sains tentang rasa geli

mengapa digelitik memicu reaksi antara tawa dan rasa takut

sains tentang rasa geli
I

Bayangkan skenario ini. Kita sedang duduk santai, lalu tiba-tiba seorang teman atau anggota keluarga menodongkan jari-jarinya ke pinggang kita. Sebelum jari itu benar-benar menyentuh, tubuh kita sudah menegang. Lalu, serangan itu pun terjadi. Kita tertawa terbahak-bahak, bergulingan, kehabisan napas, sambil memohon, "Ampun! Tolong, berhenti!"

Pernahkah kita menyadari betapa anehnya situasi ini?

Secara visual dan audio, kita terlihat sedang mengalami kebahagiaan luar biasa. Tawa kita meledak. Namun secara psikologis dan fisik, kita sebenarnya sedang panik, merasa diserang, dan ingin segera melarikan diri. Tawa itu bukanlah tawa humor. Itu adalah reaksi otomatis yang sering kali terasa lebih dekat dengan penderitaan daripada kesenangan. Buktinya, tidak ada orang yang bangun tidur dan berpikir, "Wah, hari ini saya ingin digelitik selama satu jam penuh."

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita saat digelitik? Mengapa tubuh kita merespons ancaman fisik dengan tawa? Mari kita bedah bersama fenomena yang sangat aneh namun sangat manusiawi ini.

II

Untuk memahami keanehan ini, kita harus mulai dari sebuah eksperimen kecil yang bisa teman-teman lakukan sekarang juga. Cobalah gelitik pinggang atau ketiak Anda sendiri.

Bagaimana rasanya? Pasti tidak ada efeknya.

Otak kita memiliki satelit pemantau bernama cerebellum atau otak kecil. Bagian ini sangat ahli dalam memprediksi gerakan tubuh kita sendiri. Saat jari kita bergerak untuk menggelitik diri sendiri, cerebellum sudah mengirim memo ke seluruh otak: "Abaikan saja sentuhan ini, kita sudah tahu ini akan terjadi." Karena tidak ada unsur kejutan, tidak ada kepanikan, dan tentu saja, tidak ada tawa.

Dalam dunia sains medis, rasa geli sebenarnya dibagi menjadi dua jenis. Pertama adalah knismesis. Ini adalah rasa geli yang ringan, seperti saat ada semut merayap di kulit kita. Respons kita bukan tertawa, melainkan ingin menggaruk atau menyingkirkannya. Bahkan hewan seperti kucing dan kuda pun merasakan ini.

Jenis yang kedua adalah gargalesis. Ini adalah gelitikan yang melibatkan tekanan lebih keras pada area tertentu, dan inilah yang memicu tawa meledak-ledak. Syarat utama gargalesis? Ia harus dilakukan oleh orang lain atau sesuatu yang tidak bisa diprediksi oleh otak kita.

III

Sekarang, mari kita masuk ke wilayah yang sedikit lebih gelap. Jika gargalesis membuat kita tertawa, mengapa rasanya sangat menyiksa jika dilakukan terlalu lama?

Sepanjang sejarah, kelucuan ini ternyata memiliki sisi kelam. Pada masa Kekaisaran Romawi dan Tiongkok kuno, menggelitik telapak kaki seseorang ternyata digunakan sebagai metode interogasi dan penyiksaan. Ini adalah siksaan yang tidak meninggalkan bekas luka fisik, namun secara psikologis menghancurkan. Korban akan tertawa hingga kehabisan napas, muntah, hingga kehilangan kesadaran karena stres yang ekstrem.

Ini memunculkan sebuah tanda tanya besar. Jika rasa geli adalah sesuatu yang menyiksa, mengapa sirkuit di otak kita malah memicu reaksi tawa?

Biasanya, saat tubuh mendeteksi bahaya, kita akan merespons dengan menjerit, menangis, atau marah. Otak kita sangat efisien dalam membedakan mana kesenangan dan mana rasa sakit. Namun saat digelitik, otak kita seolah mengalami korsleting atau glitch. Garis batas antara rasa takut dan rasa senang tiba-tiba menjadi buram. Apa rahasia di balik eror biologis ini?

IV

Inilah momen di mana ilmu neurosains memberikan jawaban yang memukau.

Saat kita digelitik, pemindaian otak MRI menunjukkan bahwa korteks somatosensori (bagian otak yang memproses sentuhan) dan korteks cingulate anterior (bagian yang memproses rasa sakit dan emosi) menyala terang. Namun, ada satu bagian lagi yang ikut aktif secara brutal: hipotalamus.

Hipotalamus adalah pusat komando untuk reaksi fight-or-flight (lawan-atau-lari). Ia adalah tombol panik alami tubuh kita. Jadi, saat jari teman kita mendarat di pinggang, otak kita benar-benar mendeteksinya sebagai sebuah ancaman serangan fisik.

Coba perhatikan area mana di tubuh kita yang paling geli. Leher, ketiak, pinggang, dan telapak kaki. Dalam sejarah evolusi manusia purba, ini adalah titik-titik paling mematikan dan rentan jika kita diserang oleh predator atau musuh.

Lalu, mengapa kita tertawa? Charles Darwin dan psikiater modern sepakat pada sebuah teori evolusi: tawa saat digelitik adalah mekanisme pertahanan sosial. Sejak primata hingga manusia, menggelitik adalah cara mamalia berlatih bertarung (rough-and-tumble play) tanpa saling membunuh.

Tawa itu adalah sinyal evolusioner yang mengisyaratkan, "Ini cuma permainan, aku menyerah, jangan bunuh aku." Tawa tersebut berfungsi meredakan ketegangan sang "penyerang" agar tidak melangkah ke agresi yang sesungguhnya. Jadi, teman-teman, tawa kegelian kita bukanlah tanda bahagia. Itu adalah bendera putih biologis tanda menyerah.

V

Memahami sains di balik rasa geli memberi kita perspektif baru tentang tubuh kita sendiri. Fenomena ini adalah bukti betapa kompleksnya mesin yang kita bawa ke mana-mana ini. Sesuatu yang kita anggap sebagai candaan ringan ternyata merupakan sisa-sisa insting bertahan hidup dari jutaan tahun yang lalu.

Hal ini juga mengajarkan kita sebuah pelajaran penting tentang empati dan persetujuan (consent). Karena rasa geli pada dasarnya memicu respons panik di otak, maka saat seseorang diserang gelitikan dan mereka memohon untuk berhenti, mereka benar-benar ingin kita berhenti. Tawa yang keluar dari mulut mereka adalah respons refleksif, bukan izin untuk melanjutkan.

Pada akhirnya, menggelitik adalah tarian yang sangat aneh antara rasa percaya dan kerentanan. Kita hanya membiarkan diri kita digelitik oleh orang-orang yang membuat kita merasa aman. Di balik tawa yang dipaksakan dan tubuh yang menggeliat menghindar, ada pengakuan diam-diam bahwa kita cukup mempercayai orang tersebut untuk "menyerang" titik terlemah kita.

Sebuah keanehan neurosains yang, jika dipikir-pikir lagi, sebenarnya cukup puitis.