neuroscience placebo rasa takut

bagaimana pikiran bisa menciptakan rasa sakit tanpa luka fisik

neuroscience placebo rasa takut
I

Tahun 1995, sebuah jurnal medis bergengsi di Inggris mencatat salah satu kasus paling aneh dalam sejarah kedokteran modern. Seorang kuli bangunan berusia 29 tahun melompat turun dari perancah dan mendarat tepat di atas paku baja sepanjang 15 sentimeter. Paku itu menembus sol sepatu botnya hingga tembus ke atas. Pria itu menjerit sejadi-jadinya. Rasa sakitnya begitu luar biasa sampai-sampai ia harus diberi obat penenang kuat, fentanyl, sesampainya di ruang gawat darurat.

Para dokter dan perawat bergerak cepat. Dengan sangat hati-hati, mereka memotong sepatu bot baja tersebut dari kakinya. Namun, begitu sepatu itu terbelah, seisi ruangan terdiam.

Paku itu tidak menyentuh kulitnya sama sekali. Paku baja tersebut hanya menyelip dengan rapi di antara dua jari kakinya. Pria itu tidak mengalami luka fisik, bahkan tidak ada goresan kecil sekalipun. Namun, pertanyaannya adalah: dari mana datangnya jeritan dan rasa sakit yang menyiksa itu? Apakah ia berbohong? Apakah ia hanya mencari perhatian? Jawabannya jauh lebih kompleks, dan jujur saja, sedikit menyeramkan. Pria itu tidak berbohong. Ia benar-benar merasakan sakit yang luar biasa. Pikirkannya sendirilah yang menciptakan rasa sakit itu dari ketiadaan.

II

Pernahkah kita merasa perut mulas luar biasa atau kepala berdenyut kencang tepat di malam sebelum wawancara kerja yang penting? Secara fisik, tubuh kita sehat-sehat saja. Namun rasa sakitnya begitu nyata. Kasus kuli bangunan dan perut mulas yang kita alami ini bersumber dari satu fenomena psikologis yang sama.

Teman-teman pasti sudah sering mendengar tentang efek placebo. Itu adalah momen ketika kita menelan pil gula, tetapi karena kita percaya itu adalah obat penahan sakit, tubuh kita tiba-tiba merasa lebih baik. Nah, efek placebo ini ternyata punya saudara tiri yang jahat. Namanya adalah efek nocebo.

Jika placebo menyembuhkan kita lewat harapan positif, nocebo menghancurkan kita lewat ketakutan. Saat kita berekspektasi bahwa sesuatu akan menyakiti kita, tubuh kita akan bersiap-siap dengan menciptakan rasa sakit itu sendiri. Ini bukan sekadar sugesti murahan. Ketakutan yang kita pelihara di dalam pikiran secara perlahan berubah menjadi realitas fisiologis di dalam tubuh. Namun, bagaimana mungkin pikiran yang tidak berwujud bisa melukai tubuh yang padat ini?

III

Untuk memahaminya, kita harus mundur sedikit dan melihat sejarah evolusi kita. Coba bayangkan nenek moyang kita ratusan ribu tahun yang lalu, sedang berjalan di padang sabana Afrika. Tiba-tiba, ia mendengar suara gemerisik di semak-semak.

Otaknya harus membuat keputusan dalam hitungan milidetik. Pilihan pertama: mengabaikannya dan menganggap itu cuma angin. Pilihan kedua: membayangkan skenario horor bahwa ada harimau purba di sana, lalu segera lari ketakutan. Secara evolusioner, manusia yang memilih opsi kedua punya peluang hidup lebih panjang. Otak kita didesain untuk menjadi pesimis dan penuh ketakutan, karena ketakutan adalah mekanisme pertahanan hidup yang paling mumpuni.

Masalahnya, sistem alarm purba ini masih terbawa sampai sekarang. Otak kita sangat suka berasumsi dan menebak-nebak bahaya. Tapi di sinilah misteri terbesarnya muncul. Saat otak kita membayangkan bahaya—seperti melihat paku menembus sepatu—apakah otak hanya sekadar memberi peringatan palsu? Atau jangan-jangan, otak kita secara literal menyiram tubuh kita dengan bahan kimia yang menciptakan rasa sakit yang sesungguhnya?

IV

Mari kita bedah apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita. Fakta yang jarang kita sadari adalah: otak kita terkurung di dalam tengkorak yang gelap gulita. Otak tidak bisa melihat, mendengar, atau menyentuh dunia secara langsung. Otak hanya menerima sinyal listrik dari mata, telinga, dan kulit, lalu menebak apa yang sedang terjadi di luar sana. Konsep ini dalam neuroscience disebut sebagai predictive coding.

Saat mata kuli bangunan tadi melihat paku menembus sepatunya, sinyal visual itu langsung masuk ke amygdala, yaitu pusat ketakutan di otak. Karena otaknya menebak bahwa dagingnya telah tertembus, otak tidak mau menunggu laporan rinci dari saraf kaki. Itu terlalu lama. Otak langsung mengambil jalan pintas dengan menyalakan pain matrix atau jaringan rasa sakit di otak, yang melibatkan area anterior cingulate cortex dan insula.

Lebih gilanya lagi, rasa takut yang intens itu memicu pelepasan hormon bernama cholecystokinin (CCK). Hormon ini berfungsi sebagai penguat volume rasa sakit. Jadi, tanpa ada jaringan tubuh yang robek sedikitpun, otak sudah menyalakan sirkuit rasa sakit dengan volume maksimum. Secara neurologis, rasa sakit yang dialami pria itu 100% nyata. Hasil scan otak pada pasien yang mengalami efek nocebo menunjukkan bahwa area rasa sakit di otak mereka menyala sama terangnya dengan orang yang benar-benar ditikam pisau. Pikirannya tidak membohongi rasa sakit; pikirannya menciptakan rasa sakit itu sendiri.

V

Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari sistem otak yang luar biasa sekaligus merepotkan ini? Sering kali, saat ada teman atau keluarga yang mengeluh sakit secara psikosomatis karena stres atau cemas, kita dengan gampang berkata, "Ah, itu kan cuma di pikiranmu saja."

Secara teknis, kalimat itu benar. Namun secara empati, kalimat itu keliru besar. Karena sains telah membuktikan bahwa semua rasa sakit pada akhirnya memang diproses di pikiran kita. Baik rasa sakit itu dipicu oleh luka bakar sungguhan, atau oleh ketakutan ekstrem yang diproduksi oleh kecemasan, penderitaannya tetaplah nyata.

Pemahaman ini seharusnya tidak membuat kita merasa tak berdaya, melainkan sebaliknya. Jika pikiran kita memiliki kekuatan yang begitu masif untuk menciptakan rasa sakit tanpa luka, bayangkan kekuatan apa yang kita miliki jika kita bisa mengendalikan ketakutan tersebut. Lain kali kita dihadapkan pada rasa panik, cemas, atau sakit yang tak beralasan, kita bisa berhenti sejenak. Kita bisa mengambil napas panjang dan bertanya pada diri sendiri: "Apakah ancaman ini nyata, atau otakku yang luar biasa ini sedang menulis naskah film horornya sendiri?" Memahami cara kerja ketakutan adalah langkah pertama kita untuk tidak lagi dijajah olehnya.