neuroscience trauma
bagaimana rasa takut masa lalu tersimpan secara fisik di otak
Pernahkah kita tiba-tiba merasa jantung berdebar kencang hanya karena mencium aroma parfum tertentu? Atau mendadak keringat dingin saat mendengar nada dering spesifik di tempat umum? Secara logika, kita tahu bahwa saat itu kita sedang aman. Kita sedang minum kopi atau duduk tenang di kereta. Tapi tubuh kita bereaksi seolah ada harimau purba yang siap menerkam. Saya sering memikirkan hal ini. Kenapa masa lalu yang sudah selesai, kadang masih menumpang hidup di tubuh kita hari ini? Mari kita mundur sejenak ke masa lalu nenek moyang kita untuk memahami fenomena yang sangat manusiawi ini.
Ribuan tahun lalu, otak manusia didesain dengan satu tujuan utama: bertahan hidup. Di dalam kepala kita, tepatnya di atas batang otak, ada struktur kecil sebesar kacang almond yang bernama amygdala. Anggap saja bagian ini sebagai alarm kebakaran internal kita. Saat nenek moyang kita melihat semak-semak bergoyang, amygdala langsung menyalakan alarm bahaya. Sistem ini sangat efisien dan berhasil menyelamatkan spesies kita dari kepunahan. Namun, di dunia modern saat ini, bentuk ancamannya sudah berubah drastis. Bukan lagi harimau atau beruang, melainkan bentakan atasan yang toxic, kecelakaan lalu lintas, pengabaian di masa kecil, atau kehilangan yang traumatis. Masalahnya, amygdala kita tidak peduli dengan perbedaan konteks itu. Bagi otak prasejarah kita, ancaman adalah ancaman. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita ketika alarm ini menyala terlalu keras dan terlalu lama akibat trauma?
Di sinilah ceritanya menjadi sedikit rumit sekaligus menarik. Dalam kondisi normal, setelah ancaman pergi, ada bagian otak lain bernama hippocampus yang bertugas memberi stempel waktu. Ia bekerja seperti petugas arsip yang berkata, "Oke, bahaya sudah lewat, ini kejadian tahun 2015, masukkan ke laci memori." Bersamaan dengan itu, prefrontal cortex atau bagian logis di dahi kita, akan menenangkan keadaan tubuh. Namun, trauma mengubah aturan main ini. Saat kita mengalami ketakutan yang luar biasa atau kronis, sistem arsip ini error. Hormon stres membanjiri otak dan membuat hippocampus gagal memberikan stempel waktu pada kejadian tersebut. Akibatnya, memori buruk itu tidak tersimpan rapi di laci masa lalu. Ia melayang-layang berantakan tanpa konteks waktu. Inilah alasan kenapa sebuah pemicu kecil bisa membuat kita merasa sedang mengalami kembali momen mengerikan itu. Otak kita tidak tahu bahwa kejadian itu sudah berlalu. Pertanyaannya, jika secara logis kita tahu masa lalu sudah usai, di mana sebenarnya ketakutan itu bersembunyi?
Jawabannya mungkin akan mengubah cara teman-teman memandang diri sendiri selama ini. Ketakutan itu tidak sekadar mengendap sebagai "perasaan" atau sesuatu yang cuma ada "di dalam pikiran". Trauma tersimpan secara fisik dalam arsitektur otak dan tubuh kita. Ilmu neuroscience modern menemukan fakta bahwa trauma secara harfiah mengubah rute kabel saraf di dalam kepala kita. Jaringan sel otak yang mendeteksi bahaya menjadi jauh lebih tebal dan sensitif. Sebaliknya, jalur saraf menuju bagian otak logis justru menyusut. Trauma bukanlah kelemahan mental. Trauma adalah perubahan anatomi dan cedera fisik pada sistem saraf. Seorang ahli psikiatri bernama Bessel van der Kolk merangkumnya dengan sangat indah lewat konsep the body keeps the score. Tubuh kita menyimpan skornya. Otot kita menegang secara kronis tanpa kita sadari, pola detak jantung kita berubah, dan sistem imun kita terpengaruh. Rasa takut masa lalu itu dicetak tebal ke dalam biologi kita, membuat tubuh kita terus bersiap menghadapi perang yang sebenarnya sudah lama usai.
Terdengar menakutkan dan melelahkan? Awalnya mungkin iya. Tapi, buat saya, menyadari fakta sains ini justru sangat membebaskan. Jika kita tahu bahwa reaksi berlebihan, overthinking, atau rasa panik kita adalah akibat dari perubahan fisik di otak, kita bisa berhenti menyalahkan diri sendiri. Kita tidak gila dan kita tidak lemah. Kita hanya memiliki sistem saraf yang sedang berusaha keras melindungi kita. Kabar baiknya, sains juga membawa harapan. Otak manusia memiliki sifat neuroplasticity. Artinya, otak kita itu seperti tanah liat, ia plastis, bisa dibentuk dan dipulihkan kembali. Lewat terapi yang aman, teknik regulasi pernapasan untuk menenangkan saraf, atau sekadar berada di pelukan orang yang kita percaya, kita perlahan bisa mengajari amygdala kita untuk kembali tenang. Kita bisa membangun rute kabel saraf yang baru. Memori buruk itu mungkin tidak akan pernah terhapus dari riwayat hidup kita, namun tubuh kita tidak harus selamanya menjadi tawanan dari masa lalu. Mari kita sama-sama belajar untuk lebih berempati pada diri sendiri, karena menyembuhkan arsitektur otak tentu butuh waktu, dan kita semua berhak mendapatkan waktu itu.