya. Salah satu psikiater eksistensial paling berpengaruh, Irvin Yalom, pernah mengemukakan sebuah korelasi psikologis yang rasanya cukup menampar kita. Ia menemukan bahwa kecemasan akan kematian berbanding lurus dengan seberapa banyak porsi hidup kita yang belum kita jalani. Dengan kata lain, semakin besar rasa penyesalan kita terhadap cara kita hidup saat ini, semakin besar pula ketakutan kita pada kematian. Pada dasarnya kita tidak benar-benar takut mati, teman-teman. Kita takut belum benar-benar hidup. Fakta dari demografi psikologis juga menunjukkan data yang membalikkan logika kita. Kita mungkin berpikir, semakin tua seseorang, pasti semakin takut ia pada kematian karena waktunya semakin dekat. Tapi sains berkata sebaliknya. Puncak dari thanatophobia justru terjadi pada rentang usia 20-an. Ketakutan ini mulai menurun tajam ketika manusia memasuki usia paruh baya, dan mencapai titik paling damai di usia senja. Mengapa bisa begitu? Karena mereka yang sudah menua telah memiliki waktu untuk memaknai hidup, menerima kefanaan, dan menyadari satu kebenaran mutlak. Kebenaran bahwa batas waktu itulah yang justru membuat setiap detik hidup menjadi berharga.
Jadi, saat pikiran gelap tentang kefanaan itu kembali menyergap kita di tengah malam nanti, mari kita coba ubah cara kita melihatnya. Daripada melihat kematian sebagai pencuri kejam yang akan merampas segalanya, mari kita jadikan ia sebagai pengingat yang paling jujur. Kefanaan adalah alasan mengapa segelas kopi hangat di pagi hari terasa begitu nikmat. Ia adalah alasan mengapa kita harus memeluk orang yang kita cintai sedikit lebih erat hari ini. Coba bayangkan jika waktu kita di dunia ini tidak terbatas, kita tidak akan pernah menghargai apapun. Semuanya bisa ditunda hingga besok. Menyadari bahwa kita akan mati bukanlah sebuah kutukan yang harus dihindari. Itu adalah panggilan batin terkuat untuk berhenti menunda hal-hal yang benar-benar bermakna bagi kita. Mari kita rangkul rasa takut itu, bukan dengan melarikan diri, tapi dengan memastikan bahwa saat waktu kita tiba nanti, kita tidak meninggalkan terlalu banyak kalimat "bagaimana jika" di belakang kita. Hidup kita ini memang sangat singkat, dan justru karena itulah, ia menjadi sesuatu yang luar biasa indah.