sains tentang merinding

biologi piloereksi sebagai respon purba terhadap ancaman

sains tentang merinding
I

Pernahkah teman-teman mendengarkan sebuah lagu yang begitu epik, sampai-sampai tanpa disadari bulu kuduk berdiri sejajar? Atau mungkin saat kita berjalan sendirian di lorong gelap, tiba-tiba kita merasakan sensasi dingin merayap perlahan di tengkuk? Kita biasa menyebutnya merinding. Ini adalah sebuah reaksi tubuh yang sangat familiar, seolah terjadi begitu saja. Tapi kalau kita pikir-pikir lagi, fenomena ini sebenarnya agak aneh. Kenapa kulit kita tiba-tiba berbintik-bintik menyerupai kulit ayam cabut bulu saat kita merasa takut, kedinginan, atau bahkan terharu? Seringkali kita hanya mengabaikannya sambil mengusap lengan. Padahal, ada misteri besar yang tersembunyi di balik bintik-bintik kecil tersebut. Mari kita bedah misteri ini bersama-sama.

II

Untuk memahaminya, mari kita lihat apa yang sebenarnya terjadi di bawah permukaan kulit kita. Dalam dunia medis dan biologi, fenomena merinding ini punya nama resmi yang terdengar cukup keren: piloerection atau piloereksi. Prosesnya begini. Di dasar setiap helai rambut atau bulu di tubuh kita, terdapat otot mungil yang disebut arrector pili. Ketika sistem saraf simpatik kita terpicu oleh sesuatu yang intens—entah itu suhu dingin yang menusuk tulang atau rasa kaget yang tiba-tiba—tubuh kita akan langsung melepaskan hormon adrenalin. Adrenalin ini bertindak seperti tombol panik darurat. Ia menyuruh otot-otot mungil tadi untuk berkontraksi atau menegang secara bersamaan. Hasilnya? Rambut-rambut halus di tubuh kita langsung berdiri tegak, menarik kulit di sekitarnya hingga membentuk bintik-bintik yang menonjol. Secara mekanis, ini sangat masuk akal. Namun, fakta ini justru memunculkan pertanyaan baru yang menggelitik. Untuk apa tubuh kita repot-repot membuang energi demi menegakkan bulu-bulu halus yang bahkan hampir tidak terlihat?

III

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus melakukan perjalanan melintasi waktu, jauh ke masa lalu sebelum peradaban ada. Coba bayangkan seekor kucing peliharaan yang tiba-tiba berpapasan dengan anjing asing. Apa yang terjadi? Kucing itu akan melengkungkan punggungnya dan seluruh bulunya akan mengembang berkat piloereksi. Bagi hewan yang berbulu lebat, menegakkan bulu memiliki dua fungsi yang sangat krusial untuk bertahan hidup. Pertama, bulu yang mengembang akan menjebak lapisan udara di dekat kulit sebagai insulasi, menjaga tubuh agar tetap hangat saat cuaca ekstrem membeku. Kedua, ini adalah trik ilusi optik purba. Dengan bulu yang berdiri tegak, seekor hewan akan terlihat jauh lebih besar dan jauh lebih menakutkan di mata predator. Nah, sekarang coba lihat lengan teman-teman. Berapa banyak bulu yang kita punya? Sangat tipis dan jarang, bukan? Secara fungsi praktis, merinding tidak membuat manusia modern menjadi lebih hangat. Merinding juga sama sekali tidak membuat kita terlihat lebih mengintimidasi saat sedang marah. Jadi, mengapa kita masih terus mewarisi respons tubuh ini? Dan yang lebih membingungkan lagi, jika ini soal ancaman dan suhu, mengapa kita sering merinding hanya karena menonton adegan film yang menyentuh hati?

IV

Di sinilah kita sampai pada rahasia besarnya. Merinding adalah apa yang oleh para ilmuwan evolusioner disebut sebagai sifat vestigial atau sisaan proses evolusi. Ia mirip dengan tulang ekor atau gigi bungsu kita. Sebuah artefak biologis dari nenek moyang purba kita yang jutaan tahun lalu masih ditutupi oleh rambut tebal yang lebat. Saat kita kedinginan atau ketakutan, tubuh kita sebenarnya sedang menjalankan program pertahanan kuno yang usang, meskipun "jaket bulu" alami kita sudah lama raib termakan evolusi. Lalu, bagaimana dengan merinding karena musik atau momen yang indah? Ilmu psikologi menyebut fenomena estetis ini sebagai frisson. Ternyata, bagian otak kita yang bertugas memproses emosi primitif, yaitu amigdala, tidak selalu bisa membedakan antara lonjakan emosi akibat ancaman bahaya dan lonjakan emosi akibat keindahan artistik yang intens. Keduanya sama-sama memicu kelebihan beban sensorik yang membanjiri tubuh dengan adrenalin. Otak kita merespons nada tinggi dari penyanyi idola kita dengan tingkat kewaspadaan yang persis sama seperti saat nenek moyang kita mendengar auman harimau di balik semak-semak. Tubuh kita bersiap untuk menghadapi bahaya mematikan, namun ironisnya, yang sebenarnya kita rasakan adalah sebuah keindahan yang mendalam.

V

Memikirkan hal ini selalu berhasil membuat saya merenung. Sensasi merinding yang selama ini sering kita abaikan ternyata adalah sebuah mesin waktu biologis yang nyata. Ia adalah benang merah tak kasat mata yang menghubungkan kita—manusia modern yang duduk nyaman sambil menatap layar gawai—dengan leluhur purba kita yang menggigil ketakutan di dalam gua yang gelap. Setiap kali bulu kuduk kita berdiri, entah karena sapuan angin malam yang dingin atau karena terhanyut oleh melodi yang syahdu, itu adalah gema dari masa lalu umat manusia yang berbicara melalui kulit kita. Sebuah pengingat manis bahwa secerdas apa pun kita telah berevolusi dan membangun peradaban, di dalam diri kita masih bersemayam insting purba yang sama. Jadi, lain kali teman-teman merasakan sensasi merinding itu merayap naik di kulit, jangan buru-buru ditepis. Tersenyumlah. Rangkul perasaan itu. Karena pada detik yang singkat itu, tubuh kita sedang menceritakan kembali sejarah panjang tentang bagaimana manusia bisa bertahan hidup.