psikologi horor analog

mengapa video kualitas rendah terasa lebih menyeramkan bagi otak

psikologi horor analog
I

Pernahkah kita begadang malam-malam, scrolling media sosial, lalu tiba-tiba algoritma menyuapi kita sebuah video yang aneh? Kualitasnya buram, suaranya mendengung seperti kaset rusak, dan visualnya penuh semut layaknya TV tabung zaman dulu. Tidak ada monster bergigi tajam yang melompat ke layar. Tidak ada darah. Tapi entah kenapa, bulu kuduk kita merinding luar biasa. Rasa tidak nyamannya menempel lengket sampai kita mau memejamkan mata. Mengapa video dengan kualitas serendah itu justru terasa lebih meneror mental kita dibandingkan film horor bioskop beresolusi 4K? Mari kita duduk santai dan membedah fenomena aneh ini bersama-sama.

II

Belakangan ini, internet sedang keranjingan sebuah sub-genre yang disebut analog horror. Teman-teman mungkin pernah melihatnya secara tidak sengaja. Video-video ini sengaja dibuat agar terlihat seperti arsip tua dari era VHS, kaset camcorder, atau siaran darurat televisi tahun 80-an. Secara logis, kita sadar sepenuhnya bahwa video itu cuma fiksi. Kita tahu itu sekadar editan komputer masa kini. Tapi anehnya, otak primitif kita meresponsnya seolah-olah itu adalah ancaman yang nyata dan mengintai. Sejarah evolusi manusia sebenarnya punya andil besar di sini. Nenek moyang kita bertahan hidup di alam liar bukan karena mereka berani luar biasa, tapi justru karena mereka sangat waspada terhadap hal-hal yang tidak jelas. Saat malam tiba dan jarak pandang terbatas, bayangan semak-semak yang samar bisa jadi adalah seekor macan tutul atau ular berbisa. Otak yang panik dan memilih kabur akan bertahan hidup mewariskan gennya kepada kita. Sebaliknya, otak yang santai-santai saja saat melihat kesamaran, ya, berujung jadi makan malam predator.

III

Tapi pertanyaannya, apa hubungannya insting bertahan hidup purba ini dengan video buram di layar ponsel pintar kita? Kalau memang bahaya yang terlihat jelas itu menakutkan, bukankah seharusnya CGI monster beresolusi super tinggi jauh lebih membuat kita menjerit? Kenapa justru ketiadaan detail pada video bergaya kaset rusak itu yang membuat debar jantung kita tidak beraturan? Ada sebuah celah misterius dalam cara kerja sistem saraf kita. Celah ini terbuka sangat lebar ketika mata kita dipaksa melihat sesuatu yang rusak, cacat, dan terdistorsi. Sesuatu yang diam-diam memaksa otak kita bekerja lembur untuk mengisi bagian-bagian yang kosong.

IV

Di sinilah sains masuk dan memberikan jawaban yang cukup membuat kita merenung. Saat kita melihat video analog horror yang penuh noise, distorsi visual, atau bintik statis, bagian otak kita yang bernama amigdala langsung menyala terang. Amigdala ini adalah alarm sistem keamanan utama tubuh kita. Masalahnya, kualitas video yang buruk menciptakan apa yang disebut dalam psikologi sebagai ambiguity atau ambiguitas. Karena resolusinya rendah dan gambarnya bergetar, informasi visual yang masuk ke mata kita menjadi tidak lengkap. Nah, otak manusia itu sangat, amat membenci informasi yang tidak lengkap. Otak kita dirancang secara alami sebagai mesin pencari pola. Ketika dihadapkan pada kekosongan detail, otak tidak akan tinggal diam. Ia akan menggunakan fenomena psikologis bernama pareidolia. Ini adalah kecenderungan otak untuk melihat pola bermakna, seperti wajah manusia atau sepasang mata, pada benda mati atau gambar yang acak. Dalam kasus video buram, amigdala kita yang sudah terlanjur panik akan memaksa otak berusaha keras menebak apa yang bersembunyi di balik bayangan gelap atau statis TV tersebut. Karena sedang dalam mode terancam, otak kita mengambil memori terburuk kita, ketakutan terpendam kita, dan memproyeksikannya langsung ke layar. Jadi, monster yang menakutkan itu sebenarnya bukanlah apa yang ada di dalam video. Monsternya adalah ciptaan otak kita sendiri. Kualitas buruk dari video itu sekadar memberikan kanvas kosong bagi pikiran kita untuk melukiskan ketakutan tergelap kita sendiri.

V

Menyadari mekanisme biologis ini membuat saya berpikir lebih jauh. Terkadang, hal yang paling menakutkan dalam hidup bukanlah hal-hal yang terlihat jelas, pasti, dan ada di depan mata. Seringkali, ketakutan terbesar kita lahir justru dari ketidakpastian. Dari informasi yang kita terima setengah-setengah. Dari teka-teki masa depan yang masih buram dan belum jelas resolusinya. Kita sama-sama manusia yang otaknya dirancang untuk mudah cemas demi bisa bertahan hidup di dunia yang keras ini. Jadi, wajar saja kalau teman-teman merasa merinding saat melihat sudut ruang yang gelap atau menonton video analog horror yang buram. Itu bukan berarti kita penakut atau lemah. Itu justru bukti nyata bahwa otak kita berfungsi dengan sangat baik dan sedang berusaha melindungi kita dari bahaya yang tak kasat mata. Mungkin, malam ini saat kita mematikan lampu kamar, kita bisa menarik napas panjang dan tersenyum kecil. Kita tahu bahwa bayangan samar yang tampak menakutkan di sudut ruangan itu tidaklah nyata. Itu hanyalah otak kita yang sangat peduli pada kita, sedang berusaha sedikit terlalu keras untuk menjaga kita tetap aman.