scotophobia

mengapa imajinasi kita menjadi liar saat lampu dimatikan

scotophobia
I

Pernahkah kita mematikan lampu ruang tamu pada jam dua pagi, lalu mendadak berlari kecil menuju kamar? Padahal kita tahu persis tidak ada siapa-siapa di rumah. Pintu sudah dikunci. Jendela sudah rapat. Tapi entah kenapa, saat saklar ditekan dan cahaya menghilang, kegelapan tiba-tiba terasa... hidup. Tumpukan baju di atas kursi sekilas terlihat seperti sosok yang duduk terdiam. Suara mesin kulkas berdengung layaknya langkah kaki yang mendekat. Tengkuk kita meremang. Rasanya seperti ada mata tak kasat mata yang sedang mengawasi kita dari sudut ruangan. Mengapa imajinasi kita, yang tadinya tenang-tenang saja saat terang, mendadak menjadi liar justru saat sumber cahaya menghilang?

II

Dalam dunia psikologi, rasa takut yang irasional pada kegelapan ini memiliki nama: scotophobia atau kadang disebut nyctophobia. Tapi mari kita jujur sebentar. Kita sebenarnya tidak pernah benar-benar takut pada kegelapannya itu sendiri. Yang membuat jantung kita berdebar adalah apa yang mungkin tersembunyi di dalam kegelapan tersebut. Saat lampu menyala terang, dunia di sekitar kita masuk akal. Otak kita menerima jutaan paket data visual per detik dari mata kita. Otak tahu persis mana meja, mana kursi, dan mana pintu. Namun, begitu lampu padam, aliran data itu terputus drastis. Masalahnya, otak kita sangat membenci kekosongan informasi. Jadi, apa yang dilakukannya saat ia tidak bisa melihat dengan jelas? Ia mulai mengarang cerita untuk mengisi kekosongan tersebut. Pertanyaannya, dari sekian banyak cerita indah yang bisa dikarang oleh otak kita, mengapa genre yang dipilih selalu horor?

III

Untuk menjawabnya, kita harus melakukan perjalanan melintasi waktu. Mari kita mundur ratusan ribu tahun yang lalu, ke masa di mana nenek moyang kita masih tinggal di gua atau padang sabana yang terbuka. Jauh sebelum manusia menemukan bola lampu atau membangun tembok beton, matahari terbenam adalah tanda dimulainya sebuah teror. Kita bukanlah predator puncak di malam hari. Penglihatan, pendengaran, dan penciuman manusia purba kalah jauh dibandingkan harimau bergigi pedang atau kawanan serigala yang berburu dalam gelap. Di masa yang brutal itu, nenek moyang kita yang paling berpeluang selamat adalah mereka yang selalu curiga. Kalau mereka melihat bayangan samar di semak-semak dan langsung panik mengira itu monster, mereka akan berlari dan selamat. Sebaliknya, mereka yang terlalu santai dan mengira bayangan itu cuma angin, biasanya tidak hidup cukup lama untuk mewariskan gen mereka. Pertanyaannya, apakah warisan ketakutan purba ini masih bersarang utuh di dalam kepala modern kita saat ini? Dan bagaimana tepatnya, secara biologis, otak kita "meretas" realitas saat lampu dimatikan?

IV

Jawabannya murni sains, dan ini adalah hal yang luar biasa. Semuanya berpusat pada sebuah struktur kecil berbentuk almond di otak kita yang bernama amygdala. Ini adalah pusat kendali emosi dan sistem alarm purba kita. Secara neurologis, saat mata kita kekurangan photon (partikel cahaya), visual cortex—bagian otak yang bertugas memproses penglihatan—mulai kebingungan. Karena otak kita pada dasarnya adalah mesin pembuat pola, ia tidak akan membiarkan data visual yang buram itu begitu saja. Otak akan memaksakan sebuah bentuk pada bayangan abstrak tersebut. Fenomena ini disebut pareidolia, yaitu kecenderungan psikologis di mana otak kita melihat wajah atau siluet bermakna pada pola acak. Karena insting bertahan hidup warisan leluhur kita tadi mengambil alih, visual cortex akan mengambil data dari ketakutan terdalam kita. Itulah sebabnya tumpukan baju berubah menjadi sosok mengerikan. Amygdala kita kemudian membajak logika, memompa hormon adrenalin dan kortisol ke dalam darah, mempersiapkan tubuh kita untuk mode fight or flight (bertarung atau lari). Jadi, imajinasi liar kita di malam hari bukanlah sebuah kelemahan mental. Secara biologis, itu adalah fitur keamanan bawaan tingkat tinggi. Otak kita sedang melakukan simulasi skenario terburuk agar kita tetap hidup.

V

Jadi, apa artinya semua ini bagi kita yang hidup di zaman modern? Lain kali, ketika teman-teman mematikan lampu dan merasakan dorongan tidak rasional untuk segera melompat ke kasur lalu menarik selimut menutupi kaki, jangan merasa konyol. Kita tidak sedang menjadi penakut atau kekanak-kanakan. Kita hanya sedang merasakan gema dari jutaan tahun evolusi manusia yang berdenyut di dalam DNA kita. Kegelapan memang akan selalu menyimpan misteri, dan sangat wajar jika kita merasa rentan di dalamnya. Alih-alih panik atau menyalahkan diri sendiri, mungkin kita bisa tersenyum kecil di dalam gelap. Sadari bahwa imajinasi liar, jantung yang berdebar, dan rasa takut yang tiba-tiba muncul itu adalah cara otak kita berkata, "Aku peduli padamu, dan aku sedang memastikan tidak ada bahaya yang akan melukaimu." Tarik napas yang panjang, sadari bahwa kita aman, dan biarkan pelindung purba di dalam kepala kita itu akhirnya beristirahat. Selamat tidur.