sains tentang ketakutan akan teknologi atau technophobia

dari mesin uap hingga ai

sains tentang ketakutan akan teknologi atau technophobia
I

Pernahkah kita menatap layar laptop, melihat bagaimana kecerdasan buatan menyusun esai atau melukis gambar hanya dalam hitungan detik, lalu tiba-tiba merasakan hawa dingin merayap di tengkuk? Ada perasaan tak nyaman yang sulit dijelaskan. Sebagian dari kita mungkin berpikir, "Apakah ini akhir dari karir saya?" atau yang lebih ekstrem, "Apakah ini awal dari kiamat umat manusia?" Teman-teman, jika kita pernah merasakan hal tersebut, tenang saja. Kita tidak sendirian. Faktanya, kita sedang mengulangi sebuah siklus psikologis yang sudah terjadi berulang kali selama ratusan tahun.

Mari kita mundur sejenak ke awal abad ke-19. Saat itu, kereta api uap baru saja ditemukan. Apakah orang-orang menyambutnya dengan sorak-sorai? Tentu tidak. Akademi Kedokteran di Prancis bahkan sempat mengeluarkan peringatan serius. Mereka percaya bahwa tubuh manusia tidak dirancang untuk bergerak pada kecepatan 50 kilometer per jam. Mereka yakin bahwa organ dalam manusia akan mencair dan rahim wanita bisa terlepas dari tubuhnya karena guncangan kereta. Kedengarannya konyol bagi kita sekarang, bukan? Tapi saat itu, ketakutan tersebut sangat nyata. Fenomena ini punya nama: technophobia, atau ketakutan irasional terhadap teknologi baru. Dan anehnya, sejarah membuktikan bahwa kita selalu takut pada apa pun yang baru saja dicolokkan ke listrik.

II

Mari kita telusuri jejaknya bersama-sama. Pada era Revolusi Industri, ada kelompok pekerja di Inggris yang disebut kaum Luddite. Mereka menghancurkan mesin-mesin tenun uap di pabrik-pabrik. Banyak buku sejarah menulis mereka sebagai orang-orang bodoh yang anti-kemajuan. Padahal, jika kita telaah dengan kacamata psikologi dan sejarah, mereka bukan membenci mesinnya. Mereka membenci kenyataan bahwa mesin itu akan membuat mereka kelaparan. Mereka takut kehilangan mata pencaharian.

Lompat ke akhir abad ke-19, saat telepon pertama kali masuk ke rumah-rumah. Orang-orang takut menyentuh gagang telepon karena khawatir akan tersengat listrik sampai mati. Bahkan, ada rumor luas bahwa roh jahat bisa masuk ke dalam rumah melalui kabel telepon. Lalu di tahun 1980-an, ketika komputer pribadi mulai menjamur, muncul istilah computerphobia. Orang-orang gemetar saat harus mengetik di keyboard, takut memencet tombol yang salah dan membuat seluruh data perusahaan meledak.

Kini, giliran AI atau Artificial Intelligence yang menjadi hantu baru kita. Pertanyaannya, mengapa umat manusia seolah terjebak dalam kaset rusak yang memutar lagu ketakutan yang sama setiap kali ada penemuan baru? Apakah ini sekadar sifat bawaan kita yang kolot?

III

Untuk menjawabnya, kita harus membedah isi kepala kita sendiri. Mari berkenalan dengan amygdala, struktur kecil berbentuk almond di dalam otak kita. Amygdala adalah sistem alarm purba milik manusia. Tugas utamanya cuma satu: mendeteksi ancaman dan membuat kita bereaksi, entah itu lari atau melawan (fight or flight). Ratusan ribu tahun yang lalu, sistem ini sangat brilian. Jika ada harimau bergigi pedang bersembunyi di balik semak, amygdala akan membunyikan alarm agar kita segera kabur.

Masalahnya, perangkat keras di otak kita belum banyak di-upgrade sejak zaman batu. Saat kita berhadapan dengan teknologi baru yang bekerja secara misterius—seperti algoritma yang tiba-tiba tahu barang apa yang ingin kita beli—amygdala kita menyala. Otak kita merespons kecerdasan buatan itu sama seperti merespons ancaman predator di padang sabana.

Tentu saja, kita punya prefrontal cortex, bagian otak depan yang rasional dan logis. Bagian ini akan mencoba menenangkan kita, "Tenang, ini cuma kode komputer, bukan monster." Namun, perseteruan antara alarm purba dan logika modern ini tidak selalu dimenangkan oleh logika. Ada sebuah pemicu spesifik yang membuat pertahanan rasional kita runtuh. Ada satu hal dari teknologi yang membuat otak manusia benar-benar error. Apakah itu?

IV

Jawabannya tersembunyi dalam sebuah konsep psikologi yang disebut Intolerance of Uncertainty (IU), atau ketidaktoleranan terhadap ketidakpastian. Secara biologis, otak manusia adalah mesin pemrediksi (prediction machine). Kita merasa aman jika kita tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kita suka kendali.

Inilah alasan utama mengapa kita takut pada AI atau mesin uap di masa lalu. Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada ketidaktahuan kita tentang cara kerjanya. Bagi kebanyakan dari kita, AI adalah sebuah black box atau kotak hitam. Kita memasukkan teks, dan keajaiban pun keluar. Kita tidak melihat proses di baliknya. Otak kita membenci sesuatu yang tidak bisa ia pahami. Saat kita kehilangan pemahaman, kita merasa kehilangan kendali atas lingkungan kita. Ketidakpastian ini memicu lonjakan kortisol, hormon stres kita.

Jadi, technophobia bukanlah tanda bahwa kita tertinggal zaman atau kurang pintar. Ini adalah respons biologis yang valid. Otak kita sedang berusaha keras melindungi kita dari dunia yang tiba-tiba berubah menjadi terlalu rumit. Kita tidak takut pada Terminator atau robot jahat. Kita sebenarnya takut menjadi tidak relevan. Kita takut digantikan. Ketakutan terbesar manusia bukanlah pada mesin yang bertambah pintar, melainkan pada ketidakmampuan kita sendiri untuk beradaptasi.

V

Lalu, bagaimana kita sebaiknya menyikapi hal ini? Apakah kita harus membuang ponsel pintar kita dan kembali hidup di hutan? Tentu tidak. Kita juga tidak perlu memuja teknologi secara membabi buta. Cara terbaik untuk meredam technophobia adalah dengan obat penawarnya yang paling ampuh: rasa ingin tahu.

Dalam psikologi klinis, cara terbaik untuk mengatasi fobia adalah dengan terapi paparan (exposure therapy). Alih-alih menghindar, kita justru harus berinteraksi dengan AI. Kita pelajari cara kerjanya. Kita cari tahu batasannya. Saat kita mulai memahami bahwa AI sering kali berhalusinasi, melakukan kesalahan bodoh, dan tidak punya kesadaran, kotak hitam itu perlahan terbuka. Ketidakpastiannya menurun. Amygdala kita pun kembali tenang.

Pada akhirnya, teman-teman, teknologi hanyalah sebuah cermin. Ia memantulkan kehebatan sekaligus ketakutan terdalam umat manusia. Mesin uap tidak membuat tubuh manusia mencair, dan AI tidak akan dengan sendirinya menghancurkan kemanusiaan kita—kecuali kita mengizinkannya. Mari kita hadapi masa depan tidak dengan tangan yang gemetar, melainkan dengan pikiran yang kritis, hati yang terbuka, dan empati untuk terus belajar bersama. Karena sehebat apa pun sebuah mesin, ia tidak akan pernah bisa menggantikan kehangatan cerita yang baru saja kita bagi bersama hari ini.