psikologi rasa takut akan penolakan

mengapa ditolak terasa sakit secara fisik di otak

psikologi rasa takut akan penolakan
I

Pernahkah kita mengirim pesan panjang lebar yang dirangkai dengan penuh keberanian, lalu hanya dibalas dengan satu huruf "Y"? Atau mungkin, kita sedang menggulir layar media sosial, melihat unggahan teman-teman yang sedang asyik nongkrong sambil tertawa, dan kita menyadari satu hal yang menohok: kita tidak diajak. Saat itu terjadi, ada sensasi aneh yang menjalar di tubuh. Ada rasa sesak yang tiba-tiba mengikat dada. Perut terasa mual, dan tubuh mendadak lemas. Pertanyaannya, mengapa penolakan sosial terasa begitu nyata secara fisik? Mengapa sebuah pesan teks yang tidak dibalas atau penolakan lamaran kerja bisa membuat kita merasa seperti baru saja ditonjok di ulu hati?

II

Untuk menjawab fenomena aneh ini, kita harus memutar waktu jauh ke belakang dan melihat sejarah spesies kita sendiri. Bayangkan kita adalah manusia purba yang hidup puluhan ribu tahun lalu di kerasnya padang sabana. Secara fisik, manusia adalah makhluk yang rapuh. Kita tidak punya cakar yang tajam, kulit kita tidak sekeras badak, dan kita tidak bisa lari secepat macan tutul. Satu-satunya alasan leluhur kita bisa bertahan hidup adalah karena kita berkoloni. Kita membentuk kelompok atau suku. Pada masa itu, sendirian di alam liar sama artinya dengan menyerahkan diri pada maut. Kalau kita melakukan sebuah kesalahan sosial dan diusir dari kelompok, itu bukan sekadar rasa malu sesaat. Itu adalah vonis mati secara harfiah. Tidak ada suku berarti tidak ada makanan, tidak ada perlindungan, dan tidak ada masa depan.

III

Karena diusir berarti mati, proses evolusi harus memasang sebuah alarm darurat di dalam kepala kita. Alarm ini harus cukup menyiksa agar kita kapok dan tidak pernah lagi melakukan hal-hal yang membuat kita ditolak oleh kawanan. Masalahnya, evolusi adalah proses yang sangat pragmatis, alias malas membuat sistem baru jika sistem lama masih bisa didaur ulang. Alhasil, untuk menciptakan alarm penolakan sosial ini, otak kita meminjam sebuah jalur kabel saraf yang sudah ada. Jalur apakah itu? Tahan sebentar tebakannya. Sebelum saya menjawabnya, mari kita pikirkan sebuah pertanyaan yang terdengar sangat konyol: jika penolakan sosial terasa sakit secara fisik, mungkinkah kita menyembuhkan luka patah hati hanya dengan menelan obat sakit kepala?

IV

Jawabannya, secara mengejutkan dalam dunia sains, adalah iya. Pada awal tahun 2000-an, psikolog Naomi Eisenberger bersama timnya melakukan eksperimen jenius menggunakan pemindai otak fMRI. Peserta diminta masuk ke dalam alat pemindai dan bermain lempar bola virtual bernama Cyberball dengan dua pemain lain di layar. Di tengah permainan, dua pemain lain ini tiba-tiba berhenti mengoper bola ke peserta. Mereka sengaja mengucilkannya. Saat peserta merasa ditolak secara sosial, layar pemindai otak menunjukkan aktivitas luar biasa di satu area spesifik yang disebut anterior cingulate cortex. Tahukah teman-teman area apa itu? Itu adalah pusat pemrosesan rasa sakit fisik di otak. Area yang sama persis yang menyala seperti lampu disko ketika jari kaki kita tersandung kaki meja yang keras, atau saat kita menumpahkan kopi panas ke paha. Sains membuktikan bahwa otak kita benar-benar tidak bisa membedakan antara tulang rusuk yang patah dengan hati yang patah. Itulah mengapa, dalam beberapa studi klinis lanjutan, obat pereda nyeri fisik seperti parasetamol terbukti mampu menurunkan sedikit kadar rasa sakit akibat penolakan. Tentu saja, saya sama sekali tidak menyarankan kita memakan obat flu setiap kali lamaran cinta kita ditolak.

V

Lalu, apa gunanya kita mempelajari semua sains dan sejarah ini? Harapannya, pengetahuan ini bisa memberi kita sedikit ruang untuk welas asih pada diri kita sendiri. Sangat sering, ketika kita gagal masuk universitas impian, diabaikan oleh lingkungan, atau diputus oleh pasangan, kita menyalahkan diri sendiri karena merasa cengeng atau terlalu lemah. Padahal faktanya tidak begitu. Kita sama sekali tidak lemah. Otak kitalah yang sedang bekerja dengan sangat sempurna. Ia sedang menyalakan alarm purba untuk melindungi kita agar tetap hidup. Namun realitasnya, hari ini kita tidak lagi hidup di padang sabana. Ditolak oleh satu orang, satu perusahaan, atau satu kelompok pertemanan tidak akan membuat kita dimakan harimau di malam hari. Kita tidak akan mati hanya karena patah hati. Jadi, lain kali jika rasa takut akan penolakan itu datang menghantam dada, tariklah napas dalam-dalam. Sadari bahwa rasa sakit itu hanyalah artefak evolusi yang sedang berteriak mencari perhatian. Kita diizinkan untuk merasa sakit dan menangis, tapi ingatlah satu hal: dunia ini luas, dan kita selalu punya waktu untuk menemukan suku baru yang akan menyambut kita dengan tangan terbuka.